Thursday, 30 November 2017

Variasi Kalut

Pintu menuju ruang kepala dicegat serupa duri
Aku bertanya apakah ia menyakiti
Pada daun telinga kanan ia berembus pelan
Keluar begitu saja melalui yang kiri
Meninggalkan kata-kata yang menyumbat saluran pikir
Aku bukan ahli pikir, pikirku
Pikiranku tumbuh berbeda dengan tubuh yang lain
Kata-kata telah mengontrol, ambil alih kendali
Aku menggeliat, bergulir di lantai kayu cokelat kemerahan
Bersama seorang balerina berkaki jinjit
Diiringi waltz bertempo rendah yang muncul dari gramofon tua
Disorot lampu silau ke mana pun kami bergerak
Tanpa peduli tepuk tangan ada ataupun tidak
Teriakanku tak lain jelmaan sorak sorai kesengsaraan
Sentimentil, dan aku terlipat-lipat
Terselip dalam kantong kemejaku sendiri
Yang dipakai oleh seseorang ke suatu tempat jauh
Ujung lipatanku mengetuk-ngetuk kantung di dada
Ia tak hiraukan
Baginya lebih penting melihat lanskap awan,
dan daratan sama panjangnya membentang
Karena melihat itu mampu menyempitkan rongga dada
Sementara darahnya berdesir
Lebih liar dari perjalannya ke suatu arah
Memberatkan napas dan lidah yang bersembunyi di balik bibir
Apa yang ia ingin ucapkan adalah tidak tahu menahu
Hanya menunggu datangnya banyak ungkapan,
yang belum terpikirkan
Caranya mematung membuat hening senantiasa berulang,
dan kosong berpusing di kepala
Saat air-air berjatuhan memulas jalanan yang pernah kering,
kami sama basahnya dengan cucian yang diangkat dari rendaman
Tetapi kami sepolos kaus kaki putih,
yang tergantung dekat cerobong rumah-rumah
pada malam natal yang datang teratur setiap tahun
Di waktu yang lelah, ia berteriak sembrono,
"Bawa aku pergi ke mana pun angin berlalu!"
Kami benar-benar ada di sana
Di pintu menuju ruang kepala, di mana duri mencegat
Dia bertanya apakah duri menyakiti
Sebelum duri berkata, aku telah mengatakannya,
"Kita adalah gasing yang memuih pada pikiran kita sendiri!

Monday, 13 November 2017

20 Menit Mendamba

Kepada senja yang tetap damai,
dalam porak poranda hati perasa
Sampaikan satu-dua baris ini
pada ia yang di sana,
yang menghamparkan kecemerlangannya,
bahwa aku untuknya saja

Demi kawan senja: sang hujan,
rintiknya dibicarakan orang
suaranya berirama dan mendendam pada terik
menyenggamai tanah hingga basah
Aku titipkan, kecupku padanya,
yang tak terenyak derasmu
Meski turun mengguyur tubuh
Katakan, katakan aku ingin,
ingin berteduh padanya

Kau senja dan hujan,
diagungkan pujangga karbitan,
dibicarakan anak indie musiman,
disematkan pengelana dadakan
Kau senja dan hujan,
tak lengkap jika tak tertuliskan
Kau senja dan hujan,
hanya pelampiasan
Aku tak peduli,
jika kalian pamit pada langit,
selama ia adalah milikku,
aku takkan bergeming
Demi apa pun aku takkan bergeming