Monday, 21 December 2015

Mantra (bagian kedua)

Ada mata yang tak sanggup kautatap. Ada hati yang tak sanggup kauhangatkan. Ada suara yang tak sanggup kaudengar. Dan ada nama yang tak sanggup kaugaungkan. Itu adalah keraguan.

Ada gumam yang tak sanggup kau maknai. Ada bisik yang tak sanggup kau hindari. Ada jemari yang kaubiarkan menari. Di atas dahi yang dipenuhi perkara hati. Itu adalah gamang. Penghalang ketika kau terlalu mudah dihadang.

Suar telah lama padam. Namun perasaan tak semudah itu. Aku masih sanggup mencari.

Saturday, 12 December 2015

Di Mana Dia? (bagian pertama)

Sesekali, bolehlah saya bertutur dengan yang agak berat, atau sok berat jika tak bisa dibilang berat.

Musim dingin selalu punya sesuatu yang sendu untuk diceritakan. Kadangkala, dalamnya tak terkontrol. Tak sedangkal celana dalam yang setiap saat bisa dimasuki apa saja yang bersyahwat. Sehingga, jika sendu adalah dalam, maka itu adalah fermentasi perasaan. Kurang lebih kalau diseret ke istilah jaman sekarang, itu adalah baper. Yang mana setiap saat mengena di hati para perasa.

Baper adalah ujian kecil bagi penolak melankolis. Ia kadang tiba-tiba mengiris suasana riang menjadi potongan kecil hal miris. Bagi penikmat sakit, ini adalah kesempatan untuk merasakan sensasi berlebihan seperti meremas-remas diri seperti kedinginan, atau menunjukkan ekspresi wajah yang tak sedap dipandang. Katakanlah ini adalah upaya untuk mendapat perhatian orang terdekat supaya mereka bertanya atau menjadi tempat curahan omong kosong yang kita sebut curhat.

Apa sudah kesedihan lenyap dari kehidupan setiap orang? Mungkinkah konsep kehilangan seseorang bisa kita ganti dengan opsi yang lebih menyenangkan? Kemungkinan besarnya mustahil karena hal-hal semacam itu akan dan harus terjadi. Karena itu adalah salah dua dari sekian banyak faktor baper.

Oke, saya baru saja memulai omong kosong itu. Saya akui saya lagi baper.  Sekarang, saya tanya pada ketiadaan, di mana dia?

Friday, 4 December 2015

Sendirian?

Sendiri atau sama-sama, kalau buang air tetap akan dan harus sendirian. Pertama, supaya alat vital terjaga dari khalayak. Kedua, pasti bakal jadi momen mencekam kalau buang air sama-sama. Kalo nggak percaya, coba aja pipis bareng Zodiac Killer. Insya Allah kelaminmu tiada dalam hitungan detik. Ketiga, kalo lupa disiram jadi nggak terlalu malu. Apalagi nggak ada yang liat atau ngingetin. Itulah salah satu fungsi dari sendirian.

Sendiri itu enak. Kalo nggak ada yang nanya nggak usah dijawab. Kalo ada yang nanya nggak usah rebutan jawab. Ini bukan cerdas cermat, tapi cuma pertanyaan-pertanyaan normal. Tapi kalo lagi sendiri suka ada yang nanya, "Sendirian?" Biasanya sih saya diemin dulu bentar. Setelah tiga jam kemudian, pas dia udah menyadari saya itu sendirian, dia nggak perlu jawaban. Itulah salah satu fungsi sendirian.

Mau pergi ke mana pun nggak bakalan ada yang minta tungguin, nggak usah janjian, atau minta ketemuan. Janjian terus kita yang nunggu itu hal ribet yang tercipta dari teori tatap muka. Kurang lebih kayak gitu. Kalo pergi sendiri ke suatu tempat, kita tinggal dateng, duduk atau liat-liat, terus pulang setelah puas. Enak. Coba bayangin kalo kita pergi sama-sama. Kita mau pergi ke suatu tempat pun jadi kerasa lama. Belom lagi kalo salah satu yang ikut adalah kekasih atau orang tersayang. Terus di perjalanan dia minta digandeng tangannya kayak orang struk yang baru belajar jalan.

Nonton film, nonton konser, atau nonton sesuatu lebih mudah kalo sendirian. Nggak bakal ada pertanyaan mengganggu kayak, "Ih, nonton apa, sih? Ikutan, dong." Atau, "Ih, nonton apa, sih? Oh, itu. Eh, kok, anunya gerak-gerak? Jijik, ih. Skip aja, skip!"

Mau buka pintu lebih mudah kalo sendiri. Kalo bareng-bareng bikin rusuh dan jadi mudorot. Buka pintu sendiri, stepnya simpel. Samperin pintu, masukin kunci ke lobang, tarik gagang pintu, dan kebuka pintunya. Kalo buka pintu bareng-bareng, kita samperin pintunya bareng-bareng, pintunya makin jauh karena dia mengira kita mau apa-apain pintunya. Pas pintunya diem, kita buka rame-rame. Yang satu pegang gagang pintu. Yang satu pegang kunci. Yang satu lagi bilang, "Pintunya bukan yang itu!" Alhasil pintunya nggak kebuka-buka.

Tidur sendiri lebih efektif ketimbang tidur berdua. Apalagi tidur berdua sama cewek cakep. Kita pasti sebelum tidur harus apa-apa dulu. Yah, minimal mikirin yang nggak-nggak. Itu kalo berdua. Kalo banyakan, kita jadinya gangbang. Makanya, tidur sendiri itu nggak repot.

Terkadang kita emmang perlu sendiri untuk mencapai sesuatu. Tapi, bagaimanapun, di mana pun, dan alasan apa pun, sendiri itu cuma istilah. Pasa kenyataannya, kita nggak pernah bisa sendirian. Selalu ada yang mengawasi setiap apa yang kita lakukan. Keliatan atau nggak, yang pasti kita nggak sendiri.