Wednesday, 28 June 2017

Baris Kontemplasi (Bagian I)

Jangan berhenti di satu.
Sebab kita bukan diciptakan untuk merasa puas.
Jangan mengharap tak terhingga.
Sebab kita memang diciptakan untuk bersyukur.

Tuesday, 13 June 2017

Daksa Renjana



Masih seputar tentangmu, yang selalu menghujani mimpiku di atas tempat tidur yang kering. Dan lihat bagaimana aku tersungkur kembali pada kesadaranku karena hentakan mimpi jauh lebih ekstrim dari yang kita kira. Kemudian kulihat tubuhku nyata pada dimensi ini. Aku melihat kenyataan terasa berkali-lipat sejak kau ada di dalamnya.

Dua empat lima dini hari. Memikirkanmu telah menjadi prosedur wajib. Aku tak pernah lagi memikirkan hal yang tak perlu. Karena di luar itu, urusan selain dirimu, biarlah orang lain yang urus. Maka, sementara orang lain mengurusi hal yang tak perlu, aku sampaikan padamu warta mengenai keberanian yang aku kumpulkan sedari pertemuan kita di antahberantah.

Apa kau sempat mengamati, kesendirian membuatmu mati. Bersama orang-orang dan berkas-berkas yang kaubuang dari masa lampau. Namun abunya kau simpan juga dalam pikiranmu yang majemuk, mengakar, dan terbakar. Lalu aku tiba sendirian; di hatimu yang telah lama ditinggalkan pemiliknya. Membawa buah tangan; serupa niskala absah yang pernah terkikis dengan sendirinya.

Aku datang dan menyentuh hidupmu. Kugapai kau pada porosnya utopis. Seumpama kau masih samar untuk memahami, lihatlah pada semua hal yang pernah terjadi. Ada semesta membantu meraih jarak, yang sulit kita lalui jika dengan ekspedisi disengaja. Ada waktu yang mau bersekutu, merundingkan urusan yang bersangkut-paut atas kau dan aku. Dan latar kita berada, melengkapi balada cerita kita. Tanpa jeda. Tanpa drama yang menyakitkan mata.

Aku ingin kau mengerti kelak apa yang kusampaikan bukanlah soal bualan. Aku tak ingin ini menjadi sebagai sebuah kemungkinan dan berhenti begitu saja dengan setumpuk pertanyaan. Dalam sebuah logika, kemungkinan hanya akan menjadi cabang dari berbagai ketidakpastian. Cabang-cabang itu yang hanya akan mengundang keraguan, yang justru seharusnya tak perlu dibangunkan. Jika sumpah adalah hal lumrah, maka akan kulakukan berkali-kali setiap kali kecemasanmu datang menyergah.

Masih ada banyak sekali yang ingin kusampaikan, khususnya yang berkaitan dengan dirimu. Tentang bagaimana akhirnya kita beradu pandang. Di malam yang berlalu dan pada waktu yang memburu. Tentang hal yang tak sempat kuceritakan, pada baris kata dan bahasa yang melarut. Namun pijak kata telah pudar sedari tadi. Pondasi sebagai jantung rapsodi mendadak layu saat keinginanku kumat lagi. Aku butuh ruang pertemuan untuk mewakili semua kata-kata yang tak mampu lagi disematkan. Tanpa pertemuan, rindu akan selalu seperti dendam: jika tak terbalaskan ia akan terus bersemayam.

Kini sadarilah bahwa kita terangkai nyata. Selagi daksa dibuai renjana, tanyakan pada hari-hari yang menunggu di depan, sudikah ia kulewati bersamamu?

Sunday, 4 June 2017

Imperfeksi Nalar



 

Lalu dari mana sinyal ini berasal?

Tetiba sinyal memancar tanpa permisi ketika sore sedang mendung-mendungnya. Masuk ke ruanganku melalui celah yang tidak kuperhatikan. Bergerak menyelinap ke dalam hati dan terkoneksi otomatis. Lalu dari mana sinyal ini berasal?

Aku merasakan sesuatu yang asing masuk bergerak, mengendalikan keinginanku untuk berpikir dalam. Mengubah atmosfer sama sekali, seratus delapan puluh derajat berbeda. Aku menelusuri asal-muasal pancaran ini lewat instingku yang tak berdasar. Lalu dari mana sinyal ini berasal?

Dari lorong benak, kupintaskan destinasiku lewat sebuah pertanyaan. Itukah kau? Dan kau tidak berkata ya maupun bukan. Lalu darimana sinyal ini berasal?

Anganku melambung seketika tentang muram durja yang pernah kuduga—hanya dugaan. Aku tak dapat menerjemahkan bahasamu; tentang simbol yang membiru, tentang seruan makna ambigu, tentang karam dalam diam yang membuatku mendadak gagu. Itukah kau?

Aku mendengar vokalis The Brandals meneriakkan lirik “Berkali-kali kau buat tidurku tak nyenyak” dalam speaker ber-volume sedang. Kemudian ingin kubesarkan sampai memenuhi ruangan. Aku melihat gambar tanda tanya pada baju ‘Guess’ yang dipakai seseorang. Rentetan pertanyaanku serta belagak mencari tahu penyebab telah membuatku merasa konyol. Tetapi dari mana sinyal ini berasal? Itukah kau?

Menjadi peduli seperti ini sangat bukan gayaku. Telah berlangsung lama aku tak pernah menunjukannya pada siapa pun. Tetapi kepadamu aku sangat tak bisa menahan diri, bahkan hal kecil, remeh-temeh, atau apa pun kau sebut itu. Meski yang kulakukan saat ini adalah memaksakan kehendakku untuk menggali apa pun tentangmu. Pada akhirnya aku membenarkanmu; hanya karena terbiasa mendengarkanmu, bukan berarti aku selalu merasa berhak untuk tahu.

Sekiranya kau tahu mengapa aku merasa begitu. Mengapa aku melakukan ini. Tapi aku pun tak tahu. Mengapa aku merasa begitu. Hanya bisa melakukan ini. Entah berasal darimu atau bukan datangnya sinyal ini, yang pasti ia telah membawaku sampai ke sini.

Lekas Bangun. Ayo kita pergi dari hal-hal yang membuat kita begini.

Begawan Yuvenil


Aku pernah melihat senyum-senyum dilebur getir; tatkala pelangi terhapus warnanya, dan partikel warna menyalahi kodratnya; seperti putih beranjak hitam, atau merah yang tak lagi pekat. Atau kuning merangkak pada biru yang tertidur, berubah haluan menjadi hijau. Atau jingga yang entah ke mana, terhisap identitasnya. Aku pun pudar.
 
Aku pernah menyimak api mencumbu arang; bergumul menjadi bara; api tiada berhenti berbisik pada arang tentang bayang masa silam. Sekejap api hilang dari peraduannya diempas angin lalu. Sunyi menyauti arang, memaki kesendiriannya. Bisikan itu rupanya meninju telak arang ke dasar kegelapan, membuat ia menjadi abu. Pada malam yang binasa, aku pun remuk-redam.

Sehari semalam berada dalam sekam.

Tetapi, tetapi semua menjadi persetan saat semburat lembayung menyemburkan suatu objek ke bumi. Serupa garis cahaya horisontal menumpahkan titik di kejauhan. Aku teralihkan, kemudian berlari menuju tempat titik itu jatuh, seperti seorang anak mengejar layangan yang putus, yang dirasa ia sangat berharga. 

Kulihat kau ada di sana bersama puing awan lembut yang menutupi tubuhmu. Dari bawah sini, kulihat langit telah berlubang entah sejak kapan, dan dari lubang itulah rupanya sebab kau terjerembab, lalu turun, lalu ditiup, lalu aku jadi tahu mengapa kau sampai disemburkan semburat lembayung. Sebuah kesalahan semesta yang membahagiakan umat manusia, setidaknya bagiku.

Sadarkah kau aku sedang bermetafora tentang bagaimana kau hadir di masa aku menunggumu? Metafora itu kucuri dari pikiran para pujangga yang senantiasa menyuarakan perasaan belaka. Belum dirasa cukup, kurampas sajak-sajak para pecinta dari ingatannya. Kulumat habis diksi-diksi yang berkaitan denganmu. Kujejali udara dengan jutaan gurindam lara. Yang lalu kemudian menyesakkan dada karena terlalu banyak menghirup kata-kata. Tetapi aku sedang membabi buta. Aku semakin menggila. Aku benar-benar gila—walau tak segila dahulu kala, saat usia belum peduli akan norma-norma.

Kau tahu, itu adalah usahaku untuk mencapai romantisme absolut. Tentunya ketika aku mendapat kesempatan, setelah hingar bingar orang-orang, lalu-lalang, silih ganti berdatangan padamu. Dengan senjata yang mereka kokang berupa omong kosong kering-kerontang. Aku sama sekali tak meradang. Mereka hanya akan membuat kau risau bukan kepalang. 

Aku tak mau kau hanya terkesan padaku seperti kau terkesan pada mereka yang bercitra sama. Kalau begitu apa bedanya aku dengan mereka? Telah dalam waktu yang lama aku menciptakan persepsiku sebagai orang yang berbeda. Yang mesti kau pahami mengapa aku melakukan hal ini.

Apa lagi yang ingin kau tahu?

Lihatlah empat celah di antara lima jariku. Kekosongan itu akan kau isi kelak. Tidak, sekaranglah waktu yang tepat. Sebelah tangan telah mendamba, menggantung di bawah bahu bertahun-tahun, menunggu untuk diraih. Tak usah khawatir ke mana arah kita pergi. Aku yang menuntunmu. Asalkan kau yang menggenggam.

Perlukah lagi kuyakinkan bahwa kau adalah orangnya?

Aku bukan orang yang memiliki kekuatan maupun daya persuasif yang tajam. Tapi percayalah jika saling percaya kita akan menjalaninya bersama dalam waktu yang lama.