Friday, 26 August 2016

Mengapa Mesum


“Hi, name is Clementine,”

Setiap kali mendengar kata Clementine, yang tertangkap oleh kuping saya justru malah kata Klentit! Yeah, kalau ditulis dengan ejaan eropa jadinya bakal Clentite. Sudah gila! Saya nggak mengada-ada. Kuping saya sudah terkontaminasi, dan otak saya membiarkannya. Entah pikiran saya rusak atau emang sayanya aja yang mesum.

Semasa di bangku sekolah, anak-anak kelas menobatkan saya sebagai ‘si mesum’. Bukan, bukan karena saya senang melakukan pelecehan seksual, tapi dulu saya terkenal karena jokes saya yang berbau blue materi. Saya mendapat banyak teman karena itu pula.

Di sela-sela penatnya belajar di kelas, saya senang membuat komik. Komik yang saya tulis bukan komik seperti yang biasa dibaca orang-orang. Saya membuat komik seks dengan bumbu humor.
Ada banyak komik sejenis yang saya buat selama duduk di bangku sekolah. Salah satu yang paling saya ingat adalah komik tentang seorang anak yang kecanduan film porno, kemudian mencintai seekor kucing betina. Memang saya menyelipkan pesan moral di dalamnya. Tapi, anak-anak terlalu menikmati ceritanya dan gambarnya yang vulgar. 

Sering kawan-kawan saya semacam request. Tentu saya akan membuatnya dengan senang hati. Saya pikir, selama apa yang saya buat bisa menghilangkan stres, mengapa tidak. Saya pun tidak mengalami kesulitan saat membuatnya. Tinggal kita membayangkan hal-hal sekitar, mengada-ada cerita, campurkan dengan film-film dewasa yang pernah kita tonton—oke ini aib, tetapi saya tidak malu mengatakannya—terakhir, tuangkan dalam bentuk narasi dan gambar, jadilah sebuah komik. Mereka pun senang.

Kawan sebangku saya selalu merasa beruntung jadi pembaca pertama. Setidaknya begitu dari yang pernah saya tanya. Dan kalau jam pelajaran benar-benar kosong, anak-anak cowok lainnya mengerubungi meja saya untuk melihat proses menggambarnya. Anak-anak cewek paling tidak mencari tahu mengapa di meja saya anak-anak cowok pada tegang sambil senyum-senyum.

Ingin sekali saya tunjukkan bukti kalau saya pernah membuat komik-komik itu. Tetapi, sejak dulu, setiap kali membuat komik seperti itu, tidak satu pun ada yang pernah saya bawa pulang. Setiap anak-anak cowok di kelas ingin membawanya ke rumah masing-masing. Biasanya anak yang membaca terakhir akan menyelipkannya di tasnya, lalu lenyap begitu saja. Atau kalau kalian bosan dengan pernyataan saya, kalian bisa mencurigai salah satu cewek di kelas saya sebagai pencuri komik seks saya. Apalagi kalau bukan isinya yang ekstrim itu, gratis pula.

Selain komik-komik ciptaan saya yang tidak senonoh, saya selalu melontarkan lelucon-lelucon kotor dari hal-hal sekitar yang saya tangkap dan amati. Hampir selalu begitu. Anak-anak pun menanggapinya dengan tawa pecah. Dan itu membuat saya terus menerus melakukan itu; karena saya senang melihat mereka tertawa terbahak-bahak dengan lelucon saya, menjadikan saya dijuluki super mesum.

Belum percaya kemesuman saya?

Oke, begini salah satunya. Dulu, di SMP, ada seorang guru bernama Barzas (salah satu huruf saya diganti supaya namanya bukan sebenarnya). Beliau adalah guru TIK berpenampilan terlampau alim. Baju lengan panjang, celana panjang (pastinya bukan celana lejing motif koran), pakai kopiah rotan. Di masa-masa awal, karena kopiah rotannya, anak-anak menjulukinya si Peci Rotan. Dan kalau beliau lagi lewat, saya selalu membayangkan langkahnya diiringi lagu Hadad Alwi atau sejenisnya.

Sebetulnya, nggak ada yang salah sama guru tersebut. Hanya saja, dia sering terlihat marah-marah; mungkin karena emang bentuk wajahnya yang terkesan arogan. Karena kami masih muda dan berbahaya, hampir semua anak cowok di kelas saya kurang senang—kalaupun ada anak cowok yang merasa biasa saja, kami doktrin supaya mereka memandang guru tersebut dari sisi buruknya.

Pada suatu siang, di lantai dua ruangan Bahasa Inggris, Pak Peci Rotan, ehm, anu, maksud saya Pak Barzas sedang terlihat mau masuk ke ruangan TIK. Saat itu, ruangan TIK kerap kali sepi, karena biasanya ruangan tersebut hanya digunakan ketika ada praktek saja. Prakteknya pun jarang-jarang dan guru-guru TIK lebih senang memberikan teori lewat buku paket yang ada. Atau tepatnya lebih senang menyuruh murid membaca, kemudian guru-guru pergi sampai kami menikah.

Kami, adalah anak-anak kelas yang kompak. Jadi siang itu, berhubung guru Bahasa Inggris sedang ada halangan, kami berkumpul sambil mengamati anak-anak yang ada di lapangan. Sejurus kemudian, secara bersamaan, kami mengamati gerak-gerik Pak Barzas yang masuk ke ruangan TIK. Sambil saling memandang satu sama lain, kami bertanya-tanya apa yang lagi dia lakukan.

Saya orang yang mudah terpancing untuk mengomentari seseorang. Apa pun itu. Ketika ada seseorang lewat di hadapan saya, mesti saya perhatikan di mana bagian anehnya, kemudian saya ceritakan pada teman saya, kadang saya campur dengan khayalan saya supaya terkesan ‘wah’. Sampai sekarang pun saya masih melakukannya. Itu seperti hal yang membuat kepekaan saya bertambah setelah melakukannya. Tetapi gara-gara itu, saya juga pernah mendapat teguran kecil dari kawan saya supaya jangan berlebihan mengomentari orang.

Dan, dengan begitu mengalir, setelah berimajinasi dengan apa yang beliau lakukan di dalam ruangan tersebut, saya mulai menyebarkan isu kepada anak-anak bahwa di dalam kopiahnya menumpuk DVD bokep best of the best yang sudah ia kumpulkan semasa hidupnya.

Awalnya sih saya bilang itu ke satu anak saja. Kemudian, kawan saya tertawa cekikikan seperti baru mendapat ilham yang menggelitiki pikirannya. Nah, karena cekikikan tersebutlah, anak-anak yang lain bereaksi dengan cepat ingin tahu apa yang sedang terjadi. Dengan cepat, mindset anak-anak rusak oleh imajinasi saya. Bodohnya, saya lanjutkan dengan berbagi fitnah kepada mereka kalau Peci Rotan baru saja menonton DVD-nya di ruangan TIK. Siang itu pun pesona alim Peci Rotan luntur di mata anak-anak. Gegara saya, tentunya.

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya, setiap kali anak-anak melihat Pak Barzas, mereka membicarakan hal yang tidak-tidak tentang beliau. Gerak-gerik beliau selalu dicurigai. Seolah apa pun yang dilakukan Pak Barzas selalu salah di mata kami. Pernah, beberapa kali, Pak Barzas membenarkan kopiahnya yang miring. Saat itu anak-anak yang melihatnya langsung ketawa terbahak-bahak. Mereka beranggapan DVD-nya terlalu penuh, sehingga kopiahnya miring tidak stabil, yang membuat kopiah dan kepalanya tidak kuat lagi menahan DVD-DVD tersebut. Anak-anak pun kerap kali membuat kode-kode miring seperti, kalau Pak Barzas masuk ke ruangan TIK yang kosong, berarti beliau sedang kangen dengan DVD-nya. Kalau Pak Barzas pergi ke WC, itu berarti beliau akan junub atau semacamnya. Kalau Pak Barzas memberikan kuliah di hadapan anak-anak, itu berarti beliau sedang memperkuat citranya sebagai guru berwibawa. Yang terpenting, kalau Pak Barzas mulai marah-marah, berarti salah satu koleksi DVD-nya baru saja hilang.

Tiga tahun bersamanya. Entah sudah berapa banyak dosa yang saya cetak untuk lelucon Peci Rotan. Kayaknya, jika teman saya yang membuat lelucon tentang beliau, saya tetap kebagian dosanya.

Begitulah adanya. Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk menyadari bahwa menikmati lelucon dari ketidaktahuan orang tersebut sebagai bahan lelucon adalah tidak bagus. Tetapi, Peci Rotan akan selalu di hati kami. Berita dan fakta palsu tentangnya yang kami buat belum akan pernah pudar; di samping masih relevan untuk dibahas oleh kawan-kawan saya. Dan akan selalu jadi bahan obrolan di setiap reuni kami.

Kiranya, kalian paham mengapa saya membeberkannya di sini. Pesan moralnya mohon untuk tidak melakukan hal-hal seperti ini. Saya harap, tidak akan ada lagi anak-anak yang seperti saya: membuat lelucon kotor dari objek yang tidak semestinya. Kalau kalian sudah atau sedang memulainya, tolong hentikan segera. Kalian harus menyesalinya di awal, pergilah ke rumah ibadah, lakukanlah taubat.
Dan dengan cerita ini, saya turut meminta maaf kepada pihak yang bersangkutan atas perbuatan saya di masa lampau (itu pun kalau kalian merasa pernah saya jadikan objek lelucon atau apalah itu, kalau tidak tahu segeralah sadar bahwa kalian pernah dijadikan bahan lelucon). HIDUP PECI ROTAN! Aduh, kumat lagi. Saya minta maaf lagi. Kali ini yang sebesar-besarnya.

Saturday, 13 August 2016

Sebuah Surat: Teruntuk Kamu yang Berlalu


Aku coba bangun pagi untuk mengecek cerahnya hari yang akan dijelang. Kuabsen benda angkasa yang biasa bergaul di atas sana. Matahari ada, awan ada, langit siap, dan lain-lainnya menyertai ketiga benda tersebut. Namun Sabtu pagi ini ternyata dingin dan mendung. Kemudian hujan. Kemudian hening. Aku diam.
 
Teh panas yang kubuat pagi ini dingin dengan sendirinya. Sisa gula yang belum teraduk masih mengendap di dasar gelas, dan aku membiarkan sendok setengah tenggelam dalam gelas beling yang tinggi. Selain menghadapi panas dalam, aku tengah memikirkan mimpi semalam yang entah berapa kali berganti. Aku tidak bisa ingat seluruhnya, tapi yang paling aku ingat adalah mimpi tentang kamu. Setidaknya begitu karena mimpi itu belum sepenuhnya pudar dalam ingatanku. 

Seringkali mimpiku mengalun dengan kisah yang terlalu abstrak. Ketidakmampuankulah yang membuat mimpiku sulit kumengerti. Logika kita dikesampingkan karenanya, dan bodohnya kita selalu percaya bahwa saat mengalami mimpi, kisahnya seolah benar-benar sedang terjadi. Lalu ketika kita terbangun, hanya beberapa per sen yang tersisa di kepala. Terlalu sulit untuk diartikan, terlalu sulit untuk diputar kembali. Itulah mengapa hanya mimpi tentangmu yang bisa aku ingat. Mimpi tentangmu selalu kuat mengakar dalam kepalaku.

Di dunia nyata, aku tidak bisa membayangkanmu dengan jelas. Sementara di mimpi, wajahmu saja begitu detail, bahkan sampai ke pori-porinya. Aku bisa lihat ada satu-dua jerawat yang memerah di keningmu—walau aku kurang hafal apa di dunia nyata kamu masih memelihara jerawat-jerawat itu. 

Sebisa mungkin aku terus menyelami mimpi-mimpi tentangmu yang tersisa. Suara hujan turun pagi hari membantu mengingat apa yang aku dan kamu lakukan dan katakan dalam mimpiku. Langit yang sendu di balik jendela membawa perasaan syahdu ketika aku bersandar di bangku yang biasa aku duduki tiap malam. Biasanya bangku itu selalu gagal membawaku ke alam imajinasi tentangmu. Tapi kali ini, bangku itu terdorong kemauannya untuk turut membantuku mengingat.

Kemudian terbersit keinginanku untuk mengumpulkan semua mimpi tentangmu. Menjadikan potongan-potongan mimpi itu seperti sebuah tayangan yang jika aku ingin mengangankanmu, tinggal kuputar saja dalam kepalaku. Kiranya kamu sudah paham mengapa aku harus melakukan semua ini.

Hujan semakin deras ketika aku mulai menyeleksi memori mimpi tentangmu. Aku memilah-milah mana yang menurutku keren. Mimpi memang lebih liar dari yang bisa kita perkirakan. Hampir semuanya keren. Sehingga aku sulit membedakan mana bagian mimpi yang bagus dan bagus sekali. Ada mimpi di mana kamu berjalan di atas air. Hampir seperti Naruto, tetapi ini kisahnya lain. Di situ kamu mendapat adegan menabur bunga anggrek ungu, kemudian kelopak demi kelopak terbawa angin, sebagian mengambang di atas permukaan air.

Lalu mimpi di mana kamu duduk membelakangiku. Menyongsong dunia luar lewat jendela tengah apartemen lantai atas. Kamu berdiri memejamkan mata, aku memandangi bahumu yang putih, dan perasaan kita membungkam gravitasi. Lompatan kita tak membuat jatuh sama sekali.



Dan mimpi di mana kamu tersenyum hingga membuat matahari bertekuk lutut di antara langit yang biru. Kamu cantik, tetaplah seperti itu. Tetaplah dengan senyuman supaya kecantikanmu tetap utuh. Aku akan ikut menjaganya. Aku akan ikut mengurusnya. Aku tidak mau wajah cantikmu babak belur hanya karena terlalu serius bergelut dengan kerasnya hidup ini. Hidup yang keras hanya terjadi di dunia nyata. Aku tidak tahu kamu telah menjalani hidup seperti apa selama tidak bersama. Tapi sekarang, biarkan aku fokus dengan sisa mimpiku, yang dihadiri kamu dalam mimpi-mimpi tertentu.

Kenangan tentangmu dan mimpi tentangmu adalah dua hal yang berbeda. Kenangan tentangmu adalah hal yang sudah terjadi di dunia yang fana ini. Hal yang berlalu dan sudah melalui proses menjadi sebuah ingatan. Dan mimpi tentangmu adalah hal yang belum tentu bisa terjadi di dunia yang kita tinggali ini. Dunia yang sekarang dihuni oleh aku dan kamu yang saling berjauhan. Bahkan aku tak tahu di belahan bumi mana kamu tinggal sekarang.

Aku hanya tahu kamu jauh. Makanya aku diam di sini supaya rindu ada gunanya. Kalau sudah di depan mata, mungkin jadi lain hasratnya. Begitulah aku membesarkan hatiku yang sudah terlalu jauh denganmu. Andai dunia nyata dan dunia mimpi saling terhubung, aku bisa menarik kamu yang ada di mimpi ke dunia nyata milikku. Tanpa perlu mengingat dirimu versi dunia nyata, yang kini kukatakan lagi, ada di suatu tempat nan jauh.

Kamu tahu kenapa aku bilang kamu jauh? Karena saking jauhnya, bukan lagi jarak yang aku bicarakan, melainkan waktu. Rupamu, ragamu, rumahmu, cangkir tehmu, sendok gulamu, semuanya ada di lain masa. Aku ingin membawamu ke sini tetapi takut sia-sia. Perbedaan dimensi ruang dan waktu hanya akan menambah rumit urusan rindu. Jadi aku biarkan kenangan pada hakikatnya, yang senantiasa bersemayam di pelupuk rindu kita. Kamu adalah kenangan. Dan kamu yang ada di mimpi, mungkin adalah refleksi dari semua kenangan yang aku simpan. Kamu yang nyata dan kamu yang maya adalah dua hal yang sangat tipis batasannya.

Meski hari ini berbeda dari apa yang kubayangkan, aku masih bahagia kamu ada ke mimpiku. Musik-musik di sini terlalu pandai membuat ngantuk. Sekarang aku harus tidur lagi, dan berharap mendapat mimpi baru tentangmu. Jika ada kesempatan bertemu di luar mimpi, aku ingin katakan bagaimana aku kepadamu belum berubah. Dan jika itu terjadi, aku akan membuang semua mimpi yang sudah kukumpulkan semenjak kamu berlalu.

Ditulis di bumi pada hari Sabtu.

Tuesday, 2 August 2016

Ranggila



Di suatu pagi buta yang dingin, di saat tukang nasi goreng udah pulang tiga jam sebelumnya, saya masih berkirim email dengan bantuan koneksi wifi sehingga membuat saya harus duduk di depan laptop yang berembun.

Berhubung itu jam nanggung bagi sebagian besar orang-orang, tempat wifi sepi sekali. Cuma ada saya dan seorang wanita tua yang sudah masuk toilet dua kali. Sejak awal, dia sudah mondar-mandir di sekitar, dan saya tetap memerhatikannya. Petugas kebersihan tanpa seragam dinas, pikir saya.

Di hadapan saya, dia memunguti sampah-sampah gelas bekas kopi yang terlalu banyak berjejer di meja. Saya sedikit kagum dengannya. Sepagi itu dia sudah membersihkan area wifi umum ini. Bener-bener petugas kebersihan yang rajin dan berdedikasi tinggi.

Tetapi, setelahnya, dia menggumamkan kata-kata yang tidak bisa saya dengar tentunya. Rasa kagum saya sedikit turun karena saya mengira dia mulai stres dengan pekerjaannya, lalu melampiaskan dengan bergumam.

Dan setelahnya lagi, saya sudah tidak kagum karena melihat dia berdiri di hadapan saya sambil menaikkan roknya dan menggaruk pantatnya. Tepat di hadapan saya dan laptop saya. Saya serius. Pantatnya kotor. Dia menggaruknya dengan khidmat nan nikmat.

Kemudian saya teringat kawan saya yang pernah nanya ke saya, “Orang gila nyadar gak, ya, dirinya gila?”

Sambil sesekali membayangkan orang gila, saya cuma dapet jawaban, “Kalo dia tau dirinya gila nanti jadi pura-pura waras. Terus, nanti orang-orang mengira dirinya beneran waras.”

“Tapi orang waras aja banyak yang bertingkah gila,” jawabnya. 

Saya kembali membayangkan orang-orang sekitar saya yang pernah saya perhatikan...
 
“Iya, sih,” kata saya. “Waktu nongkrong di kafe itu, saya sempet merhatiin cewek. Kayaknya, sih, dia itu tipe pendiem, kalem, dan manis. Tapi ekspektasi saya hancur begitu dia ngeluarin hape. Tanpa merhatiin sekitar, dia melakukan selfie dengan brutal. Dengan angle yang dia mau. Dengan banyaknya pengulangan sampai dia merasa puas dengan hasil fotonya.”

Masih banyak lagi yang harusnya saya katakan tentang kegilaan orang-orang waras. Tetapi saya sudah keburu dapet satu kesimpulan: bahwa hari ini, batasan antara gila dan waras sudah semakin kabur.

Pikiran saya flashback ke beberapa taun yang lalu, di mana saya lagi reuni anak-anak SMA. Hari itu kami pergi ke tempat es buah yang letaknya di pinggir jalan gitu. Pas saya lagi nikmat-nikmatnya menyantap es buah, tiba-tiba dari jauh muncul seorang ibu-ibu dengan penampilan aneh. Palanya gundul, pake jaket sporti lusuh, celana pendek, bawa peluit tukang parkir, dan pake kaos kaki beda sebelah tapi pake sendal jepit. Saya pikir dia lagi berdandan ala visual kei.

Karena mungkin di tempat es buah jadi rame sama kita—karena kita yang lagi cekikik-haha-hihi—perhatian si ibu-ibu itu teralihkan ke kami. Perasaan saya mulai gak enak. Dia makin deket, makin deket, dan... Dia nyanyi lagu L’arc~en~Ciel. 

Nggak, saya bercanda. Nggak mungkin dia apal lagunya L’arc~en~Ciel.

“Nakanaide, nakanaide. Daisatsuna hitomi e~”

Yaaah, dia beneran nyanyiin lagunya L’arc~en~Ciel.

Oke, itu ngarang.

“Hey, Jon!” sapanya.

Entah ini takdir Tuhan atau gimana, hari itu saya kebagian duduk di bangku paling ujung deket jalan banget. Dan dia berdiri tepat di samping saya. Beneran nih, perasaan saya langsung gak enak. Nggak salah lagi dia itu anu.

“Jon!”

Sontak, anak-anak yang awalnya haha-hihi langsung pada diem semua. Saling lirik gak enak. Saya sendiri langsung panas dingin. Badan kaku. Bahkan saya nggak berani ngelirik ke dia. Kalo mau tau, perasaan dideketin orang gila sama kayak kamu tepat berada di samping pujaan hati: grogi. Bedanya cuma di bau sama atmosfernya sedikit agak black metal.

Kemudian saya ngelirik ke temen di sebelah saya, Bocin namanya. Kawan saya ini badannya gemuk, keringetan, mukanya mesum. Saya colek perut dia sambil ngomong pelan supaya si Bocin mau gantian tempat sama saya. Dia sih keliatannya biasa-biasa. Nggak kayak saya.

“Udah, santai aja,” katanya.

Bocin ada benernya. Seperti yang pernah diberitakan Discovery Channel, kalo ada ular yang mendekat, kita jangan bergerak atau pun bersuara. Jadi saya melakukan hal yang sama ke si orang gila. Tapi yang terjadi, si orang gila malah merhatiin saya.

“Udah, santai aja,” kata si Bocin lagi.

Saya langsung ngelirik si Bocin. Ternyata dia bilang santai bukan ke saya. Tapi ke temen saya di sebelahnya.

“Hey, Haji Agus!” ucap si orang gila.

Semua masih diem. Gue mulai mencerna, kepada siapa sapaan itu dituju. Sambil kepala tetap menunduk, saya berpikir keras. Memang ada kawan saya yang namanya Agus, tapi hari itu dia gak bisa hadir. Lalu kepada siapa sapaan itu dituju?

“Hey, Haji Agus! Kok, sekarang gak gemuk lagi?”

Keringet saya membasahi punggung, kemudian menjulur ke pantat.

“Cin, dia nanya ke elo tuh!” seru temen saya.

Karena saya masih nunduk, saya cuma bisa mengenali itu suaranya Ijal. Orangnya sipit, gemuk, kalo jalan-jalan suka pake kemeja kotak-kotak. Dia enak, posisi duduknya di tengah-tengah. Agak jauh sama si orang gila.

“Iya, ini nih Haji Agus mah,”

Ini lagi! Temen saya yang lain malah ikut-ikutan. Selidik demi selidik, ternyata anak-anak sepakat nunjuk si Bocin.

“Coy, kampret lo. Kenapa gue yang ditunjuk jadi Haji Agus?!”

“Hey, Haji Agus kenapa gak gemuk lagi?” ulang si orang gila.

“Iya, nih. Haji Agusnya sakit,” jawab temen saya.

Anak-anak malah ketawa. Suasana jadi gak setegang pas awal. Saya jadi sedikit punya keberanian. Kemudian saya menoleh ke anak-anak. Mereka masih ketawa-ketawa. Saya kira mereka takut sama orang gila, padahal sama gila. Habis itu, si orang gila malah pergi ke tengah jalan dengan peluitnya yang berbunyi nyaring. Mungkin dia menyangka itu memang Haji Agus yang tidak bisa menjawab pertanyaannya, dan merasa lebih baik dirinya berperan sebagai juru parkir.

Jujur, saya ini phobia sama orang gila. Banyak orang yang lebih milih takut sama hantu, preman, kecoa, atau waria. Saya tetep paling takut sama orang gila. Saya punya trauma sama yang namanya orang gila.
Ketika orang gila bermimpi, mungkinkah dia memimpikan dirinya waras? Here we go!
Dan beberapa hari yang lalu, sebelum nulis ini, saya dan seorang kawan saya sedang hunting bebas. Dan di trotoar pusat kota, saya mendapat kesempatan bertemu orang gila lagi. Sungguh saya merasa terhormat sekaligus tersanjung.

Kali ini orang gila dengan kostum yang tidak begitu lusuh tetapi meyakinkan saya dia gila hanya dengan sekali tatap saja. Dengan perasaan yang sama, saya bilang ke teman saya, “Jangan berdiri di sini, ada orang gila.”

“Emang kenapa? Cuma orang gila, kok.”

“Saya takut sama orang gila,”

“Loh?” Dia mengernyitkan dahi.

“Loh kenapa?” tanya saya.

“Bukannya kamu juga gila?”

Saya diem. Mencoba menyangkal tetapi membenarkan.

“Liat! Penampilan aja udah gila.”

Saya diem. Mencoba melihat ke dalam diri saya.

“Hey, Jon!”