Friday, 31 March 2017

Objek (Sebuah Potongan Cerita yang Mengendap Di Dasar Kepala)



Mulanya pria ini berpikir bahwa keindahan merupakan tanggung jawab suatu objek. Setiap orang yang menikmati keindahan, entah disengaja atau tidak, mereka tinggal menatap pada objek tersebut hingga merasa kagum. Kagum dengan sesuatu yang terkandung pada objek tersebut. Begitulah keindahan. Terasa sederhana saat dinikmati namun rumit saat dipikirkan.

Maka mengawanglah si pria. Menapaki pikirannya pada udara yang hangat. Padahal di hari biasa siang seharusnya panas, dengan terik yang kejam membakar kulit orang-orang. Pria ini, karena suatu sebab, mengangguk paham. Iya, katanya. Sekalipun itu adalah batu karang yang menindih pasir putih pantai, kemudian dihantam buih bersamaan dengan terik yang memancarkan permukaannya, dengan kesadaran tinggi kita akan menemukan keindahan itu. Sekalipun itu adalah semesta yang dibumbui jutaan objek terang di malam hari yang gelap, kita akan mengaguminya suatu saat. Merekalah bentuk lain dari sekian banyak keindahan yang sewaktu-waktu kita abaikan.

Lalu pria ini kembali ke kesadarannya. Pandangannya yang blur setelah melamun, kembali menjadi jelas. Tepat ada di depan matanya, sebuah objek nyata yang sedang dilihatnya. Rupanya lamunan membawanya pada sebuah pemikiran sederhana namun dalam. Kepekaannya terhadap suatu objek sudah naik level, dalam waktu yang singkat. Seperti sebuah kemajuan datang tiba-tiba, membuat kemampuan mengamatinya bertambah.

Ditatap lagi objek di hadapannya. Kemudian pria ini berpaling saat objek tersebut bergerak. Objek tersebut ternyata hidup. Astaga! Si pria sulit mempercayainya. Objek tersebut menyadari bahwa ia telah dipandanginya cukup lama. Ternyata itu adalah seorang wanita yang telah ia pandangi sejak lama. Wanita ini pun tak merasa risih, meski sebetulnya ia bisa teriak dan menganggap pria di hadapannya seorang pengganggu. Tapi tak dilakukan. Toh, si perempuan tahu setiap orang memiliki mata, dan si pria belum tentu menatapnya dengan tidak-tidak.

Pria ini mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja dilakukannya. Kenapa ia menoleh ke kiri? Tanyanya pada diri sendiri. Oh, ya, aku baru saja berpaling dari objek yang kulihat. Lalu, mengapa aku berpaling? Ia takut. Pria ini takut objek yang dilihatnya merasa terganggu. Ia berpikir sejenak. Bukan, bukan itu yang aku inginkan, kata si pria.

Semua pertanyaan itu memuih saat si objek, wanita, teralihkan perhatiannya. Orang-orang lalu-lalang siang itu. Kendaraan membuat jalanan padat, membuat jalanan penuh dengan objek. Wanita sedang menunggu, di seberang jalan, dengan latar bangunan tidak terlalu megah. Meski begitu, mereka senada dalam warna pun serasi dalam rupa. Orang-orang di sana juga benda-benda yang hadir yang melatarinya. Indah, pikir si pria.

Di sinilah si pria yakin kalau dirinya sudah menjadi objek.

Sunday, 12 March 2017

Dinamika No. 1303



Saya punya ruang lingkup untuk bersosialisasi. Katakanlah di dalam ruang lingkup tersebut ada banyak teman sepermainan. Mereka datang satu per satu, menjadi kenal satu sama lain, dan mereka yang saya anggap cocok untuk berada dalam ruang lingkup saya adalah teman-teman saya pilih karena kesamaan. Pemikiran, cita-cita, masalah. Hingga akhirnya saya merasa memiliki mereka, meski saya nggak tau apakah mereka merasa begitu. 

Mereka ada untuk tumbuh bersama saya, dan melengkapi cerita saya dengan segala ciri khas mereka masing-masing. Itulah yang mebuat saya merasa memiliki mereka, dekat dengan mereka. Saya mendapat pelajaran yang mungkin tak akan saya dapat jika tidak bertemu mereka. Hal baru yang saya terima, kelak jadi salah satu faktor kenapa saya begini.

Saya pikir, saya akan tumbuh bersama mereka selamanya. Saya kira, mereka datang untuk tidak pernah pergi. Saya salah. Maka yang terjadi adalah sebaliknya. Saat di mana kami harus berpisah, adalah kebencian otomatis. Kebencian yang timbul karena pertanyaan: kenapa harus ada perpisahan. Orang bilang, setiap pertemuan pasti diakhiri dengan perpisahan. Kalau begitu, untuk apa saya dipertemukan? Kata saya kelak saat mereka pergi satu per satu.

Namun ada hal yang lebih bodoh dari itu. Mereka pergi untuk melenyapkan perasaan saya. Dan part paling bodoh terletak pada: ketika orang-orang baru mulai memasuki ruang lingkup saya. Mereka datang, menjadi kenal, dan mereka yang saya anggap cocok untuk tetap berada dalam ruang lingkup adalah orang yang berharga. Orang-orang baru ini—yang seiring berjalannya waktu menjadi berharga—kemudian akan pergi lagi. Saya kehilangan mereka lagi. Saya benci. Tapi dinamika pertemanan takkan berubah.

Kenapa?

Kepergian terjadi karena alasan. Demi hidup, demi mendapat hal baru, demi mengeksiskan dinamika ini. Dan saya yakin, dalam perjalanan mereka, orang-orang baru menghampiri. Sama dengan paa yang terjadi pada saya. Orang-orang itu datang dan pergi. Beberapa yang tersisa juga kemudian pergi. Akhirnya, kepergian mereka kembali pada saya.

Orang-orang yang pergi, bukan berarti akan pergi selama—meski dalam beberapa kasus, mereka yang pergi sudah tak pernah bisa kita temukan lagi. Adapun orang pergi kemudian kembali. Pada masa di mana lama tak bertemu, kita kan berjumpa lagi, berkumpul bersama mengenang masa-masa jahiliyah dulu. Juga mengenalkan mereka kepada orang-orang baru yang saya temui selama mereka tak ada.

“Yang itu tea...”

“Hahaha... iya yang itu tea.”

“Hahaha... yang pas si itu jadi gitu,”

“Iya, hahaha...”

Ini yang kami punya. Sampai waktu yang tidak ditentukan, kami memanfaatkan kesempatan ini. Karena dalam diri kami, sama-sama ada ketakutan bahwa waktu yang bergerak ini akan membuat kami berpisah lagi. Satu-satunya cara adalah kami menghabiskan waktu yang kami punya untuk tetap bersama.

Setelahnya, siklus tetap terjadi. Mereka harus berpisah lagi. Kami tau itu pasti terjadi. Saya sudah tak benci. Yang perlu saya lakukan adalah terbiasa untuk menyambut kedatangan dan menerima perpisahan.






*maaf untuk pembahasan receh ini