Friday, 29 September 2017

Antara Lamunan dan Kegabutan



Berawal dari ke-gabut-an temporer yang selanjutnya menggiring saya untuk mainan hape dan buka Instagram. Karena sebetulnya sudah jenuh dengan sosmed yang satu ini, saya iseng mengecek explore dan scrolling sampe bawah. Terus ke bawah, terus ke bawah. Jari pun terasa pegal dan saya berhenti. 

Mata saya kemudian menangkap satu postingan berupa ilustrasi dari akun seorang komikus (yang mohon maap namanya saya lupa). Dalam postingan tersebut tertera sebuah gambar telepon umum dengan tulisan kurang lebih begini, “Kalo kamu diberi waktu 30 detik buat menelepon diri kamu 5 tahun lalu, apa yang akan kamu sampaikan?”

Seketika saya tertegun. Sementara tangan saya menaruh hape, pikiran saya setelah sekian lama kembali mengembara seperti yang biasa saya lakukan di kamar mandi sebelum hendak mengguyur kepala dengan air di gayung.

Lima tahun. Kenapa bisa pas postingannya , ucap saya dalam hati. Lima tahun lalu adalah kilas balik perjalanan saya, di mana saya memulai apa yang tengah saya lakukan dan benar-benar sangat ingin melakukannya. Sebuah rencana yang pernah disusun dengan tidak rapi tapi pada akhirnya rencana tersebut, meski prematur, terealisasikan juga. Tidak seperti rencana lainnya. Singkat kata, mereka telah menanti saya dalam lamunan pendek.

Saya membayangkan apa yang akan saya katakan pada diri saya di lima tahun yang lalu melalui sebuah telepon berkesempatan durasi 30 detik saja. Ini nyaris seperti yang pernah ada dalam lamunan saya ketika di tepian sungai setahun yang lalu. Pada saat itu, saya lagi sering-seringnya memikirkan diri saya sendiri, pergi ke tempat sunyi, menyendiri, melamun dan  menyesali diri saya pada tahun-tahun yang berat itu. Bedanya, saat itu saya membayangkan seandainya bisa bertemu dengan saya di masa lalu, bukan dengan telepon. Meski sedikit berbeda, keduanya masih satu tema: perjalanan lintas waktu untuk memperbaiki sebelum akhirnya begini. Apalah itu, yang pasti, kemungkinan yang akan saya katakan pada diri saya lima tahun yang lalu akan seperti ini jadinya:

“Halo...” 

“...”

“halo... Oy! Duh, sinyal parah nih... Kamu denger nggak, sih?!”

Dan telepon pun terputus.

Okay, itu lamunan gak jelas. Yang bener adalah di bawah ini:

“Halo, Blenk.”

Si Blenk 5 tahun lalu kemungkinan akan menjawab,

“Halo, iya. Ini siapa?”

Lalu saya akan membungkamnya dengan penjelasan tanpa jeda, dilanjut dengan inti. Seperti ini:

“Oke, Blenk, dengar, jangan dulu bicara karena waktu kita nggak banyak. Pokoknya dengarkan baik-baik, lalu pikirkan matang-matang. Jangan pikirkan yang tidak perlu seperti siapa saya atau kenapa bisa. Pokoknya dengarkan. Lima tahun dari sekarang, kamu akan menjadi apa yang kamu mau asalkan kamu tidak terpengaruh dengan perintah atau rujukan orang lain. Dengarkan hatimu sepenuhnya, lalu lakukan apa pun yang kamu mau.

Fokuslah pada tujuanmu, dan jangan pernah khawatirkan dirimu jika benar itu berasal dari kata hatimu. Semua akan berjalan dengan baik. Nikmati prosesnya, syukuri likunya. Ketika akhirnya tiba, kamu tidak akan pernah menyesal. Lakukan. Lakukan. Oh iya, satu lagi, tak perlu khawatir akan siapa yang menemanimu. Karena lima tahun dari sekarang, kamu punya seseorang yang menyemangatimu dan mendukungmu, dan sayang, dan mempercantik semua perjalanan ini. Cukup. Jangan tanya lagi. Semua sudah jelas. Terimakasih untuk bersedia menjadi Blenk, yang tak pernah ragu akan pilihan.”

Saya kembali dari lamunan disusul dengan helaan napas panjang. Dan saya sedikit menyesal sudah melamun terlalu jauh. Lagi. Kenapa? Karena pada kenyataannya, di tahun itu, saya kerap terpancing dengan kemauan orang lain, masukan yang tidak perlu, dan hal-hal yang bukan berasal dari hati saya sehingga dampaknya terasa di masa sekarang. Ya, saya sedang mengenyam itu.

Belum cukup mengawang, pikiran saya transit ke memori suatu siang ketika saya menghampiri seorang bule yang belakangan diketahui sebagai dosen elektro. Dia adalah orang yang mewawancarai saya pada saat saya mengikuti tes perkuliahan.

Siang itu saya menghampiri dia, mencoba menyapanya. Dia hampir tak mengingat saya kalau saja saya nggak menunjukkan rambut panjang saya. Pandangannya teduh memerhatikan saya. Sambil menaruh tumbler berisikan kopinya, dia berkata, “Ah, I got it. You are lil girl.”

Okay, saya bete diingatkan itu.

Di kantin siang itu kami bercakap-cakap ngalor ngidul blablabla. Dia banyak membicarakan mengapa pemikiran orang-orang tidak out of the box. Maka, di bagian ini saya mulai mendengarkan dia dengan serius sambil menerka-nerka apa yang dia katakan itu dalam bahasa inggris, pun suaranya terdengar agak pelan, membuat saya harus fokus dua kali lipat. Tapi saya menangkap juga apa yang dikatakan dia. Seandainya kalian tau, itu sangatlah menarik untuk disimak.

Apa yang dia katakan sebenarnya sangat sederhana. Hanya tentang “do what you wanna do” dan “just do it”. Mungkin yang kedua kedengaran seperti dia mengambil jargon Nike. Tapi, apa yang dikatakannya benar-benar membuka pikiran saya siang itu bahkan ketika saya sampai di rumah. Dia bertanya pada saya, “Saya tanya, kenapha kamyu datang ke shenee?”

Saya mencoba mencerna apa yang dikatakannya. Oh, dia berkata kenapa saya datang ke sini. Ya. Ya. 

Saya hanya jawab, “Karena saya mau menyapa anda.”

Dia tertawa, kemudian bilang, “Because kamyu mahu,” yang artinya, karena kamu mau.

Oh ya. Dia sedang memberi penjelasan tentang do what you wanna and just do it dalam contoh yang sangat sederhana. Sesederhana itu.

Ah, andai waktu itu saya melakukan apa yang saya mau, tidak peduli apa yang terjadi. Dan saya mengulang lamunan saya lagi tentang telepon. Saya jadi benar-benar mau melakukannya. Benar-benar pengin bisa terjadi. Tapi sudahlah. Perjalanan lintas waktu hanya bisa dilakukan dengan melamun. Hari ini akan jadi masa lalu. Masa yang akan datang akan menjadi hari ini.

NB: Ngomong-ngomong, dialog tentang telepon itu bakal memakan waktu lebih dari 30 detik. Jadi, kalau saya dapat kesempatan, maka saya mau nawar supaya waktunya lebih dari 30 detik. Percayalah, obrolan serius tidak pernah memiliki durasi pendek.

Sunday, 10 September 2017

Cerita Tentang Mereka yang Jarang Diceritakan



Ada sepasang mata yang tak bisa menatap balik. Mereka adalah sepasang mata kaki. Ada sepasang mata kaki yang tak mungkin ada. Itu adalah mata kaki kecoa.

Di kamar saya, yang setiap hari jadi tempat saya mengerjakan sesuatu komersil maupun tidak, yang juga jadi tempat untuk tidur, makan, sekaligus melamun, juga menjadi tempat nongkrong jikalau saya diajak teman untuk nongkrong tapi saya enggan keluar, ya jadi di kamar saya yang ruang serbaguna ini pernah ada kecoa. Mereka sebetulnya hampir tak pernah secara langsung mengganggu, hanya saja mereka sebaiknya tidak dekat sama saya. Sudah berapa juta orang yang mendeklarasikan dirinya untuk tidak menyukai makhluk yang satu ini. Tapi ya sudahlah, saya memang nggak terlalu suka kalau mereka ada di sekitar saya.

Kecoa tidak pernah terlihat adu mulut dengan para cicak yang merayap di dinding. Sekali waktu saya mendapat kesempatan melihat mereka berdua bertemu di dinding. Satu si kecoa terbang yang menjijikan, satu lagi si cicak yang tampan bagi cicak-cicak lain. Saya sudah tau, mereka gak akan saling menyapa. Tetapi saya juga tau, mereka tidak sedang bermusuhan. Ini seperti, “Okay, kita bertemu di sini, dan anggap kita tidak pernah saling melihat. Kalau terpaksa melihat, anggap saja kita bukan siapa-siapa.” Itu yang ada di pikiran saya saat melihat keduanya saling bertemu.

Di dinding dan lantai, seringkali banyak pasukan semut (kecil atau besar) yang berjalan berbaris-baris. Saya tidak ada masalah sampai suatu saat mereka berkerumun di gelas saya yang terisi teh manis dingin. Saya nggak ngerti apa tujuan mereka berkerumun di gelas teh manis. Apakah mereka kehausan, ataukah mereka menganggap itu kolam yang enak. Bagaimana kalau mereka pipis sembarangan di teh manis yang mereka anggap kolam itu? Saya akan sangat menghargai kalau mereka minta ijin terlebih dahulu pada si empunya teh manis. Sayangnya, kalaupun mereka minta ijin, pasti menggunakan bahasa semut, yang tentunya nggak saya mengerti.

Belum lagi, lalat yang sering terjebak di dalam ruangan saya. Kamar saya sejatinya minim ventilasi. Membuat kamar saya sedikit sumpek, gerah, dan saya anehnya nggak tertarik untuk membawa kipas angin ke dalam kamar. Saya lebih sering mengalah pergi ke luar kalau ruangan sedang panas. Oh iya, saya kan tadi sedang bicara soal lalat. Jadi para lalat yang terjebak, tentunya akan sulit untuk keluar lagi dari kamar saya. Ventilasi kamar saya kecil. Mungkin, banyak lalat sering menyepelekan ventilasi ruangan saya. Makanya, lalat-lalat yang terjebak beterbangan dengan panik. Saya sangat tau lalat-lalat ini ingin mencari udara segar, sama seperti saya, tapi karena mereka tak pernah mau dengar saya yang menyuruhnya keluar lewat pintu, maka mereka sering kena pukul saya. Untuk kasus ini, dan untuk keluarga korban para lalat, saya turut meminta maaf, juga berbelasungkawa atas wafatnya kerabat kalian.

Dan ketika semuanya sudah mulai tenang. Para cicak kembali datang dengan tidak tenang. Salah satunya pernah mengendap di samping saya, di dinding yang kusam dan retak-retak. Saya gak ada masalah pribadi dengan mereka karena mereka tidak punya utang ke saya, dan seingat saya, saya nggak pernah meminjami mereka sejumlah uang. Toh, mereka mau beli apa dengan uang rupiah yang ada di kantong saya? Mereka tak perlu beli pakaian. Mereka tidak perlu sewa rumah. Mereka makan tak perlu pakai uang. Tetapi inilah yang membuat para cicak mengendap-endap di dinding dengan tidak tenang.

Bahwa mungkin ayah-ayah cicak yang mencari nafkah mulai resah, anak-istrinya di sarang sedang menanti kepulangannya membawa buah tangan. Dan buah tangan itu tak lain adalah nyamuk yang selalu berdengung ke mana pun mereka pergi. Saya nggak tau apakah nyamuk-nyamuk juga merasa risih dengan suara mereka. Ataukah mereka menerima takdirnya sebagai nyamuk yang berisik? Para nyamuk selain berisik adalah membuat kulit bentol. Saya nggak suka kalau mereka mencari nafkah dengan cara itu. Bagi para cicak, nyamuk adalah buah tangan. Dan bagi para nyamuk, darah manusia adalah buah tangan. Dengar ya, sudah pernah saya katakan sewaktu SD, kalau saya tak akan pernah menyumbangkan darah saya, sekali pun itu darah kotor untuk para nyamuk. Meski, pada akhirnya, mereka tetap menghisap darah dari saya.

Selain mereka, sebetulnya masih ada banyak yang mampir atau mungkin menghuni kamar saya. Ada kupu-kupu, laron, kelabang, laba-laba, dan masih banyak lagi. Saya memang tidak pernah mengijinkan mereka ada satu ruangan dengan saya, akan tetapi mereka telah membuat ruangan saya jadi cerita, bersama mereka. Jadi, kalau ada yang bertanya apakah saya sendirian di kamar, maka jawabannya saya tidak pernah sendiri.

Saya tidak pernah sendirian.

Bahkan kalau mereka semua lenyap secara bersamaan dari ruangan saya, maka ada dua lagi yang hadir menemani saya: malaikat Rokib dan Atid yang mencatat amal. Mungkin saja mereka juga tidak sendiri. Seperti misalnya malaikat Atid membawa pasukannya atau Rokib yang minta ditemani malaikat lain untuk kepentingan pekerjaan. Secara tidak sadar, kita memang selalu merasa sendiri. Akan tetapi lihatlah dan sadarilah lagi, satu orang sendiri sama artinya dengan lebih dari satu atau mungkin bergerombol. Walau kenyataannya gerombolan kita tidak saling kenal dan menyapa seperti yang dilakukan cicak kepada kecoa.

Ehm...

Tetapi ketika saya berdua dengan pacar saya (yang tentu sangat saya sayangi) saya hanya merasa berdua saja. Saya pura-pura tak tahu kalau di sekitar saya banyak spesies dan makhluk dan apa pun yang bergerak dalam berbagai dimensi. Demi apa? Demi merasakan berdua itu romantis.