Tuesday, 2 August 2016

Ranggila



Di suatu pagi buta yang dingin, di saat tukang nasi goreng udah pulang tiga jam sebelumnya, saya masih berkirim email dengan bantuan koneksi wifi sehingga membuat saya harus duduk di depan laptop yang berembun.

Berhubung itu jam nanggung bagi sebagian besar orang-orang, tempat wifi sepi sekali. Cuma ada saya dan seorang wanita tua yang sudah masuk toilet dua kali. Sejak awal, dia sudah mondar-mandir di sekitar, dan saya tetap memerhatikannya. Petugas kebersihan tanpa seragam dinas, pikir saya.

Di hadapan saya, dia memunguti sampah-sampah gelas bekas kopi yang terlalu banyak berjejer di meja. Saya sedikit kagum dengannya. Sepagi itu dia sudah membersihkan area wifi umum ini. Bener-bener petugas kebersihan yang rajin dan berdedikasi tinggi.

Tetapi, setelahnya, dia menggumamkan kata-kata yang tidak bisa saya dengar tentunya. Rasa kagum saya sedikit turun karena saya mengira dia mulai stres dengan pekerjaannya, lalu melampiaskan dengan bergumam.

Dan setelahnya lagi, saya sudah tidak kagum karena melihat dia berdiri di hadapan saya sambil menaikkan roknya dan menggaruk pantatnya. Tepat di hadapan saya dan laptop saya. Saya serius. Pantatnya kotor. Dia menggaruknya dengan khidmat nan nikmat.

Kemudian saya teringat kawan saya yang pernah nanya ke saya, “Orang gila nyadar gak, ya, dirinya gila?”

Sambil sesekali membayangkan orang gila, saya cuma dapet jawaban, “Kalo dia tau dirinya gila nanti jadi pura-pura waras. Terus, nanti orang-orang mengira dirinya beneran waras.”

“Tapi orang waras aja banyak yang bertingkah gila,” jawabnya. 

Saya kembali membayangkan orang-orang sekitar saya yang pernah saya perhatikan...
 
“Iya, sih,” kata saya. “Waktu nongkrong di kafe itu, saya sempet merhatiin cewek. Kayaknya, sih, dia itu tipe pendiem, kalem, dan manis. Tapi ekspektasi saya hancur begitu dia ngeluarin hape. Tanpa merhatiin sekitar, dia melakukan selfie dengan brutal. Dengan angle yang dia mau. Dengan banyaknya pengulangan sampai dia merasa puas dengan hasil fotonya.”

Masih banyak lagi yang harusnya saya katakan tentang kegilaan orang-orang waras. Tetapi saya sudah keburu dapet satu kesimpulan: bahwa hari ini, batasan antara gila dan waras sudah semakin kabur.

Pikiran saya flashback ke beberapa taun yang lalu, di mana saya lagi reuni anak-anak SMA. Hari itu kami pergi ke tempat es buah yang letaknya di pinggir jalan gitu. Pas saya lagi nikmat-nikmatnya menyantap es buah, tiba-tiba dari jauh muncul seorang ibu-ibu dengan penampilan aneh. Palanya gundul, pake jaket sporti lusuh, celana pendek, bawa peluit tukang parkir, dan pake kaos kaki beda sebelah tapi pake sendal jepit. Saya pikir dia lagi berdandan ala visual kei.

Karena mungkin di tempat es buah jadi rame sama kita—karena kita yang lagi cekikik-haha-hihi—perhatian si ibu-ibu itu teralihkan ke kami. Perasaan saya mulai gak enak. Dia makin deket, makin deket, dan... Dia nyanyi lagu L’arc~en~Ciel. 

Nggak, saya bercanda. Nggak mungkin dia apal lagunya L’arc~en~Ciel.

“Nakanaide, nakanaide. Daisatsuna hitomi e~”

Yaaah, dia beneran nyanyiin lagunya L’arc~en~Ciel.

Oke, itu ngarang.

“Hey, Jon!” sapanya.

Entah ini takdir Tuhan atau gimana, hari itu saya kebagian duduk di bangku paling ujung deket jalan banget. Dan dia berdiri tepat di samping saya. Beneran nih, perasaan saya langsung gak enak. Nggak salah lagi dia itu anu.

“Jon!”

Sontak, anak-anak yang awalnya haha-hihi langsung pada diem semua. Saling lirik gak enak. Saya sendiri langsung panas dingin. Badan kaku. Bahkan saya nggak berani ngelirik ke dia. Kalo mau tau, perasaan dideketin orang gila sama kayak kamu tepat berada di samping pujaan hati: grogi. Bedanya cuma di bau sama atmosfernya sedikit agak black metal.

Kemudian saya ngelirik ke temen di sebelah saya, Bocin namanya. Kawan saya ini badannya gemuk, keringetan, mukanya mesum. Saya colek perut dia sambil ngomong pelan supaya si Bocin mau gantian tempat sama saya. Dia sih keliatannya biasa-biasa. Nggak kayak saya.

“Udah, santai aja,” katanya.

Bocin ada benernya. Seperti yang pernah diberitakan Discovery Channel, kalo ada ular yang mendekat, kita jangan bergerak atau pun bersuara. Jadi saya melakukan hal yang sama ke si orang gila. Tapi yang terjadi, si orang gila malah merhatiin saya.

“Udah, santai aja,” kata si Bocin lagi.

Saya langsung ngelirik si Bocin. Ternyata dia bilang santai bukan ke saya. Tapi ke temen saya di sebelahnya.

“Hey, Haji Agus!” ucap si orang gila.

Semua masih diem. Gue mulai mencerna, kepada siapa sapaan itu dituju. Sambil kepala tetap menunduk, saya berpikir keras. Memang ada kawan saya yang namanya Agus, tapi hari itu dia gak bisa hadir. Lalu kepada siapa sapaan itu dituju?

“Hey, Haji Agus! Kok, sekarang gak gemuk lagi?”

Keringet saya membasahi punggung, kemudian menjulur ke pantat.

“Cin, dia nanya ke elo tuh!” seru temen saya.

Karena saya masih nunduk, saya cuma bisa mengenali itu suaranya Ijal. Orangnya sipit, gemuk, kalo jalan-jalan suka pake kemeja kotak-kotak. Dia enak, posisi duduknya di tengah-tengah. Agak jauh sama si orang gila.

“Iya, ini nih Haji Agus mah,”

Ini lagi! Temen saya yang lain malah ikut-ikutan. Selidik demi selidik, ternyata anak-anak sepakat nunjuk si Bocin.

“Coy, kampret lo. Kenapa gue yang ditunjuk jadi Haji Agus?!”

“Hey, Haji Agus kenapa gak gemuk lagi?” ulang si orang gila.

“Iya, nih. Haji Agusnya sakit,” jawab temen saya.

Anak-anak malah ketawa. Suasana jadi gak setegang pas awal. Saya jadi sedikit punya keberanian. Kemudian saya menoleh ke anak-anak. Mereka masih ketawa-ketawa. Saya kira mereka takut sama orang gila, padahal sama gila. Habis itu, si orang gila malah pergi ke tengah jalan dengan peluitnya yang berbunyi nyaring. Mungkin dia menyangka itu memang Haji Agus yang tidak bisa menjawab pertanyaannya, dan merasa lebih baik dirinya berperan sebagai juru parkir.

Jujur, saya ini phobia sama orang gila. Banyak orang yang lebih milih takut sama hantu, preman, kecoa, atau waria. Saya tetep paling takut sama orang gila. Saya punya trauma sama yang namanya orang gila.
Ketika orang gila bermimpi, mungkinkah dia memimpikan dirinya waras? Here we go!
Dan beberapa hari yang lalu, sebelum nulis ini, saya dan seorang kawan saya sedang hunting bebas. Dan di trotoar pusat kota, saya mendapat kesempatan bertemu orang gila lagi. Sungguh saya merasa terhormat sekaligus tersanjung.

Kali ini orang gila dengan kostum yang tidak begitu lusuh tetapi meyakinkan saya dia gila hanya dengan sekali tatap saja. Dengan perasaan yang sama, saya bilang ke teman saya, “Jangan berdiri di sini, ada orang gila.”

“Emang kenapa? Cuma orang gila, kok.”

“Saya takut sama orang gila,”

“Loh?” Dia mengernyitkan dahi.

“Loh kenapa?” tanya saya.

“Bukannya kamu juga gila?”

Saya diem. Mencoba menyangkal tetapi membenarkan.

“Liat! Penampilan aja udah gila.”

Saya diem. Mencoba melihat ke dalam diri saya.

“Hey, Jon!”

No comments:

Post a Comment