Sunday, 25 August 2019

Cipta

Ruh
demi ruh
Ia pintal.
Lantas dimasukkannya
ke dalam kuali panas.
Air bergolak,
asap membumbung
tinggi sekali.
Ia ingin mengaduk
nasib
Memasak kehidupan.

Saturday, 24 August 2019

Aamiin

Aku ingin ketika aku bangun tidur dan membuka mata, ia telah ada di sampingku, memelukku dengan dekapan hangat. Dan ada kejujuran dan maaf. Maka satu hal ketika aku melihatnya adalah memeluknya sambil berkata, "Kau sudah pulang. Jangan pergi lagi. Kita mulai lagi dari terakhir kali hal menyenangkan dilakukan."

Itulah saat aku melihat semuanya telah kembali. Aku kan menciumnya tanpa henti, sampai senyum menyimpulkan rasa bahagia.

Kuyakin harapanku takkan sulit untuk Tuhan kabulkan. Aku percaya mukjizat selalu datang di titik hidup paling ekstrim. Seperti saat sebelum aku tidur. Maka, Tuhan, ijabahlah. Ijabahlah keinginanku. Perjalanan sudah terlalu berdarah, saatnya kuseka untuk kembali berjalan.

Aamiin.

Aamiin.

Tuesday, 20 August 2019

Sadrah II

Berapa lama lagi aku kan dirajam petaka? Berapa banyak lagi ujian kan menghantam? Segalanya datang berlipat ganda. Segalanya mengadukku jadi sia-sia.

Kalau esok kematian mengetuk dahiku, kuharap batu nisan tak sungguh rampung dibuat. Bila pusara sudah barang tentu hadiah, maka kuucapkan pada diriku sebuah tahniah.

Monday, 19 August 2019

Ihwal

Selalu ada cara untuk agar menjadi tidak bijaksana. Pun selalu ada cara untuk menjadi lebih goyah dari hari kemarin. Manusia bisa menjadi sangat lemah oleh keadaan.

Aku menyedihkan. Kau jauh lebih menyedihkan lagi. Itu sebabnya aku menangisi keduanya. 

Sepanjang hari.

Thursday, 15 August 2019

Isak

Masa depan masih suci 
belum terjamah. 
Kenangan selalu mempenetrasinya 
diam-diam. Jalan menuju ke sana 
kerap legam. Dan 

tangisan-tangisan sudah sulit 
tak terelakkan.

Wednesday, 14 August 2019

Karsakama

Kau menjadi bulan. Menunggangi siang dan malam. Mengulurkan lenganmu untuk aku tidur di sepanjang ketenangan.

Kau ibu bumi. Keputusan alam yang tak dijamah sudah milikmu semata. Mata air mengalirkan air mata. Menghanyutkan aku tanpa bermuara.

Kau menjadi jagat raya. Meluas hamparan pada aku setitik. Menempatkan seluruh perasaan serta kehampaan ini.

Kau pecahan mutiara yang menangis di hadapan agungnya Tuhan, merekah dan pecah menjadi asal mula kehidupan ini.

Kau mestinya aku. Mencintaimu sama dengan mencintai diriku.

Sunday, 11 August 2019

Menerkam Pesan

Adakah kauterima pesan dariku? Tentang salam dan berdarah-berdarah aku dalam perjalanan ini. Kakiku sama patahnya dan kehidupan memaksaku berlari mengejar yang sunyi. Adakah kau dengar bunyi? Sebuah seret langkah yang seok. Tersengal-sengal tanpa setetes pun air darimu--semakin kering saja dunia ini.

Aku hanya kaca yang tak mampu memantulkan bayangan diriku. Aku hanya pecahan beling yang menginjak diri sendiri. Tajamnya, pedihnya, menyayat ayat-ayat yang tak sempat kita baiat. Banyak yang tak tersampaikan wahyunya bahkan jika hanya sekadar mengetuk pintu kita.

Di sela-sela huruf yang rimbun, mata kata mengintai kita. Sajak seharusnya sejuk. Sejak lidah makin majemuk. Tanda tanya menjahit setiap pertanyaan. Benang-benang itu harusnya kita pintal menjadi percakapan. Menjadi pesan. Menjadi kesan. Menjadi kiasan. Menjadi kesedihan.

Maka terimalah pesanku, meski hanya kaubaca. Dengan begitu kutahu masih ada jalan untuk aku merangkak ke lumbung pesanmu.

Sunday, 4 August 2019

Sadrah

Bagaimana aku tak menyerah dengan keadaan sementara yang ada bersama udara adalah matamu. Selalu menatap ke dalam hatiku, menusuk-nusuk aku yang menjadi sesak kemudian.

Bayangmu terperangkap dalam wewangian. Dan udara subuh menguarkan dinginnya, bersetubuh dengan aromamu. Aku terbaring membayangkan jasadku berdiri. Mendengar kumandang adzan yang mengukur seberapa kuat malam telah menahanku. Aku tiada lagi tersisa dari pikiran ini.

Jika harus berakhir, biarkan aku memulai lagi dari awal. Menjadi remuk, kemudian sembuh lagi untuk kembali diremukkan.

Thursday, 1 August 2019

Pertimbangan

Dua puluh menit lagi kereta tiba: yang membawamu ke tumpuanku dari musim ke musim. Layar harapan bergerak bebas. Sebab ku tak tahu apalagi yang hendak kulukis pada bentangnya. Napasmu di antara dahan tubuhku telah lama ada dalam peti. Kini kubuka dan kubebaskan untuk menemuimu--atau kau datang untuk itu.

Kereta sudah tiba. Kucari di antara puing kerumunan: sisa-sisa kepergian dan kedatangan. Dalam riuh-rendah suara-suara, ada benak manusia yang kosong melompong seperti peta gurun: luas tak berima, lapang tak terjamah.

Kutelisik bait sepatu, satu demi satu. Dan kau menepi di balik kantukmu yang melelahkan. Apa gerangan yang membawamu begitu lunglai. Lihai bersama diam dan tanpa berisik sama sekali. Ikuti aku. Bagaimanapun, aku menerimamu dalam keadaan apa pun. Masih ada sinyal yang dipancarkan dari teguhnya aku.