Saturday, 23 April 2016

Sebuah Paragraf Imaji


Kala hari berlalu seperti biasa, di sela waktunya aku duduk dengan pikiran yang menapaki kebebasan. Meraup sesuatu yang menyenangkan, yang terkadang bisa melupakan kehidupan. Seakan itu semua belum cukup, kubayangkan semuanya yang aku bisa. Angan yang tersusun rapi itu kubangun dengan harapan-harapan. Tak tanggung-tanggung, sekali membayangkan, dua-tiga gambaran semakin jelas.

Di satu titik, ketika datang dengan tiba-tiba, ia menghancurkan segalanya. Meluluh-lantakkan apa yang sudah tertata dengan indah. Padahal aku sengaja menciptakannya untuk kelak kuwujudkan dalam kenyataan. Dan aku harus membangun kembali dari awal. Lagi.

Mana sore yang pernah kubayangkan. Duduk berdua di atas motor, menatap ladang dan jingganya senja. Mana sore lainnya yang sendu. Melihat hujan dari dalam ruangan berkaca. Kemudian berlari menuju jalanan, melawan tetesan-tetesan yang berjatuhan. Mana malam yang sengaja kubangun imajinya. Tempat berteduh kala pulang dari luar rumah. Dengan lampu-lampu dan ruangan yang nyaman. Duduk mengingat hal yang tadi dilakukan saat di luar. Aku mendambakannya. Masih kusimpan detailnya hingga suatu saat yang tepat, kan menjadi kenyataan.

Itulah yang pernah kubangun dalam pikiranku. Sebuah gambaran untuk kelak aku ciptakan di bumi ini. Kehidupanku terpaut pada imaji.



*Hey, untuk kamu yang mau komen, jangan malu-malu. Untuk apa susah payah masuk ke sini tanpa meninggalkan jejak :)

Thursday, 14 April 2016

Mikir yang Nggak Ada

Mungkin lagi-lagi ini postingan yang nggak penting. Tulisan-tulisan tanpa arah, yang sama sekali gak ada maknanya. Kalau pun tujuannya bercerita toh tidak sampai juga. Jangankan pesan, kesan pun kadang gak pasti. Yang suka ya suka, yang nggak pun meninggalkan blog ini.

Saat menulis ini, hari sudah mau pagi di bumi bagian tertentu. Badan pun lemas, tangan kaku, kepala rasanya kayak dijilat... Lucifer. Tapi satu yang saya pikirin: saya mau nulis. Ya, setidaknya saya masih ada kemauan buat ngisi blog ini. Daripada gak ada banget bacaan bulan April. Karena sebelum sampe ke proses, maka niat terlebih dahulu. Ibadah pun begitu. Kalau nggak niat, nanti nggak ikhlas ngerjainnya. Dan terbukti, di postingan ini, saya menulis dengan lillahitaala.

Meski tanpa maksud dan tujuan, saya pengen banget bercerita tentang kehidupan pribadi. Saya mikir, duduk, rebahan, sampai akhirnya ketiduran saya nggak dapet apa-apa selain pikiran. Masalah baru. Jadi nggak lega kalo banyak mikir. Tapi adakalanya saya lagi seneng mikir. Itu di suatu waktu, kala saya nggak sibuk mikir. Kalo sibuk mikir, saya malah nggak mood. Kalo lagi mood, saya malah sibuk mikir. Serba salah juga jadinya. Belum lagi tahun ini banyak yang harus dikejar. Tapi sebelum dikejar harus direncanain dulu. Sebelum direncanain, saya harus mikir terlebih dahulu. Oh, iya, berarti tahun ini saya harus lebih banyak mikir. Eh, tapi kalo banyak pikiran malah susah mikir juga. Ah, jadi gimana enaknya aja, deh.

Apa lagi, ya, yang harus saya utarain di postingan ini?

Aduh, ketauan banget kalo postingan ini sampah. Banyak kalimat yang ditulis, maknanya nggak ada.

Hidup saya belakangan ini lumayan berat. Banyak pekerjaan yang harusnya menyenangkan, malah jadi rumit karena dibarengi momen yang kurang bagus. Tapi, deadline masih bisa kekejar lah. Meskipun deadline-nya udah lewat. Terus kerjaan yang kemarin juga harus dikejar. Tadinya saya nunggu mood yang bagus buat nyelesain semuanya. Pas ditunggu-tunggu, moodnya malah nggak dateng-dateng. Mau nggak mau, saya jadi ngerjain semuanya tanpa mood. Kosong di dalam tubuh yang dipaksakan bergerak dan otak yang keruh.

Otak saya saat menulis ini ibarat hardisk yang diisi folder di mana di dalamnya di isi folder lagi, lalu di dalamnya diisi folder lagi, diisi folder lagi, begitu seterusnya. Daleeemmm banget tapi nggak ada dasarnya. Pas nemu dasarnya, isinya folder lagi. Saya nggak tahu apa maunya. Sambil berjalan, biarlah saya nemu pencerahan.