Friday, 21 April 2017

Gadis Bandana Merah



Dia gadis berkerung merah...
Nanana... na.. bla... bla... bla...

Lagu itu kedengeran lagi jelas di kuping saya, tepat waktu saya bangun tidur. Gimana nggak kedengeran coba, orang yang muterin lagu itu rumahnya sebelahan banget. Volumenya kenceng pula.

Saya tau lagu itu ketika di Jepang lagi musim dingin, dan saya beserta kawan-kawan lagi sibuk ngerjain projek di Sukabumi, Indonesia, bukan Jepang. Waktu itu temen saya, sembari bikin pola Rimlight DIY, nyanyi lagu itu. Dia nyanyi dengan mengulang-ulang baris pertama liriknya sampe kata-kata itu masuk ke dasar otak saya.

Dan saya jadi inget kemarin waktu mau pergi buat melakukan perkara kecil. Saya dan si motor melintasi toko baju di mana ada seorang cewek duduk di bangku di emperan toko tersebut. Bangkunya terlalu panjang sehingga dia yang duduk sendiri jadi mencolok sekali. Saya menurunkan kecepatan laju motor karena perasaan kepo menyerang.

Bandana merahnya yang dipasang di atas kepala jadi daya tarik utama si cewek, bersama gincu merahnya yang senantiasa terang kalo disoroti lampu. Kaosnya hitam legam dengan typografi ala motocustom, menutupi kulitnya yang nggak terlalu putih. Dia duduk manis entah menatap apa, yang pasti alisnya digambar warna cokelat yang membuat tatapannya terlihat santai. Semua itu jadi lengkap setelah tau kalau di sebelah toko baju itu adalah bengkel kecil khusus motor jalanan, mungkin. Saya memerhatikannya dengan agak detail sampai semuanya terasa bergerak slow motion. Seketika terdengar baris pertama lagu itu... membuat suasana semakin dramatis.

Dia gadis berkerung merah...
Nanana... na.. bla... bla... bla...

Sebetulnya nggak nyambung-nyambung amat sih. Ya dari lirik, ya dari musik, sama sekali nggak relate. Satu-satunya alasan kenapa saya menghubungkan keduanya mungkin lagu itu mengandung atmosfer yang sama dengan si cewek. Secara itu lagu milik Wali yang judulnya Kekasih Halal yang mungkin kalau didenger-denger agak bernuansa ndeso. Nah, judulnya pun nggak nyambung kan, dan asal kalian tau, saya nggak berniat menjadikan si cewek bandana merah jadi kekasih halal saya.

Sepanjang perjalanan saya nggak bisa berhenti mikirin si cewek bandana. Yang paling jadi pertanyaan adalah kenapa gadis bandana menatap jalanan seperti itu? Kemudian pertanyaan itu bikin saya ngelamun. Dalam lamunan saya, si cewek lagi mempertanyakan satu hal: kenapa di kota ini berasa ada yang ilang satu.

Apa ya?

Saya jadi ikut mikirin.

Selama ini, saya juga sering mikir ada yang ilang dari kota Sukabumi tercinta ini. Kebanyakan nggak disadari orang-orang. Lagian orang-orang itu juga keliatannya nggak ada inisiatif buat nyari tau apa yang ilang dari kota ini.

Hal pertama yang paling saya sadari adalah hilangnya kultur villager STM. Kultur villager STM itu sebutan buat anak-anak STM yang sering melakukan aksi rebel dan berdandan ala anak STM sejati: pakaian serba sempit, celana ngatung, pake dasi yang di dalemnya diselipin penggaris besi, baret hasil jarahan dari sekolah lain, badge dan lokasi sekolah lain yang juga hasil jarahan, uang receh buat beli ciu, tas yang nggak berisi buku pelajaran, ah betapa eksperimentalnya fashion mereka. Oh, nggak lupa potongan rambut cepak jablay atau orang sering nyebut cukur emo. Tapi entah kenapa, selama mereka punya rambut model begitu, image mereka sebagai villager kuat sekali.

Dulu, waktu saya masih sekolah, villager masih bertaburan di mana-mana. Di jalanan, di sekolah, di pusat kota deket pasar tradisional. Yang paling pasti kita akan menjumpainya adalah di tempat konser gratisan yang diadakan di lapangan. Pada jaman itu mereka sangat eksis. Sebagai villager, mereka nggak pernah tinggal diam. Selalu bikin kota gerah.

Saya nggak akan pernah lupa ketika di depan mata saya ada dua anak villager saling baku hantam dengan penggaris besi. Pengalaman mendebarkan mengingat saya juga saat itu anak STM tapi tergolong baik-baik.

Tembok-tembok kota nggak akan bersih selama mereka ada. Seenggaknya mereka udah turut berkontribusi dalam mempercaduk kota. Kehadiran mereka bersama kubu-kubu mereka ditandai dengan coretan di tembok seperti ‘117 BZAD by Venkz’, atau ‘212 SHELIWANGIE by Cuyz’. Oh iya, mereka udah membuat para penjual pilox dan cat kiloan yang biasa mereka pake buat coret-coret jadi merasa untung.

Tetapi peradaban gaul yang sporadis telah mematikan kultur lain. Villager salah satunya. Sepertinya para villager merasa dirinya harus kembali ke jalan yang benar. Oh, itu sangat nggak dibenarkan. Padahal berkat kehadiran mereka, kota jadi lebih berwarna. Adanya mereka membuat kota jadi ngampung. Itu hal keren dan sangat memicu paradoks, bahkan mengaburkan esensial kota itu sendiri.
Kalau aja kultur villager masih ada, mungkin si gadis bandana merah akan menjadi salah satunya. Dan kalau si gadis bandana jadi villager, maka gadis bandana bukanlah gadis bandana. Saya nggak akan melihat dia duduk di bangku panjang depan toko baju. Saya nggak dia melihat penampilannya yang cocok dengan bengkel sebelah toko. Tapi lagu Wali akan sangat relate apabila si gadis bandana jadi villager.

Iseng-iseng ngelamun, nggak kerasa saya udah nyampe di tempat tujuan. Itu udah sore, sore yang cerah untuk gadis bandana merah. Waktu saya nyampe, gadis bandana merah mesti masih duduk di depan toko. Nggak peduli sesulit apa pun situasi politik, dia akan tetap sebagai gadis bandana merah yang akan mencuci bandananya kalau kotor kena oli bengkel. Dia nggak akan kebawa sama isu-isu sensitif kecuali bandananya dirusak ormas beratasnamakan agama.

Seandainya saya Faank vokalis Wali, saya bakal ngeganti lirik lagunya jadi,

Dia gadis bandana merah...
Nanana... na.. bla... bla... bla...

Sori gak hapal bait selanjutnya.


No comments:

Post a Comment