Tuesday, 15 October 2019

Puisi Kamu I

Mereka datang lagi,
menemuimu untuk memberi
bingkisan.

Dingin melipir dan perut
ditawar lapar.
Debu hangus dan kota
dibasuh tuntas.
Roda mobil kegirangan,
melaju laun menerobos petang.
Adakah hari esok dicipta
merdu gemericik?
Seperti hari ini.
Ya, hari ini.

Saturday, 21 September 2019

Pengakuan

Aku ingin menetas
kembali
menjadi aku.

Tuesday, 17 September 2019

Bimbang Bercabang Bak Ranting

Di belakang matamu, yakni samar tak terungkap, sebuah jendela berdebu bersedia mengintai masa lalu. Kenyataan butuh ditubuhi sebab penglihatan perlu diyakinkan. Perayaan pecah merekah-rekah menjadi basah di pipimu. Dari mata: kesanggupan untuk menyikapi airnya setelah menelusuri peta rencana yang dihapus jalannya.

Kemungkinan-kemungkinan kemudian berkembang dengan sendirinya terlebih pada saat-saat genting. Hati berpetuah sebagai ibukota yang siap berpindah. Kapan saja, siap atau tidak. Pusat risau ada pada titik kehidupan yang paling rendah. Manufaktur air mata ini bertukar melalui selat diri dengan diri yang lain.

Tak kau mengertikah semua perkataan ini? Ya, kebimbangan selalu membentuk lebih aktif daripada penyelesaian.

Wednesday, 11 September 2019

Selebrasi Sepi

Tiada. Tiada.
Eksistensialisme ketiadaan
adalah nyata adanya
sedang semu barangnya,

lagi pun hanya sekadar
namun bukan tak berkadar.
Jika ketiadaan
batas dari nihilisme,
yang bergerak akan
menjadi kalimat-kalimat

sunyi.

Tiada. Tiada.
Suara samar-samar
bunyi kadaluarsa,
milik manusia yang
terpahat dadanya, juga jiwanya.
Televisi,
harus banyak direvisi
agar ketika kamar sepi,
ia tahu bagaimana

berselebrasi.

Pun

Siapa pun yang ingin menghapusku takkan mampu, sedikit pun. Siapa pun yang ingin melukiskan aku, takkan ada mampu. Pun aku telah membuat benteng yang bahkan tak mungkin disentuh. Namun siapa juga yang akan melakukan itu padaku?

Tuesday, 3 September 2019

Sekadar Cacatan

Aku bisa menerima bahwa perjalanan ini telah mengubahku. Dalam pencarian jati diri yang luar biasa berkelok untuk diarungi, aku menemukan banyak hal untuk diceritakan bersama. Waktu telah membawaku sampai sekarang, di mana semua ini memiliki berbagai macam pilihan. Namun terkadang, aku merasa hidup sedikit tak adil ketika pada akhirnya waktu-waktuku pun direnggut kenyataan.

Meski, aku tahu, perjalanan panjang akan mempertemukanku dengan orang banyak dan kisahnya tersendiri. Sampai saat ini, aku tak pernah lagi membuka diri untuk pertemanan baru. Kalaupun iya, mereka hanya sebatas kenal saja, dan aku belum berminat untuk tau dan memberi tahuku lebih dalam. Barangkali hanya obrolan-obrolan, namun tak sampai pada kehidupan yang sangat pribadi.

Sunday, 25 August 2019

Cipta

Ruh
demi ruh
Ia pintal.
Lantas dimasukkannya
ke dalam kuali panas.
Air bergolak,
asap membumbung
tinggi sekali.
Ia ingin mengaduk
nasib
Memasak kehidupan.

Saturday, 24 August 2019

Aamiin

Aku ingin ketika aku bangun tidur dan membuka mata, ia telah ada di sampingku, memelukku dengan dekapan hangat. Dan ada kejujuran dan maaf. Maka satu hal ketika aku melihatnya adalah memeluknya sambil berkata, "Kau sudah pulang. Jangan pergi lagi. Kita mulai lagi dari terakhir kali hal menyenangkan dilakukan."

Itulah saat aku melihat semuanya telah kembali. Aku kan menciumnya tanpa henti, sampai senyum menyimpulkan rasa bahagia.

Kuyakin harapanku takkan sulit untuk Tuhan kabulkan. Aku percaya mukjizat selalu datang di titik hidup paling ekstrim. Seperti saat sebelum aku tidur. Maka, Tuhan, ijabahlah. Ijabahlah keinginanku. Perjalanan sudah terlalu berdarah, saatnya kuseka untuk kembali berjalan.

Aamiin.

Aamiin.

Tuesday, 20 August 2019

Sadrah II

Berapa lama lagi aku kan dirajam petaka? Berapa banyak lagi ujian kan menghantam? Segalanya datang berlipat ganda. Segalanya mengadukku jadi sia-sia.

Kalau esok kematian mengetuk dahiku, kuharap batu nisan tak sungguh rampung dibuat. Bila pusara sudah barang tentu hadiah, maka kuucapkan pada diriku sebuah tahniah.

Monday, 19 August 2019

Ihwal

Selalu ada cara untuk agar menjadi tidak bijaksana. Pun selalu ada cara untuk menjadi lebih goyah dari hari kemarin. Manusia bisa menjadi sangat lemah oleh keadaan.

Aku menyedihkan. Kau jauh lebih menyedihkan lagi. Itu sebabnya aku menangisi keduanya. 

Sepanjang hari.

Thursday, 15 August 2019

Isak

Masa depan masih suci 
belum terjamah. 
Kenangan selalu mempenetrasinya 
diam-diam. Jalan menuju ke sana 
kerap legam. Dan 

tangisan-tangisan sudah sulit 
tak terelakkan.

Wednesday, 14 August 2019

Karsakama

Kau menjadi bulan. Menunggangi siang dan malam. Mengulurkan lenganmu untuk aku tidur di sepanjang ketenangan.

Kau ibu bumi. Keputusan alam yang tak dijamah sudah milikmu semata. Mata air mengalirkan air mata. Menghanyutkan aku tanpa bermuara.

Kau menjadi jagat raya. Meluas hamparan pada aku setitik. Menempatkan seluruh perasaan serta kehampaan ini.

Kau pecahan mutiara yang menangis di hadapan agungnya Tuhan, merekah dan pecah menjadi asal mula kehidupan ini.

Kau mestinya aku. Mencintaimu sama dengan mencintai diriku.

Sunday, 11 August 2019

Menerkam Pesan

Adakah kauterima pesan dariku? Tentang salam dan berdarah-berdarah aku dalam perjalanan ini. Kakiku sama patahnya dan kehidupan memaksaku berlari mengejar yang sunyi. Adakah kau dengar bunyi? Sebuah seret langkah yang seok. Tersengal-sengal tanpa setetes pun air darimu--semakin kering saja dunia ini.

Aku hanya kaca yang tak mampu memantulkan bayangan diriku. Aku hanya pecahan beling yang menginjak diri sendiri. Tajamnya, pedihnya, menyayat ayat-ayat yang tak sempat kita baiat. Banyak yang tak tersampaikan wahyunya bahkan jika hanya sekadar mengetuk pintu kita.

Di sela-sela huruf yang rimbun, mata kata mengintai kita. Sajak seharusnya sejuk. Sejak lidah makin majemuk. Tanda tanya menjahit setiap pertanyaan. Benang-benang itu harusnya kita pintal menjadi percakapan. Menjadi pesan. Menjadi kesan. Menjadi kiasan. Menjadi kesedihan.

Maka terimalah pesanku, meski hanya kaubaca. Dengan begitu kutahu masih ada jalan untuk aku merangkak ke lumbung pesanmu.

Sunday, 4 August 2019

Sadrah

Bagaimana aku tak menyerah dengan keadaan sementara yang ada bersama udara adalah matamu. Selalu menatap ke dalam hatiku, menusuk-nusuk aku yang menjadi sesak kemudian.

Bayangmu terperangkap dalam wewangian. Dan udara subuh menguarkan dinginnya, bersetubuh dengan aromamu. Aku terbaring membayangkan jasadku berdiri. Mendengar kumandang adzan yang mengukur seberapa kuat malam telah menahanku. Aku tiada lagi tersisa dari pikiran ini.

Jika harus berakhir, biarkan aku memulai lagi dari awal. Menjadi remuk, kemudian sembuh lagi untuk kembali diremukkan.

Thursday, 1 August 2019

Pertimbangan

Dua puluh menit lagi kereta tiba: yang membawamu ke tumpuanku dari musim ke musim. Layar harapan bergerak bebas. Sebab ku tak tahu apalagi yang hendak kulukis pada bentangnya. Napasmu di antara dahan tubuhku telah lama ada dalam peti. Kini kubuka dan kubebaskan untuk menemuimu--atau kau datang untuk itu.

Kereta sudah tiba. Kucari di antara puing kerumunan: sisa-sisa kepergian dan kedatangan. Dalam riuh-rendah suara-suara, ada benak manusia yang kosong melompong seperti peta gurun: luas tak berima, lapang tak terjamah.

Kutelisik bait sepatu, satu demi satu. Dan kau menepi di balik kantukmu yang melelahkan. Apa gerangan yang membawamu begitu lunglai. Lihai bersama diam dan tanpa berisik sama sekali. Ikuti aku. Bagaimanapun, aku menerimamu dalam keadaan apa pun. Masih ada sinyal yang dipancarkan dari teguhnya aku.

Monday, 29 July 2019

Perpustakan Itu yang Membuatku Cemburu

Di dalam dirimu berdiri megah sebuah perpustakaan. Yang utuh nan kokoh. Yang bersih nan sunyi.

Suatu hari kupinjam satu buku dari sana, esok kupinjam lagi lainnya. Aku berusaha menamatkan segala buku yang kupinjam darimu. Aku ingin sekali dapat membaca segala yang ada di sana, namun tiap kali aku selesai membaca satu, akan hadir banyak buku baru. Perpustakaanmu penuh, hingga akhirnya kau meminjamkan buku yang belum sempat kupinjam dan kubaca kepada orang asing yang baru datang.

Aku ingin meminjamnya. Aku ingin membacanya. Dengan sepenuh hati, tanpa kauinginkan buku kembali tepat waktu. Aku ingin meminjam semua bukumu berlama-lama. Atau kucuri diam-diam.

Jaloux

Berminggu-minggu membiru.
Bermabuk-mabukan dengan kenyataan.
Lihat punggungku, penuh bilur dicambuk kejamnya waktu. Apa kau tahu?

Sunday, 28 July 2019

Tempat yang Terkena Bencana Itu Aku

Tatkala aku tak seistimewa Yogyakarta, ibukota jantungmu bertolak ke destinasi lain. Hal favoritmu mendadak diubah, daftar-daftar yang dulu kautulis di dada sudah tak ada. Begitu saja.

Baru saja kemarin aku terombang-ambing tanpa ombak. Atau sebenarnya palung hatiku adalah sebuah negara maritim, mengelilingi daratan-daratan yang telah kosong ditinggal penghuninya.

Kertas berterbangan, ditiup waktu yang bijaksana--namun juga kejam karena tak mau memberitahu dengan pelan. Landasan tak lagi digunakan untuk kedatangan. Setiap kursi dalam diri kosong, kehidupan hanya terlihat dari luar saja. Tak ada kekanakan yang kausayangi, pula tak ada kedewasaan yang kaukirimi makanan.

Dari terowongan gelap hanya berhambur cerita-cerita untuk dielus dadanya. Pulang atau datang mereka menebak-nebak jalan, padahal hanya ada satu terowongan gelap itu. Lentera sibuk memadamkan dirinya, tidur untuk waktu panjang.

Friday, 26 July 2019

Ada Sebuah Pelajaran yang Tak Ada di Buku Pelajaran

Kaubertanya, masih ada harapan? Kubilang, mudah-mudahan. Kautanya kembali apa yang telah kulakukan? Kujawab, menunggu. Itulah sebabnya kau tak memberiku ruang untuk tinggal. Dan pergi sesekali mencari isi untuk bagianmu yang kosong.

Biar aku menjadi tumpukan sekam, yang menelan bara serta arangnya. Mudah-mudahan kaulihat, dadaku menjadi begitu panas meredam dunia yang sedang masam. Aku meradang, merinding panas kening.

Kuingin tafsir tentang lebih banyak bersama. Melewati jalan panjang dalam terowongan gelap. Aku tak ingin menutup mata, bersamaan dengan itu aku terpejam juga. Pada saat gelap, menatap atau tidak akan sama saja. Tunggulah.

Kubilang apa salahnya menunggu, ujian meminta kita melakukan itu. Sampai kapan, kau bertanya. Tunggu, sampai kita tak lagi banyak bertanya. Ujian tak menginginkan itu. Lalu sekarang apa? Ujian sebentar lagi usai.

Tuesday, 23 July 2019

Sebuah Permintaan

Keinginan hidup pasang-surut. Tahun penuh sirat dengan tubir kematian. Apakah kesedihan memang tak berdasar seperti ini? Senda gurau ini nyatanya mencederaiku. Aku tak merasa bermain komedi meski kuyakin sosok besar bernama ketakutan tertawa. Aku menunggu menjadi abu untuk kutaburkan diriku sendiri ke laut terdalam. Tetapi aku membutuhkanmu saat ini agar aku tidak membantah kegagalan.

Tetapi banyak 'tetapi' dalam upaya. Terlalu banyak 'karena' dalam jalannya. Eratlah. Siklus terlalu cepat berputar. Aku tak ingin tertinggal.

Wisata Menyesakkan

Sesak, aku sesak. Paru-paruku dipenuhi potongan kisah. Muara terakhir yang kusambangi adalah ingatan.

Remuk, aku remuk. Rusuk patah hilang entah. Peradaban dalam tubuhku punah. Kutunggangi deretan masa. Kumimpikan banyak hal lainnya.

Dalam darahku ada getir bergelayut. Yang dicibir sel-sel mulia. Ia hanya ingin bermain dalam alirannya. Memuih waktu yang maju.

Rindu tak pernah ambil cuti. Kesedihan selalu ingin mewakili setiap bagian, bahkan kebahagiaan. Keinginan kuat mencerabut rasa enggan. Mencinta adalah proses bercerita tak berkesudahan.

Monday, 22 July 2019

Dua Bagian dari Kita

Sepasang matamu jadi saksi hidup kenangan yang luntur. Esok akan tertinggal seperti hari ini. Penyesalan melompat-lompat menyelamatkan dirinya. Sehingga yang ia tinggalkan adalah jejak: sama persis bentuknya. Sehingga kita sulit membedakan penyesalan mana yang telah datang lebih dulu. Sehingga setahuku mereka selalu terlambat.

//

Sebagian dirimu bermain petak umpet, di luka dan kecemasan. Kepedihan begitu luas menyerupai gurun. Menyembunyikan kebahagiaan atau menyamarkannya dalam bentuk lain. Di depan, ada perjalanan yang berai. Dicemari kesalahan-kesalahan. Tubuh kita menopang beban itu. Aku--juga kau--hanya seorang penyinggah dalam cerita kita. Pengelana dari setiap tubuhnya.

Friday, 19 July 2019

Yang Belum Kuhapus Sejak Kemarin

Ribuan matahari menyengat dadaku. Terik dalam tubuhku bergolak, memasak kenyataan mentah-mentah. Aku melihat puisi bertahan di kepalaku.

Esok masih akan kautemukan puisi yang sama. Masa lalu dan masa depan hanya terpisah oleh hari ini. Diriku akan menjadi rumah untuk jawabanmu.

Punggungku meleleh, kata-kataku tak mampu menyelamatkan itu, selain daripada menyematkan keselamatanmu. Darahku menjadi asap yang membumbung, menghubungimu lebih daripada telepon malam hari.

Kuharap lenganku memeluk kegelisahanmu di malam-malam yang kaukuburkan di ingatanmu.

Apa kabar hari ini?

Sudah makan?

Upaya

Jika kau adalah segara, maka aku buihnya. Untukmu, kutambatkan yang sebenar-benarnya. Sebuah dermaga untuk penghujung labuhan. Lihat di sekeliling itu, ada maaf yang membersihkan perjalanan.

Mestinya Kita Adalah Penyembuh

Tunggulah, berprasangkalah. Kau akan tiba di titik balik. Seperti halnya aku yang binatang ini. Terlukai semburat dunia. Meraung seperti hujan badai. Membasahi inti dari diriku sendiri. 

Kukira jiwa ini sebatas simbolis--mengungkapkan sedikit lebih banyak daripada lambang-lambang pagan. Rupanya lebih dalam. Kita--seperti halnya aku--terbentur lantas terbentuk.

Saat itu, awan kan berbalut-balut menjadi kalut. Angin laut menyisir menjadi maut. Lengkung busur di bibirmu menjadi carut-marut. Segala kemungkinan segera larut bersama rasa takut. Timpaan menggoyahkan menjadi lawan main kehidupan.

Begitulah biasanya kisah tercipta dengan sebuah titik balik--suatu perubahan yang tidak terduga sama sekali. Kebahagiaan hanya sejenis, namun kemalangan muncul dalam pelbagai bentuk.

Thursday, 18 July 2019

Poros Letih

Aku termenung menatap sketsaku sendiri. Goresan demi goresan aku hapus dengan waktuku.

Dalam letih berporos, aku menunggu di kantukku yang hebat. Mata berlomba dengan kepastian-kepastian. Segenap keyakinan kusut. Segenap harapan menyusut. Kabut dalam diri begitu tebal menutupi setiap gurat kehidupan. Aku gelap mata, ingin meringkuk, masuk lagi ke rahim ibuku.

Tuesday, 16 July 2019

Apologi Dua Paragraf

Sekat berdepa-depa dari hatiku dan hatimu. Begitu tebal sehingga kita tak bisa saling mendengar lagi. Geram kan karam, di sukma kita yang terbenam. Sakit berbukit-bukit atas kesalahan bertubi-tubi.

Maaf atas sendu ini yang selalu merajuk padamu. Maaf atas rindu ini yang mengetuk-ngetuk pelupukmu. Maaf atas berkali-kali abai dari katamu. Bercucur getih dari isak kisanak. Aku mabuk dari simbah itu. Menggapai-gapai jarakmu.

Gulita

Aku sedang dilanda ketakutan. Semakin aku takut, semakin ia besar. Pun aku sedang dilanda kekalutan. Semakin aku kalut, semakin aku takut.

Kini semua bentuk yang kusentuh berubah wujud jadi cemas. Apa pun di sekelilingku berputar-putar. Ke mana pun aku berlari akan kembali di tempat tadi aku berdiri. Ke mana pun aku sembunyi, wujud besar itu akan meringkusku.

Kabut memagari masa depan. Mataku seketika rabun, jauh dari pandangan. Kaki telanjang meraba-raba daratan, berjalan ke depan. Kala itu hati ikut merapuh. Ia bicara, dan aku abai. Ia teriak, dan aku tuli.

Pikiranku berputar. Satu, dua, tiga, sampai sembilan. Kembali ke satu, dua, tiga, begitu seterusnya. Terhuyung, aku jatuh ke belakang, menuju kemunduran tanpa dasar. Aku meraba pada apa pun yang bisa kupegang, nyatanya tubuhku terhunus gelap gulita.

Hatiku, bicaralah. Aku tiada isi lagi. Oh, aku sedang tuli.

Thursday, 11 July 2019

Kecup Panjang Dalam Surat Singkat

Adalah sesuatu yang harus kamu tahu, seperti yang sering kutulis dalam surat-surat di masa lalu.

Salah satunya aku ingin menyampaikan bahwa kita sudah cukup jauh berjalan, dalam sebuah hubungan. Tentu ibarat game setiap kali kita melewati suatu rintangan selalu ada rintangan lainnya di level yang lebih tinggi. Sadarilah, sayangku, sedari awal rintangan itu tak pernah jauh dari diri kita.

Kiranya kita dapat mengendalikan diri, lebih kuat dari yang pernah kita coba. Karena ketika kita sudah sedang berada di satu waktu, pada saat kita tak lagi mampu, senjata kita terakhir adalah saling menjaga. Meski kita bukan kandang dan pawang.

Sayang, kencangkan sabuk pengaman, mari lanjutkan perjalanan.

.
.
.
.
.
F

Friday, 28 June 2019

Bait Derita

Tubuh sungguh merupa bait penderitaan. Sakit bahu-membahu menggerus datang dari hulu mengarus. Ruh apa yang sudi meminjam badan yang koyak ini. Sementara api menyala abadi dalam ruang-ruang kosong. Menyiksa dengan kobarnya yang pantang padam.

Ada kebakaran di tubuh muda. Kebajikan gosong dilanda dengki. Apakah kematian sudah sampai di ujung kaki?

Tuesday, 25 June 2019

Faktualis II

Hidup terus mencecarku dengan berbagai falsafah. Yang sebenarnya kutelan sehari-hari adalah pil bernama masalah. Aku tak pandai. Aku tak paham. Mungkinkah ada ruang bagiku berguru pada naluriku sendiri. Sebab apa yang kubicarakan kadang tak selalu kumengerti.

Aku mencari harfiah dari namaku sendiri. Tak ada. Tak pernah ada. Tidak ada kutemukan makna yang berkilau itu. Tak ada. Dan tak pernah ada. Aku hanya membuang waktu untuk sesuatu yang percuma. Namun aku tak mungkin meminjam pandangan siapa pun untuk apa pun termasuk pemikiran mendalam. Aku harus memiliki nilai yang kuyakini sendiri. Sesegera mungkin.

Fase No.3

Sebab aku lahir karena orangtuaku memilih untuk melahirkanku.
Sebab aku memeluk agama karena orangtuaku juga.
Sebab aku tahu, aku memilih untuk menjalani kehidupan,
melanjutkan apa yang orangtuaku telah putuskan.

Tetapi aku tak pernah merasa memilih menjadi manusia tersedih.

Mengupahi Dirimu II

Aku menyayangimu, seperti halnya aku menyayangi
bumi beserta semua hal yang kusayangi.
Untuk keutuhan; mohon kerjasamanya.

Ke Mana Kau Saat Aku Sedang Tak di Mana-mana

Kau membuatku kecewa. Aku serius bicara. Entah kenapa aku ingin mengadilimu. Dari gelapnya mataku. Atas hilangnya akalku.

Ke mana kau saat pikiranku tak berada di mana-mana, pun tak di sini? Lihat anjing-anjing itu, ingin memangsa sisa matahari di ufuk barat. Mereka ingin lenyap bersama-sama di bawah garis cakrawala. Mempertontonkan padaku bagaimana ketiadaan seharusnya bekerja.

Semua inderaku tumpul sehingga ku tak mengharap sebiji zarrah pun dari hari ini. Ambisi telah sekarat, tak lagi memiliki napas seperti harapan yang tumbang di tanah kosong. Aku tak perlu lagi dituntun karena kurasa tak perlu lagi berjalan sesuai dengan yang kupikirkan. Semampu apa pun aku mengira-ngira perjalanan selalu melaju tak dinyana.

Hidup, dengan hormat, kau mengecewakanku.

Sunday, 16 June 2019

Ayat-ayat Karma Juni

I

Seratus jenis karma disebar dalam tiga puluh hari. Tiga karma telah ditetapkan untuk hari ketujuh sama seperti enam hari sebelumnya; pagi, siang, dan malam. "Jangan pernah lari." Tertera peringatan itu, menusuk kenyataan.

II

Bahkan belum genap pukul tujuh, merentang tamparan hidup begitu penuh suka cita. Kepada pipi yang pernah dan akan terus berdosa. Hanya doa yang mampu menghapusnya dari cengkraman penyesalan. "Jangan pernah lari." Peringatan tak pernah lupa.

III

Tidur siang adalah hal paling berguna di dunia; dalam hidup yang semenjak semula selalu disia-siakan. Aku merindukan di pangkuan kasur kapuk berbantal adem. Diketahuilah baru-baru ini tak pernah ada lagi kesempatan untuk berleyeh seperti saat itu. Aku ingin kembali. "Jangan pernah lagi." Peringatan berbunyi lagi.

IV

Langit Juni mengepungku di luar pintu. Kubilang, "Sebentar, aku pakai baju dulu." Sebenarnya aku mengulur waktu. Mereka terlalu sabar menunggu tanpa mengetuk, hanya sesekali mengingatkan. "Apakah sudah?" Ya, seperti itu.

V

Tidak lucu jika ditarik paksa oleh kenyataan. Manusia bukan makhluk coba-coba. Semua masalah adalah makanan pokok. Aku sangat terbiasa menyantapnya.

Saturday, 15 June 2019

Faktualis I

Dalam perapian hidup doaku menyusut. Tahun ke tahun. Ampun dan ampun. Mengapa perjalanan itu tamsil. Kehidupan terasa tak lebih dari kepingan waktu. Fragmen kisah berpendar menjadi jauh dan dalam. Memutar aku yang diam. Saat itu, waktu kan mengintai di balik alarm--sesalku yang abadi. Aku ingin membuka mata. Mengingat kembali Senin cemas yang menyenangkan. Saat kembali ke bangku sekolah. Meminum teh panas di loteng rumah saat dingin pagi yang menyegarkan.

Aku telah membuka mata hari ini. Kepalaku warta headline koran pagi. Senin telah wafat. Cemas masih bersisa.

Tuesday, 7 May 2019

Raung

Gerak tubuh itu resah. Sangsi berkali-kali. Keberadaan itu mengusik. Berubah menjadi ketidakyakinan. Apa boleh ketidaktahuan dibiarkan?

Mestinya kucintaimu dalam diam. Mewaspadai api yang nyala padam. Pendar, berujar, pijar menyalak gusar. Lolongan ketaksaan menguliti kemalanganku sendiri.

Ruas-ruas suara genap terpotong naas. Bibir itu diterpa atmosfer berkali-kali. Aku ingin, aku dingin. Kuharap malam kan berlalu meruntuhkan kelabuku. Memenggal kepalaku mungkin akan lebih baik.

Kematian Neruda adalah kesengsaraan tasbihnya. Akan kusadur sebagai jalan menuju hari esok. Aku kan berjalan sebagai anak frasa yang tertinggal di antara kerumunan kalimat-kalimat tunggal; tak mungkin diduakan dan didustakan.

Mestinya kucintaimu kembali dalam diam. Biar tubuh ini saja yang meraung. Pati dari segala ungkapan.

.
.
.
.
.
F

Sunday, 21 April 2019

Surat Seorang Agnostik

Menggigil, terus menggigil.
Pesan-pesan itu terjawab muskil.
Dosa telah membuat hidup tandus
sejak kebenaran dipenetrasi dengan kasar.

Apakah ada daya
dalam kata 'percaya'?
Sebab tak percaya pun
kita tetap perlaya.

Sunday, 7 April 2019

Tebing Tempat Kita Bersemat

Cepat atau lambat, kita akan mengobrol di suatu tempat yang tinggi hingga kita tak sanggup untuk bersambat. Di ketinggian itu kita akan menyambut hal-hal tak penting dengan membicarakannya seolah tak peduli apa pokok bahasan kita.

Kita akan membahas seorang torero yang mati bahagia tertusuk tanduk banteng di acara matador tahunan. Di ujung tanduk itu ada sisa-sisa romansa yang tak mampu ia hindari dan kelabui dengan kain merahnya. Kita akan membicarakan seberapa jauh perjalanan dari Indonesia ke Semenanjung Iberia dengan ditempuh oleh kaki yang tak pernah berhenti bersimpuh. Perjalanan ini mengingatkan kita pada kisah Biksu Tong dan ketiga muridnya mencari kitab suci ke Barat. Itulah yang kita akan bicarakan tanpa pernah menyebut kisah-kisah perpisahan.

Lantas kita akan sama-sama diam untuk tidak membahas apa pun lagi. Maka kupotong sebelah tanganku untuk kaugenggam ketika aku tak ada lagi.


.
.
.
kepada Indriana

Saturday, 2 March 2019

Anjing-anjing Ingin Memangsa Sisa Matahari


Tak pernah ada yang mengira, sekalipun seorang tukang es keliling yang sering buang kencing di sana, bahkan tukang bakso yang sering buang benih nikmat bersama waria kekar bernama Marsya, tak ada satu pun dari mereka pernah atau ingin terlibat perkara setengil ini. Entah mengapa hari harus memilih seorang pemuda rambut keriting-jijik berkupluk ungu, seorang ibu-ibu tambun berkaos Gucci KW ketat, serta seorang wanita picak pendek dengan tas mahal ditentengnya. Di gang itu pertemuan ketiganya telah menjadi persoalan serius.

“Jadi, bolehkah?” tanya si pemuda.

Si ibu menghela nafas bete. “Yah... kita lihat-lihat dulu ya,” Nafasnya benar-benar bete.

Terpatri raut lelah dari wajah si pemuda. Selain karena kumal, wajahnya penuh dengan minyak. Berminyak; terlihat licin mengkilap untuk seorang pemuda sepertinya.

“Saya—“

“Hm...” Si ibu menggeleng kepala.

Berdiri di samping si ibu adalah si wanita picak, mencolek pinggang si ibu. “Jangan sampai lengah,” katanya, berusaha memprovokasi.

Hari semakin sore, sorot cahaya matahari sudah agak redup sehingga gang buntu itu menjadi terlalu gelap. Tetapi di sana, tengoklah tiga orang yang sedang bersitegang. Dalam suasana yang bimbang, dipenuhi amarah, serta kesedihan masing-masing ingin pulang. Ketiganya telah berada di sana sejak siang yang biru cerah: di gang sempit dengan lebar semeter, tidak lebih. Apa pun itu yang telah mengilhami mereka untuk sampai ke sini, sejauh bertujuan untuk membuat sore menjadi tidak berkualitas, maka dipastikan sesuatu itu telah berhasil. Rusaklah hari mereka sekarang. Tak dapat melakukan aktivitas sebagai mestinya. 

Di hari-hari biasa tanpa banyak persoalan hidup, si pemuda tengah berada di kamar kosan bertelanjang dada di atas kasur kecil bersama kekasihnya. Memantau lini masa—yang baginya isinya kian hari kian seperti sampah—setelah melewati persanggamaan singkat setiap saat. Permainan rutin itu selalu dimulai tatkala pekerjaannya dirasa sulit mendekati selesai. Pelarian dari meja kerja selalu tampak menyenangkan bagi si pemuda, dan rutinitas itu telah berlangsung nyaris enam bulan semenjak kekasihnya memutuskan tinggal di sana. Jauh sebelum hormon oksitosin mengaliri tubuh serta endorfin memecah ke segala penjuru raga, si pemuda telah beberapa kali melewati fase sulit. Salah satunya tendensi bunuh diri yang tak dapat dihindari. Berkali-kali mata pisau menjadi pihak kedua atas kehidupannya saat remaja. Ia pernah meminum darahnya sendiri yang mengalir dari lengannya. Malam-malam mimpi buruk pernah nyata saat hari-harinya bagai dimensi asing. Namun segala fase itu kini lenyap berganti, di mana kemudian hari nanti datang sesuatu yang mengetuk pikirannya sampai ia tak mampu tidur, bersamaan dengan tenggelamnya surya di mata kekasihnya.

Dan kita sebagai pribadi yang pandai memaklumi, seyogyanya mafhum dengan ibu-ibu tambun berkeliaran di sekitaran kompleks dengan sebayanya mengobrol ini-itu tentang apa yang mereka tahu dan kira-kira. Tetapi biasanya, seperti yang kita pahami walau sekilas, mereka hanya sekumpulan pencetus mulut-mulut yang fasih akan gibah. Menggibahkan apa yang mereka hanya ketahui sebagian seakan mereka benar-benar tahu segalanya, termasuk urusan tetangga maupun majikan mereka. Seperti di atas sofa hangat yang pernah terjadi suatu kecelakaan khusus duniawi. Kala sepasang remaja tak mampu lagi menampik sentuhan kulit lembut satu sama lain. Satu hari itu begitu lolos di antara prinsip keluarga Konservatif. Pengalaman mendebarkan, dingin, hangat, risau, bertumbuh menjadi persoalan haram jaddah memperdebatkan siapa bertanggung jawab atas apa, dan siapa bertanggung jawab untuk siapa. Sofa hangat itu pernah jadi alas untuk benih yang di kemudian hari dilenyapkan secara paksa oleh sepihak keluarga yang terlanjur dilihat orang sebagai yang paling beradab. Sofa itu, maupun sejoli rentan suram, telah ribuan kali diperbincangkan ibu-ibu sekitaran kompleks. Pada hari yang damai, sofa itu sudah diselonjori seorang tuan rumah, Ibu dari sepasang sejoli, yang selalu berpenampilan mewah. Ia tak pernah mau tau dirinya jadi topik utama kelompok ibu-ibu pergunjingan. Biangnya adalah asisten rumahnya sendiri. Yang selalu membuka obrolan dengan kalimat, “Hey, ibu-ibu, tau nggak, sih...”

Kalau bukan karena sering bergaul dengan sesamanya, ibu tambun yang telah lima tahun bekerja dengan majikannya itu tidak akan tahu banyak hal. Setiap hari, ia banyak mendapat informasi—walau sebagian besar, bagi orang-orang, tidaklah begitu penting. Akan tetapi baginya, segala hal yang masuk ke telinganya adalah sebuah kesenangan tersendiri. Kisah apa pun ia lahap dari tetangganya. Ocehan kawannya ia simpan di kepalanya. Ia masih sangat ingat berbagai hal kecil yang diucap oleh ibu-ibu lain yang senang bergunjing sepertinya. Lantas, semua itu ia kumpulkan untuk diceritakan kembali kepada siapa pun yang ditemuinya. Ia bagai penyambung lidah. Sampai suatu hari, ketika majikannya dalam situasi semrawut, ia mengendap-endap dari balik dinding dapur. Mencoba memerhatikan apa yang terjadi pada majikannya dan situasi di rumah tersebut. Hal itu ia coba korelasikan dengan apa yang pernah dilihatnya beberapa bulan ke belakang, saat ia mendengar lenguhan seorang anak majikannya di ruang keluarga. Mungkin terbiasa, mungkin memang harus ia yang menjadi saksi dari kejadian sofa hangat itu.

Kalau bukan karena dia, lahir seorang lagi di antara keluarga baik-baik. Tetapi bukan itu yang mereka inginkan. Ia satu-satunya kunci dari aib sebuah keluarga baik-baik. Hingga saat di gang tersebut terjadi perkara membingungkan, semuanya masih tersimpan. Si ibu tambun sudah tak tahan, sementara majikan terus menjejalkan mohon sampai harga dirinya kini berbalik arus.

Gang itu hanya memiliki satu pintu yang terhubung ke rumah seorang janda pensiunan, letaknya di samping, tepat dekat ujung tembok di mana si pemuda berdiri. Jalan keluar menuju jalan besar hanya dapat dilewati jika si ibu dan si wanita pendek angkat kaki.

“Maaf, saya hanya ingin apa yang menjadi hak saya. Lagipula saya benar-benar tidak mengenal kalian,” kata si pemuda.

Dalam diri si pemuda, bergolak deras darah panas. Kepalanya kian pening begitu perutnya bersuara runcing. Mungkin saat ini tubunya mulai tak bugar lagi. Tenggorokannya tandus, mungkin di dalam sana telah terjadi fatamorgana. Seekor unta telah hampir mati bersama seorang pengembara. Maka di dalam dirinya begitu riuh oleh kontraksi. Tunggu sebentar, aku dulu yang pantas mengajukan diri. Perut berkata. “Boleh saya menutup sebentar?” Tanya mata. “Hey, lihat, kami basah di sini. Apa ya namanya? Oh, berkeringat.” Kata dahi. Mereka tetap tidak mau berkompromi layaknya orang-orang sabar yang menggunakan jalan damai. Tidak ada ketenangan sama sekali dalam tubuhnya. Padahal ia hanya memiliki satu nyawa.

Tidak ada empati dari burung-burung sore. Jalan pikiran mereka yang pendek, yang lahir dari otak kecil, yang jika digoreng hanya akan tambah menciut, takkan sampai pada pemecahan permasalahan di sebuah gang yang dilewatinya. Entah mengapa mesti burung-burung itu menatap dengan mata mereka yang bulat kehitaman, seperti biji pepaya matang yang juga jadi makanan sehari-hari mereka. Begitu pun dengan para kucing tak jauh dari sana. Belasan kucing  meminta makan dengan tatapan mengancam kepada kerikil jalanan yang terlalu tangguh untuk dilukai seekor kucing, karena ia tidak pernah menyerah pada hari. Ia tegar meski diinjak, ditendang, dihina kucing kelaparan. Seseorang melempar kerikil, jauh sampai masuk ke dalam benak si pemuda. Suara si ibu tambun menghantam kesadarannya.

“Jangan harap saya akan memberitahu apa pun tentang saya.”

Si wanita pendek mengangguk. Mengiyakan.

“Maaf, jangan mengira Anda ingin saya menanyakan apa pun tentang Anda. Saya bukan orang yang mudah ingin tahu segala hal. Apalagi kalau hal tersebut menyangkut ibu-ibu seperti kalian. Mohon maaf, saya mesti pergi dari sini.”

Si pemuda mencoba maju tanpa memperhitungkan betapa kokoh kedua wanita itu bediri. Keduanya, si ibu dan wanita memicingkan matanya. Seakan, mata mereka berhasil membuat langkah si pemuda urung. Benar, si pemuda tak bergerak sedikit pun.

Masih dalam keadaan berdiri tegak, si ibu tambun dengan mudah menimpali. “Ayah saya mengajarkan saya untuk tetap berteguh pada prinsip. Agar kelak saya menjadi orang yang memiliki pendirian.”

“Satu hal lagi,” si wanita kelupaan akan kata-katanya. “Supaya menjadi wanita yang tangguh,” ucapnya sedikit berbisik.

Si pemuda kembali pada posisinya. Mencoba menerawang menggantikan suara yang masuk dengan ingatan tentang ayahnya. Dengan ingatan sekenanya, ia mencoba mengungkap kembali masa-masa bersama ayahnya.

Ayahnya adalah seorang yang jauh dari kesan ayah. Si pemuda tak pernah melihatnya sebagai sosok ayah. Sepanjang hidup bersama ayahnya, hanya sepatah-dua patah yang keluar, dan itu tak menjadi sebuah obrolan. Hanya kumpulan kata yang sama sekali tak memiliki frasa. Ayahnya bukan orang yang sibuk bekerja, bukan pula orang yang sering berada di rumah. Jadi, petuah orangtua yang menjadi pegangan orang-orang tak dapat ia rasakan manfaatnya . Karenanya, dalam hatinya tak pernah terbentuk sedikit pun dari petuah seorang ayah. Baginya, ayah yang mengantarkannya ke dunia ini tak memberi tutorial apa pun untuk hidup. Ia hidup dengan cara otodidak, tanpa kata-kata bijak.

Kini ayahnya menunggunya di rumah. Rumah itu hanya liang beratapkan gundukan tanah. Di sanalah si pemuda akan pulang jua, ke bumi tempat ayahnya terbaring kini, dengan kostum kafan bertali yang membuatnya semakin sesak di dalam sana. Jangan lupakan belatung yang mungkin telah membuat ayahnya berubah menjadi tulang belulang. Bayangan itu menamparnya kembali ke kenyataan yang sedang di hadapinya kini bersama kedua wanita. Di gang yang brengsek ini pula, pikirnya.

“Tetapi yang terjadi adalah Anda tumbuh menjadi ibu-ibu yang keras kepala.” Si pemuda membuang ludahnya. Lalu menyeka sisah ludah di bibir dengan sekali usapan punggung lengan.

Mata kedua wanita itu terbelalak melihat si pemuda. Si wanita pendek menutup mulutnya dengan spontan karena ketidaksangkaannya terhadap apa yang dilakukan si pemuda.

Seharusnya, menjelang petang, janda pensiunan membuka pintu samping rumahnya, memanggil anjing peliharaanya masuk. Atau, biasanya, pada jam tersebut, janda pensiunan membuang sampah di samping rumahnya. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda itu. Tong sampahnya masih kosong, bersandar pada tembok gang, dibiarkannya lalat-lalat mencari nafkah di sana, di atas tumpukan sampah kemarin yang belum sempat diangkut petugas kebersihan kecamatan. Di waktu genting seperti ini, suara lalat jauh lebih menyakitkan dari kejujuran seorang pacar yang berselingkuh. Membuat telinga pekak, kehilangan pegangan tumpuan konsentrasi. Ludah yang keluar dari mulut si pemuda adalah hasil dari itu semua.

“Anjing kurap!” ucap si ibu.

“Ya, anjing kurap biadab,” tambah si wanita pendek.

Kemudian si ibu-ibu memerhatikan ludah itu membasahi jalan gang. Daratan itu mendesis, gelembung-gelembung air ludah pecah, menguap menjadi visual menyebalkan bagi si ibu dan wanita itu. Akan tetapi, seakan seperti ada kekuatan tenang yang merasuki, si ibu berkata, “Dan Ayah saya tak pernah mengajarkan saya untuk tidak sopan. Ajaran ini menurun pada saya, di mana saya bertanggung jawab atas etika anak-anak saya. Saya mendidik mereka dengan baik.”

Si pemuda hanya menatapnya remeh. Di gang itu, bangkit sesosok angkara, menembus bulu-bulu kucing sehingga mereka menggeram tak karuan. Burung gagak terbang rendah, tanda bau kematian yang kesekian kalinya meliputi wilayah itu. Anjing-anjing ingin memangsa sisa matahari yang terbit tadi fajar sebelum akhirnya basi diraup gelap. Mereka masih di sana.

Friday, 18 January 2019

Inkarnasi

Rahim pernah menjadi kandang tempat bermula. Mengendap di tulang kelangkang bersama kandung kemih hawa yang sudi menampung selama berbulan-bulan. Tali pusar terhubung dengan dirinya dan melihat diri di masa lalu tak lain adalah janin. Yang tumbuh dijaga dalam banyak doa. Mungkin Maryam, mungkin Yusuf.

Darah, tulang, sendi, seketika ruh yang berkelana itu menemukan zirahnya. Pada daging yang akan membawa pergi ke suatu tempat nyata, melalui celah itu, sesaat setelah nasib yang bercabang diempaskan ke genderang telinga.

Ada ucapan selamat datang dari kenyataan yang menggenggam. Jangan hanya menangis sebab tahun kan berulang sampai menjadi tulang-belulang. Mungkinkah ada reinkarnasi suatu hari nanti?



-kepada Air dan zuriah.

Thursday, 10 January 2019

Mencintai Muram

Cerita akan usai ketika kita terkubur dalam kenangan. Aku mencari pegangan agar tak rapuh sendirian. Pada lembaran cetakan foto. Pada dengungan suatu surau. Pada suara gitar akustik yang dimainkan sesekali.

Di atap rumah, senyum mengapung. Menyeret langit kiri dan kanan. Hitamnya kuserap dalam tinta, kemudian kugoreskan pada kertas milikmu. Baris-berbaris kalimat itu memerankan malam yang hilang. Tanganku mendadak bisu, tak mampu menyampaikan pesan apa pun. Oksigen ingin menjadi hantu padat yang memukuli dadaku.

Aku pecah dalam rindu yang utuh.

Selama ini aku menutup mata dari khayali yang nyata. Banyak angan-angan yang tak sempat dimuat media, bahkan gagal dicetak sebelum terbit. Khayali ada dalam laci. Kenyataan berubah jadi kunci. Kuharap semuanya baik-baik saja.