Sunday, 12 March 2017

Dinamika No. 1303



Saya punya ruang lingkup untuk bersosialisasi. Katakanlah di dalam ruang lingkup tersebut ada banyak teman sepermainan. Mereka datang satu per satu, menjadi kenal satu sama lain, dan mereka yang saya anggap cocok untuk berada dalam ruang lingkup saya adalah teman-teman saya pilih karena kesamaan. Pemikiran, cita-cita, masalah. Hingga akhirnya saya merasa memiliki mereka, meski saya nggak tau apakah mereka merasa begitu. 

Mereka ada untuk tumbuh bersama saya, dan melengkapi cerita saya dengan segala ciri khas mereka masing-masing. Itulah yang mebuat saya merasa memiliki mereka, dekat dengan mereka. Saya mendapat pelajaran yang mungkin tak akan saya dapat jika tidak bertemu mereka. Hal baru yang saya terima, kelak jadi salah satu faktor kenapa saya begini.

Saya pikir, saya akan tumbuh bersama mereka selamanya. Saya kira, mereka datang untuk tidak pernah pergi. Saya salah. Maka yang terjadi adalah sebaliknya. Saat di mana kami harus berpisah, adalah kebencian otomatis. Kebencian yang timbul karena pertanyaan: kenapa harus ada perpisahan. Orang bilang, setiap pertemuan pasti diakhiri dengan perpisahan. Kalau begitu, untuk apa saya dipertemukan? Kata saya kelak saat mereka pergi satu per satu.

Namun ada hal yang lebih bodoh dari itu. Mereka pergi untuk melenyapkan perasaan saya. Dan part paling bodoh terletak pada: ketika orang-orang baru mulai memasuki ruang lingkup saya. Mereka datang, menjadi kenal, dan mereka yang saya anggap cocok untuk tetap berada dalam ruang lingkup adalah orang yang berharga. Orang-orang baru ini—yang seiring berjalannya waktu menjadi berharga—kemudian akan pergi lagi. Saya kehilangan mereka lagi. Saya benci. Tapi dinamika pertemanan takkan berubah.

Kenapa?

Kepergian terjadi karena alasan. Demi hidup, demi mendapat hal baru, demi mengeksiskan dinamika ini. Dan saya yakin, dalam perjalanan mereka, orang-orang baru menghampiri. Sama dengan paa yang terjadi pada saya. Orang-orang itu datang dan pergi. Beberapa yang tersisa juga kemudian pergi. Akhirnya, kepergian mereka kembali pada saya.

Orang-orang yang pergi, bukan berarti akan pergi selama—meski dalam beberapa kasus, mereka yang pergi sudah tak pernah bisa kita temukan lagi. Adapun orang pergi kemudian kembali. Pada masa di mana lama tak bertemu, kita kan berjumpa lagi, berkumpul bersama mengenang masa-masa jahiliyah dulu. Juga mengenalkan mereka kepada orang-orang baru yang saya temui selama mereka tak ada.

“Yang itu tea...”

“Hahaha... iya yang itu tea.”

“Hahaha... yang pas si itu jadi gitu,”

“Iya, hahaha...”

Ini yang kami punya. Sampai waktu yang tidak ditentukan, kami memanfaatkan kesempatan ini. Karena dalam diri kami, sama-sama ada ketakutan bahwa waktu yang bergerak ini akan membuat kami berpisah lagi. Satu-satunya cara adalah kami menghabiskan waktu yang kami punya untuk tetap bersama.

Setelahnya, siklus tetap terjadi. Mereka harus berpisah lagi. Kami tau itu pasti terjadi. Saya sudah tak benci. Yang perlu saya lakukan adalah terbiasa untuk menyambut kedatangan dan menerima perpisahan.






*maaf untuk pembahasan receh ini

No comments:

Post a Comment