Monday, 24 October 2016

Kemampuan Blenk

Sebelom postingan ini dimulai, saya pengen ngasih kabar gembira kalau sekarang saya punya keahlian baru: meramal. Saya minta waktu Anda sebentar untuk membuktikan kemampuan saya ini. Coba perhatikan, sebisa mungkin jangan sampai kehilangan fokus pada tulisan saya ini. Terus ikuti dengan konsentrasi penuh. Buat diri Anda rileks serileks-rileksnya.

Saya nggak akan minta Anda tarik napas dalam-dalam. Sebagai gantinya, saya minta pada hitungan ketiga Anda jangan pejamkan mata. Teruslah melihat ke layar di mana anda membaca blog ini. Perhatikan bagian tulisan ini! Di bagian sini adalah urutan terpenting dalam membuktikan kemampuan saya. Tolong supaya Anda masih dalam keadaan rileks. Kalau belum, masih ada waktu untuk rileks mulai dari sekarang. Saya akan ulangi, Anda boleh rileks sekarang, sementara pada hitungan ketiga Anda jangan pejamkan mata.

Satu.

Dua.

Tiga.

Tetaplah dalam kondisi terjaga. Jangan sampai Anda berpikiran yang lain. Sekarang perhatikan di belakang Anda. Ada seseorang yang memperhatikan Anda. Tengok ke belakang sekali lagi. Apakah orang itu ada? Kalau tidak ada berarti Anda sudah saya bohongi. Tapi kalau memang ada, berarti itu kebetulan. Saya harap Anda tidak keberatan dengan kemampuan saya. Postingan hari ini berakhir di sini. Terimakasih.


Gambar ini gak ada hubungannya sama postingan di atas. Tapi saya udah terlanjur punya gambar ini.

Thursday, 20 October 2016

Pada Jalan Lurus Kita Saling Bersilangan



 Di persimpangan jalan, kita datang dari arah berlawanan. Aku ke utara kau ke selatan. Kita berjalan dan bertemu di satu titik, kemudian saling melewati. Angin semilir gontai di antara kita, menyibak rambut lurusmu. Dunia berhenti berputar nol koma sekian detik. Dan saat itulah semuanya terasa sangat jelas. Aku menatap matamu, kau curi pandang menatap mataku. Keduanya tak bisa mengelak karena melihat di waktu yang bersamaan. Aku bisa melihat kerah kemejamu yang putih, kancing pertama dari kemeja, dan leher yang jenjang. Di bahu kecilmu sebelah kanan memikul tas yang tampak ringan. Mungkin hanya berisi beberapa buku pelajaran. Kita bergerak slow motion dan berlalu setelah saling membelakangi.
 
Di koridor sekolah, yang mengapit mading satu dan ruang enam belas, kita datang dari arah berlawanan. Aku dari perpustakaan, kau dari kantin. Tapi aku membawa sebungkus nasi, kau membawa novel. Kita berjalanan menuju arah berlawanan, dan bertemu di satu garis lantai. Jam tanganku berhenti berdetak, menandai waktu membeku saat kita saling menatap. Sesungguhnya aku ingin berbalik arah namun kaki terlanjur berjalan lurus. Aku ingin berhenti namun langkah sudah setengah. Kita pun saling melewati. Waktu kembali bergerak seperti biasa.

Di dalam kelas, kulihat kau di luar sana melalui jendela kelas. Kau berdiri di depan kelasmu, aku berdiri di dalam kelasku. Kita hanya terhalang satu dinding dengan jendela kaca besar. Bodoh jika kubilang kita tidak saling kelihatan sementara orang-orang menatap melalui jendela kaca itu. Keinginan untuk saling melihat tidak bisa terbantahkan karena rasa ingin tahu kita yang sedang sangat menggebu-gebu kala itu. Itu yang kita lakukan, tanpa ada gerakan tambahan, atau air muka terbuang, atau menoleh ke belakang.

Di dalam angkot jurusan pulang kita bertemu lagi. Sungguh, tak ada niatan menaiki angkot yang sama. Kebetulanlah yang mempertemukan kita. Aku duduk di bangku kiri dekat pintu, kau duduk di balakang sopir. Aku tahu sulit rasanya untuk menghindari pertemuan yang tidak disengaja; sebuah pertemuan lurus yang tidak disangka-sangka. Tak peduli beragam penumpang unik yang patut diperhatikan, yang akhirnya kulihat hanyalah kau. Aku mencoba tidak tertarik arus menuju wajahmu dengan susah payah. Namun akhirnya kalah juga. Sepanjang perjalanan, aku menatapmu dan kau menatapku. Kurasa apa yang kita lakukan sederhana, tetapi aku yakin semuanya tidak sesederhana itu. Perasaan dan situasi kita sangat rumit. Sulit diungkapkan walau dengan bahasa yang sederhana.

Aku pulang dengan membawa banyak potongan gambaran tentangmu dalam kepalaku. Saat sore hari datang, ketika aku tak banyak kerjaan, gambaran tersebut keluar dengan sendirinya seperti sebuah tayangan iklan. Karena itulah dalam malam-malam yang genting, kubuang satu per satu gambaran itu, sampai hari kesekian, gambaran tentangmu lenyap bersama waktu yang pernah membeku saat kita berhadapan. Hanya tinggal tersisa di benakku: mengapa tak ada kata ‘hai’ dalam setiap perjumpaan kita?

“Hai,” Kau bilang di suatu tempat ketika aku tak ada di sana. Kata itu sama sekali tidak aku sadari. Sekarang kukatakan “Hai” dari sini untukmu. Apa kau mendengarnya? Aku berani mengatakan tidak. Kau sama sekali tidak mendengarnya. Kita bisa mendengarnya pada saat kita di persimpangan jalan, di koridor, di angkot, dan tempat manapun di mana kita saling bertatapan. Padahal kita punya banyak kesempatan, untuk berucap lebih dari sekadar ‘hai’. Mungkin di sana, kau akan menjawabnya, "Perasaan dan situasi kita sangat rumit. Sulit diungkapkan walau dengan bahasa yang sederhana."