Tuesday, 13 December 2016

Desember Siapa yang Punya

Nggak kerasa. Aslinya. Nggak kerasa 2016 mau udahan lagi aja. Dan, saya nggak mau akhir tahun ini dilewati dengan tanpa melakukan sesuatu yang keren.

Udah lima tahun ke belakang, Desember saya selalu diisi dengan hal-hal yang menyenangkan. Desember 2011 saya, diisi dengan membuat banyak momen perenungan, diiringi dengan tulisan-tulisan kecil. Waktu itu, band lagi on fire, dan sedang semangat bikin beberapa kegiatan bareng anak-anak.

Desember 2012, saya memulai draft naskah pertama saya, setelah ditolak penerbit. Desember itu, saya dapet pencerahan dari hujan-hujan yang turun terus menerus, dan musim dingin yang membuat saya menjadi lebih tegar. Duh, kok bahasanya jadi puitis gini, ya.

Desember 2013, buku pertama saya resmi beredar, dan saya (merasa) jadi penulis. Banyak kegiatan di waktu itu. Promosi, sombong-sombongan, merespons banyak orang yang ngucapin selamat. Rasanya, di tahun itu lebih menyenangkan. Banyak sesuatu nggak terduga datang setelah saya lama bersembunyi dari peradaban.

Desember 2014, saya disibukkan dengan setumpuk pesenan lukisan. Karena, di tahun itu, saya mulai dapet sampingan di mana saya jual lukisan yang orderannya didapet dari adik saya. Ceritanya, adik saya itu ngaku-ngaku bisa ngelukis. Dengan modal satu lukisan yang saya buat, dia umbar-umbar ke temennya. Terus, temen-temennya tertarik gitu, dan akhirnya banyak yang pesen ke dia. Singkat kata, dia udah bikin repot saya. Naskah baru saya sempet ketunda gara-gara orderan itu. Tapi sih, itu Desember yang paling sibuk.

Desember 2015, saya udah nggak nerima orderan lukisan lagi. Saya udah males. Soalnya tiap dapet job, foto yang saya lukis selalu wajah cowok. Itu nggak banget, sumpah. Berjam-jam, saya terus menerus merhatiin foto cowok, setidaknya sampe lukisan saya selesai. Itu yang bikin saya berenti nerima job. Lalu, saya beralih jadi tukang artwork. Saya penjaja artwork untuk brand-brand lokal. Kala Desember datang, job artwork saya mulai numpuk. Ya, meskipun sebagian besar diutangin sih...

Dan sekarang, di Deseber 2016, saya punya projek yang paling menyenangkan. Menurut saya--dan saya yakin--ini akan sangat menyenangkan. Semoga iya. Jadi, di projek ini, saya nggak sendiri ngerjain projek tersebut. Saya melibatkan temen-temen deket saya buat nyelesain projek ini. Detailnya belom bisa saya ceritain. Yang pasti, setelah projek selesai, bakal segera diupdate. Oh ya, projek ini juga yang bikin saya nggak bisa posting blog selama November. Karena memang dari November, saya dan kawan-kawan udah mulai mengembangkan projek ini. Mudah-mudahan kalian penasaran, terus ngedoain projeknya cepet selesai sekaligus sukses. Aamiin.

Desember selalu mempunyai makna yang dalem bagi banyak orang. Begitu pun dengan saya. Jadi, apa yang bakal kalian lakukan dengan Desember?

Siapa yang Ada Tatkala Peduli Tak Ada?

Siapa yang merekatkan hati menjadi utuh kembali kalau bukan seseorang yang benar-benar peduli?

Seretak-retaknya hati, akan ada seseorang yang merekatkannya lagi. Melalui kemapuannya, ia akan membuatmu kembali menikmati artinya mimpi. Saat semuanya berjalan pasti, kelak kaupikirkan bagaimana caranya menghargai.

Monday, 24 October 2016

Kemampuan Blenk

Sebelom postingan ini dimulai, saya pengen ngasih kabar gembira kalau sekarang saya punya keahlian baru: meramal. Saya minta waktu Anda sebentar untuk membuktikan kemampuan saya ini. Coba perhatikan, sebisa mungkin jangan sampai kehilangan fokus pada tulisan saya ini. Terus ikuti dengan konsentrasi penuh. Buat diri Anda rileks serileks-rileksnya.

Saya nggak akan minta Anda tarik napas dalam-dalam. Sebagai gantinya, saya minta pada hitungan ketiga Anda jangan pejamkan mata. Teruslah melihat ke layar di mana anda membaca blog ini. Perhatikan bagian tulisan ini! Di bagian sini adalah urutan terpenting dalam membuktikan kemampuan saya. Tolong supaya Anda masih dalam keadaan rileks. Kalau belum, masih ada waktu untuk rileks mulai dari sekarang. Saya akan ulangi, Anda boleh rileks sekarang, sementara pada hitungan ketiga Anda jangan pejamkan mata.

Satu.

Dua.

Tiga.

Tetaplah dalam kondisi terjaga. Jangan sampai Anda berpikiran yang lain. Sekarang perhatikan di belakang Anda. Ada seseorang yang memperhatikan Anda. Tengok ke belakang sekali lagi. Apakah orang itu ada? Kalau tidak ada berarti Anda sudah saya bohongi. Tapi kalau memang ada, berarti itu kebetulan. Saya harap Anda tidak keberatan dengan kemampuan saya. Postingan hari ini berakhir di sini. Terimakasih.


Gambar ini gak ada hubungannya sama postingan di atas. Tapi saya udah terlanjur punya gambar ini.

Thursday, 20 October 2016

Pada Jalan Lurus Kita Saling Bersilangan



 Di persimpangan jalan, kita datang dari arah berlawanan. Aku ke utara kau ke selatan. Kita berjalan dan bertemu di satu titik, kemudian saling melewati. Angin semilir gontai di antara kita, menyibak rambut lurusmu. Dunia berhenti berputar nol koma sekian detik. Dan saat itulah semuanya terasa sangat jelas. Aku menatap matamu, kau curi pandang menatap mataku. Keduanya tak bisa mengelak karena melihat di waktu yang bersamaan. Aku bisa melihat kerah kemejamu yang putih, kancing pertama dari kemeja, dan leher yang jenjang. Di bahu kecilmu sebelah kanan memikul tas yang tampak ringan. Mungkin hanya berisi beberapa buku pelajaran. Kita bergerak slow motion dan berlalu setelah saling membelakangi.
 
Di koridor sekolah, yang mengapit mading satu dan ruang enam belas, kita datang dari arah berlawanan. Aku dari perpustakaan, kau dari kantin. Tapi aku membawa sebungkus nasi, kau membawa novel. Kita berjalanan menuju arah berlawanan, dan bertemu di satu garis lantai. Jam tanganku berhenti berdetak, menandai waktu membeku saat kita saling menatap. Sesungguhnya aku ingin berbalik arah namun kaki terlanjur berjalan lurus. Aku ingin berhenti namun langkah sudah setengah. Kita pun saling melewati. Waktu kembali bergerak seperti biasa.

Di dalam kelas, kulihat kau di luar sana melalui jendela kelas. Kau berdiri di depan kelasmu, aku berdiri di dalam kelasku. Kita hanya terhalang satu dinding dengan jendela kaca besar. Bodoh jika kubilang kita tidak saling kelihatan sementara orang-orang menatap melalui jendela kaca itu. Keinginan untuk saling melihat tidak bisa terbantahkan karena rasa ingin tahu kita yang sedang sangat menggebu-gebu kala itu. Itu yang kita lakukan, tanpa ada gerakan tambahan, atau air muka terbuang, atau menoleh ke belakang.

Di dalam angkot jurusan pulang kita bertemu lagi. Sungguh, tak ada niatan menaiki angkot yang sama. Kebetulanlah yang mempertemukan kita. Aku duduk di bangku kiri dekat pintu, kau duduk di balakang sopir. Aku tahu sulit rasanya untuk menghindari pertemuan yang tidak disengaja; sebuah pertemuan lurus yang tidak disangka-sangka. Tak peduli beragam penumpang unik yang patut diperhatikan, yang akhirnya kulihat hanyalah kau. Aku mencoba tidak tertarik arus menuju wajahmu dengan susah payah. Namun akhirnya kalah juga. Sepanjang perjalanan, aku menatapmu dan kau menatapku. Kurasa apa yang kita lakukan sederhana, tetapi aku yakin semuanya tidak sesederhana itu. Perasaan dan situasi kita sangat rumit. Sulit diungkapkan walau dengan bahasa yang sederhana.

Aku pulang dengan membawa banyak potongan gambaran tentangmu dalam kepalaku. Saat sore hari datang, ketika aku tak banyak kerjaan, gambaran tersebut keluar dengan sendirinya seperti sebuah tayangan iklan. Karena itulah dalam malam-malam yang genting, kubuang satu per satu gambaran itu, sampai hari kesekian, gambaran tentangmu lenyap bersama waktu yang pernah membeku saat kita berhadapan. Hanya tinggal tersisa di benakku: mengapa tak ada kata ‘hai’ dalam setiap perjumpaan kita?

“Hai,” Kau bilang di suatu tempat ketika aku tak ada di sana. Kata itu sama sekali tidak aku sadari. Sekarang kukatakan “Hai” dari sini untukmu. Apa kau mendengarnya? Aku berani mengatakan tidak. Kau sama sekali tidak mendengarnya. Kita bisa mendengarnya pada saat kita di persimpangan jalan, di koridor, di angkot, dan tempat manapun di mana kita saling bertatapan. Padahal kita punya banyak kesempatan, untuk berucap lebih dari sekadar ‘hai’. Mungkin di sana, kau akan menjawabnya, "Perasaan dan situasi kita sangat rumit. Sulit diungkapkan walau dengan bahasa yang sederhana."

Saturday, 17 September 2016

Rindu Menurut Kehendak



Aku tepikan kau di pelupuk rindu
Bersama senandung mendayu dan bias lampau yang muncul hari itu
Sia-sia kuusir undanganmu sekarang
Sedikit saja kuhantar pergi, dimensimu mengusik banyak
Bila kau sebut ingin, kugenapkan perjumpaan
Jangan buat menunggu bila tak mau tersedu
Kita mempunyai konsepsi titik temu yang sama

Monday, 5 September 2016

The Sunshine Blogger Awards 2016



Sebuah kesempatan buat saya menjadikan The Sunshine Blogger Awards sebagai postingan pertama di bulan September yang kadang panas kadang ujan ini. Saya telah dinominasikan ke dalam Awards tersebut. Matur nuwun kagem Radira--si pemilik beberapa blog, salah satunya Eiga Rebyu yang oke itu--yang udah melibatkan saya.  Baiklah, sebelum saya menjawab pertanyaans dari Radira, ada baiknya saya ucap sedikit aturan The Sunshine Blogger Awards:
  • Post the award on your blog
  • Thank the person who nominated you
  • Answer the 11 questions they set you
  • Pick another 11 bloggers (and let them know they are nominated!)
  • Set them 11 questions
Itu saya contek peraturannya dari blognya dia dan masih pake bahasa inggris lantaran saya belum mau menerjemahkan ke dalam bahasa. Inilah pertanyaan dari Radira berikut jawaban dari saya (yang saya jawab dengan rada panjang berhubung saya sengaja luangkan waktu buat ini): 

1. When was the last time you go to cinema? 
Saya senang ketika kampung saya mengadakan layar tancep, apalagi menayangkan filmnya Suzanna dan Bang Bokir.

2. What's your favorite quote from movie?
Tertawalah, maka mereka akan tertawa denganmu. Menangislah, maka kau akan menangis sendirian. ~Oldboy

3. Park Chan-wook or Bong Joon-ho?
Park Choon-ho (fusion dari kedua di atas).

4. If you could be a character from movie, which one would it be?
Hannibal Lecter from The Silence of The Lambs.

5. Korean series or Japanese series?
Japanese series.

6. What's your favorite villain character from TV series?
Negan from The Walking Dead.

7. How many Danish movies you ever watched?
But I like Danish Monde Cookies.

8. What's the most absurd movie you ever watched? 
The Holy Mountain.

9. What's your first song you sing in Smule?
Saya masih melakukannya di kamar mandi.

10. Give me 'two words' to describe about post rock!
Rock but post!

11. Suede (band) or Blur (band)?
Sublur (Eyang Sublur).

__________________________________________________________________________________

Dan di bawah ini adalah pertanyaan untuk kalian makan!

1. Apakah kamu manusia?

2. Jika iya, apa alasannya? Dan mengapa?

3. Seandainya diberi kesempatan jadi hewan, kamu mau jadi hewan apa? Kenapa?

4. Seandainya kamu malaikat yang diturunkan ke bumi, apa yang akan kamu lakukan?

5. Berapa kali kamu berkaca dalam sehari?

6. Bagaimana bisa kamu menyadari bahwa dirimu yang sekarang adalah wujud kamu yang sebenarnya?

7. Perkiraan kamu tentang besok?

8. Bayangan kamu tentang 10 tahun ke depan?

Saya harap kalian menjawabnya dengan senang.

Maka orang yang berhak menjawab adalah:
1. Muhamad Fikri Nugraha dari fikrinugraha12
2. Kamas the Ecad dari kamaswood
3. Lukmanul Hakim dari silumankehidupan
4. Another Radira dari  jengkelinih
5. Niken dari nikenbicarafilm
6. Untuk kamu yang baca ini, kamu berhak menjawab lewat comment atau kolom komentar di bawah ini. Selamat menjawab!

Friday, 26 August 2016

Mengapa Mesum


“Hi, name is Clementine,”

Setiap kali mendengar kata Clementine, yang tertangkap oleh kuping saya justru malah kata Klentit! Yeah, kalau ditulis dengan ejaan eropa jadinya bakal Clentite. Sudah gila! Saya nggak mengada-ada. Kuping saya sudah terkontaminasi, dan otak saya membiarkannya. Entah pikiran saya rusak atau emang sayanya aja yang mesum.

Semasa di bangku sekolah, anak-anak kelas menobatkan saya sebagai ‘si mesum’. Bukan, bukan karena saya senang melakukan pelecehan seksual, tapi dulu saya terkenal karena jokes saya yang berbau blue materi. Saya mendapat banyak teman karena itu pula.

Di sela-sela penatnya belajar di kelas, saya senang membuat komik. Komik yang saya tulis bukan komik seperti yang biasa dibaca orang-orang. Saya membuat komik seks dengan bumbu humor.
Ada banyak komik sejenis yang saya buat selama duduk di bangku sekolah. Salah satu yang paling saya ingat adalah komik tentang seorang anak yang kecanduan film porno, kemudian mencintai seekor kucing betina. Memang saya menyelipkan pesan moral di dalamnya. Tapi, anak-anak terlalu menikmati ceritanya dan gambarnya yang vulgar. 

Sering kawan-kawan saya semacam request. Tentu saya akan membuatnya dengan senang hati. Saya pikir, selama apa yang saya buat bisa menghilangkan stres, mengapa tidak. Saya pun tidak mengalami kesulitan saat membuatnya. Tinggal kita membayangkan hal-hal sekitar, mengada-ada cerita, campurkan dengan film-film dewasa yang pernah kita tonton—oke ini aib, tetapi saya tidak malu mengatakannya—terakhir, tuangkan dalam bentuk narasi dan gambar, jadilah sebuah komik. Mereka pun senang.

Kawan sebangku saya selalu merasa beruntung jadi pembaca pertama. Setidaknya begitu dari yang pernah saya tanya. Dan kalau jam pelajaran benar-benar kosong, anak-anak cowok lainnya mengerubungi meja saya untuk melihat proses menggambarnya. Anak-anak cewek paling tidak mencari tahu mengapa di meja saya anak-anak cowok pada tegang sambil senyum-senyum.

Ingin sekali saya tunjukkan bukti kalau saya pernah membuat komik-komik itu. Tetapi, sejak dulu, setiap kali membuat komik seperti itu, tidak satu pun ada yang pernah saya bawa pulang. Setiap anak-anak cowok di kelas ingin membawanya ke rumah masing-masing. Biasanya anak yang membaca terakhir akan menyelipkannya di tasnya, lalu lenyap begitu saja. Atau kalau kalian bosan dengan pernyataan saya, kalian bisa mencurigai salah satu cewek di kelas saya sebagai pencuri komik seks saya. Apalagi kalau bukan isinya yang ekstrim itu, gratis pula.

Selain komik-komik ciptaan saya yang tidak senonoh, saya selalu melontarkan lelucon-lelucon kotor dari hal-hal sekitar yang saya tangkap dan amati. Hampir selalu begitu. Anak-anak pun menanggapinya dengan tawa pecah. Dan itu membuat saya terus menerus melakukan itu; karena saya senang melihat mereka tertawa terbahak-bahak dengan lelucon saya, menjadikan saya dijuluki super mesum.

Belum percaya kemesuman saya?

Oke, begini salah satunya. Dulu, di SMP, ada seorang guru bernama Barzas (salah satu huruf saya diganti supaya namanya bukan sebenarnya). Beliau adalah guru TIK berpenampilan terlampau alim. Baju lengan panjang, celana panjang (pastinya bukan celana lejing motif koran), pakai kopiah rotan. Di masa-masa awal, karena kopiah rotannya, anak-anak menjulukinya si Peci Rotan. Dan kalau beliau lagi lewat, saya selalu membayangkan langkahnya diiringi lagu Hadad Alwi atau sejenisnya.

Sebetulnya, nggak ada yang salah sama guru tersebut. Hanya saja, dia sering terlihat marah-marah; mungkin karena emang bentuk wajahnya yang terkesan arogan. Karena kami masih muda dan berbahaya, hampir semua anak cowok di kelas saya kurang senang—kalaupun ada anak cowok yang merasa biasa saja, kami doktrin supaya mereka memandang guru tersebut dari sisi buruknya.

Pada suatu siang, di lantai dua ruangan Bahasa Inggris, Pak Peci Rotan, ehm, anu, maksud saya Pak Barzas sedang terlihat mau masuk ke ruangan TIK. Saat itu, ruangan TIK kerap kali sepi, karena biasanya ruangan tersebut hanya digunakan ketika ada praktek saja. Prakteknya pun jarang-jarang dan guru-guru TIK lebih senang memberikan teori lewat buku paket yang ada. Atau tepatnya lebih senang menyuruh murid membaca, kemudian guru-guru pergi sampai kami menikah.

Kami, adalah anak-anak kelas yang kompak. Jadi siang itu, berhubung guru Bahasa Inggris sedang ada halangan, kami berkumpul sambil mengamati anak-anak yang ada di lapangan. Sejurus kemudian, secara bersamaan, kami mengamati gerak-gerik Pak Barzas yang masuk ke ruangan TIK. Sambil saling memandang satu sama lain, kami bertanya-tanya apa yang lagi dia lakukan.

Saya orang yang mudah terpancing untuk mengomentari seseorang. Apa pun itu. Ketika ada seseorang lewat di hadapan saya, mesti saya perhatikan di mana bagian anehnya, kemudian saya ceritakan pada teman saya, kadang saya campur dengan khayalan saya supaya terkesan ‘wah’. Sampai sekarang pun saya masih melakukannya. Itu seperti hal yang membuat kepekaan saya bertambah setelah melakukannya. Tetapi gara-gara itu, saya juga pernah mendapat teguran kecil dari kawan saya supaya jangan berlebihan mengomentari orang.

Dan, dengan begitu mengalir, setelah berimajinasi dengan apa yang beliau lakukan di dalam ruangan tersebut, saya mulai menyebarkan isu kepada anak-anak bahwa di dalam kopiahnya menumpuk DVD bokep best of the best yang sudah ia kumpulkan semasa hidupnya.

Awalnya sih saya bilang itu ke satu anak saja. Kemudian, kawan saya tertawa cekikikan seperti baru mendapat ilham yang menggelitiki pikirannya. Nah, karena cekikikan tersebutlah, anak-anak yang lain bereaksi dengan cepat ingin tahu apa yang sedang terjadi. Dengan cepat, mindset anak-anak rusak oleh imajinasi saya. Bodohnya, saya lanjutkan dengan berbagi fitnah kepada mereka kalau Peci Rotan baru saja menonton DVD-nya di ruangan TIK. Siang itu pun pesona alim Peci Rotan luntur di mata anak-anak. Gegara saya, tentunya.

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya, setiap kali anak-anak melihat Pak Barzas, mereka membicarakan hal yang tidak-tidak tentang beliau. Gerak-gerik beliau selalu dicurigai. Seolah apa pun yang dilakukan Pak Barzas selalu salah di mata kami. Pernah, beberapa kali, Pak Barzas membenarkan kopiahnya yang miring. Saat itu anak-anak yang melihatnya langsung ketawa terbahak-bahak. Mereka beranggapan DVD-nya terlalu penuh, sehingga kopiahnya miring tidak stabil, yang membuat kopiah dan kepalanya tidak kuat lagi menahan DVD-DVD tersebut. Anak-anak pun kerap kali membuat kode-kode miring seperti, kalau Pak Barzas masuk ke ruangan TIK yang kosong, berarti beliau sedang kangen dengan DVD-nya. Kalau Pak Barzas pergi ke WC, itu berarti beliau akan junub atau semacamnya. Kalau Pak Barzas memberikan kuliah di hadapan anak-anak, itu berarti beliau sedang memperkuat citranya sebagai guru berwibawa. Yang terpenting, kalau Pak Barzas mulai marah-marah, berarti salah satu koleksi DVD-nya baru saja hilang.

Tiga tahun bersamanya. Entah sudah berapa banyak dosa yang saya cetak untuk lelucon Peci Rotan. Kayaknya, jika teman saya yang membuat lelucon tentang beliau, saya tetap kebagian dosanya.

Begitulah adanya. Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk menyadari bahwa menikmati lelucon dari ketidaktahuan orang tersebut sebagai bahan lelucon adalah tidak bagus. Tetapi, Peci Rotan akan selalu di hati kami. Berita dan fakta palsu tentangnya yang kami buat belum akan pernah pudar; di samping masih relevan untuk dibahas oleh kawan-kawan saya. Dan akan selalu jadi bahan obrolan di setiap reuni kami.

Kiranya, kalian paham mengapa saya membeberkannya di sini. Pesan moralnya mohon untuk tidak melakukan hal-hal seperti ini. Saya harap, tidak akan ada lagi anak-anak yang seperti saya: membuat lelucon kotor dari objek yang tidak semestinya. Kalau kalian sudah atau sedang memulainya, tolong hentikan segera. Kalian harus menyesalinya di awal, pergilah ke rumah ibadah, lakukanlah taubat.
Dan dengan cerita ini, saya turut meminta maaf kepada pihak yang bersangkutan atas perbuatan saya di masa lampau (itu pun kalau kalian merasa pernah saya jadikan objek lelucon atau apalah itu, kalau tidak tahu segeralah sadar bahwa kalian pernah dijadikan bahan lelucon). HIDUP PECI ROTAN! Aduh, kumat lagi. Saya minta maaf lagi. Kali ini yang sebesar-besarnya.

Saturday, 13 August 2016

Sebuah Surat: Teruntuk Kamu yang Berlalu


Aku coba bangun pagi untuk mengecek cerahnya hari yang akan dijelang. Kuabsen benda angkasa yang biasa bergaul di atas sana. Matahari ada, awan ada, langit siap, dan lain-lainnya menyertai ketiga benda tersebut. Namun Sabtu pagi ini ternyata dingin dan mendung. Kemudian hujan. Kemudian hening. Aku diam.
 
Teh panas yang kubuat pagi ini dingin dengan sendirinya. Sisa gula yang belum teraduk masih mengendap di dasar gelas, dan aku membiarkan sendok setengah tenggelam dalam gelas beling yang tinggi. Selain menghadapi panas dalam, aku tengah memikirkan mimpi semalam yang entah berapa kali berganti. Aku tidak bisa ingat seluruhnya, tapi yang paling aku ingat adalah mimpi tentang kamu. Setidaknya begitu karena mimpi itu belum sepenuhnya pudar dalam ingatanku. 

Seringkali mimpiku mengalun dengan kisah yang terlalu abstrak. Ketidakmampuankulah yang membuat mimpiku sulit kumengerti. Logika kita dikesampingkan karenanya, dan bodohnya kita selalu percaya bahwa saat mengalami mimpi, kisahnya seolah benar-benar sedang terjadi. Lalu ketika kita terbangun, hanya beberapa per sen yang tersisa di kepala. Terlalu sulit untuk diartikan, terlalu sulit untuk diputar kembali. Itulah mengapa hanya mimpi tentangmu yang bisa aku ingat. Mimpi tentangmu selalu kuat mengakar dalam kepalaku.

Di dunia nyata, aku tidak bisa membayangkanmu dengan jelas. Sementara di mimpi, wajahmu saja begitu detail, bahkan sampai ke pori-porinya. Aku bisa lihat ada satu-dua jerawat yang memerah di keningmu—walau aku kurang hafal apa di dunia nyata kamu masih memelihara jerawat-jerawat itu. 

Sebisa mungkin aku terus menyelami mimpi-mimpi tentangmu yang tersisa. Suara hujan turun pagi hari membantu mengingat apa yang aku dan kamu lakukan dan katakan dalam mimpiku. Langit yang sendu di balik jendela membawa perasaan syahdu ketika aku bersandar di bangku yang biasa aku duduki tiap malam. Biasanya bangku itu selalu gagal membawaku ke alam imajinasi tentangmu. Tapi kali ini, bangku itu terdorong kemauannya untuk turut membantuku mengingat.

Kemudian terbersit keinginanku untuk mengumpulkan semua mimpi tentangmu. Menjadikan potongan-potongan mimpi itu seperti sebuah tayangan yang jika aku ingin mengangankanmu, tinggal kuputar saja dalam kepalaku. Kiranya kamu sudah paham mengapa aku harus melakukan semua ini.

Hujan semakin deras ketika aku mulai menyeleksi memori mimpi tentangmu. Aku memilah-milah mana yang menurutku keren. Mimpi memang lebih liar dari yang bisa kita perkirakan. Hampir semuanya keren. Sehingga aku sulit membedakan mana bagian mimpi yang bagus dan bagus sekali. Ada mimpi di mana kamu berjalan di atas air. Hampir seperti Naruto, tetapi ini kisahnya lain. Di situ kamu mendapat adegan menabur bunga anggrek ungu, kemudian kelopak demi kelopak terbawa angin, sebagian mengambang di atas permukaan air.

Lalu mimpi di mana kamu duduk membelakangiku. Menyongsong dunia luar lewat jendela tengah apartemen lantai atas. Kamu berdiri memejamkan mata, aku memandangi bahumu yang putih, dan perasaan kita membungkam gravitasi. Lompatan kita tak membuat jatuh sama sekali.



Dan mimpi di mana kamu tersenyum hingga membuat matahari bertekuk lutut di antara langit yang biru. Kamu cantik, tetaplah seperti itu. Tetaplah dengan senyuman supaya kecantikanmu tetap utuh. Aku akan ikut menjaganya. Aku akan ikut mengurusnya. Aku tidak mau wajah cantikmu babak belur hanya karena terlalu serius bergelut dengan kerasnya hidup ini. Hidup yang keras hanya terjadi di dunia nyata. Aku tidak tahu kamu telah menjalani hidup seperti apa selama tidak bersama. Tapi sekarang, biarkan aku fokus dengan sisa mimpiku, yang dihadiri kamu dalam mimpi-mimpi tertentu.

Kenangan tentangmu dan mimpi tentangmu adalah dua hal yang berbeda. Kenangan tentangmu adalah hal yang sudah terjadi di dunia yang fana ini. Hal yang berlalu dan sudah melalui proses menjadi sebuah ingatan. Dan mimpi tentangmu adalah hal yang belum tentu bisa terjadi di dunia yang kita tinggali ini. Dunia yang sekarang dihuni oleh aku dan kamu yang saling berjauhan. Bahkan aku tak tahu di belahan bumi mana kamu tinggal sekarang.

Aku hanya tahu kamu jauh. Makanya aku diam di sini supaya rindu ada gunanya. Kalau sudah di depan mata, mungkin jadi lain hasratnya. Begitulah aku membesarkan hatiku yang sudah terlalu jauh denganmu. Andai dunia nyata dan dunia mimpi saling terhubung, aku bisa menarik kamu yang ada di mimpi ke dunia nyata milikku. Tanpa perlu mengingat dirimu versi dunia nyata, yang kini kukatakan lagi, ada di suatu tempat nan jauh.

Kamu tahu kenapa aku bilang kamu jauh? Karena saking jauhnya, bukan lagi jarak yang aku bicarakan, melainkan waktu. Rupamu, ragamu, rumahmu, cangkir tehmu, sendok gulamu, semuanya ada di lain masa. Aku ingin membawamu ke sini tetapi takut sia-sia. Perbedaan dimensi ruang dan waktu hanya akan menambah rumit urusan rindu. Jadi aku biarkan kenangan pada hakikatnya, yang senantiasa bersemayam di pelupuk rindu kita. Kamu adalah kenangan. Dan kamu yang ada di mimpi, mungkin adalah refleksi dari semua kenangan yang aku simpan. Kamu yang nyata dan kamu yang maya adalah dua hal yang sangat tipis batasannya.

Meski hari ini berbeda dari apa yang kubayangkan, aku masih bahagia kamu ada ke mimpiku. Musik-musik di sini terlalu pandai membuat ngantuk. Sekarang aku harus tidur lagi, dan berharap mendapat mimpi baru tentangmu. Jika ada kesempatan bertemu di luar mimpi, aku ingin katakan bagaimana aku kepadamu belum berubah. Dan jika itu terjadi, aku akan membuang semua mimpi yang sudah kukumpulkan semenjak kamu berlalu.

Ditulis di bumi pada hari Sabtu.