Tuesday, 28 July 2015

Tips Menjadi Playboy

Banyak cowok yang mengidamkan dirinya menjadi tampan, keren, dan berkharisma. Ketiga faktor itulah yang nantinya akan membuat cowok-cowok terlihat atau dianggap playboy. Karena faktor-faktor itu mendukung para cowok untuk mendapatkan cewek dengan mudah. Dengan demikian, di bawah ini adalah tips menjadi Playboy berdasarkan hasil pengamatan seorang yang lumayan keren di bidangnya, yaitu saya sendiri, yang telah melalui riset dan asam garam hidup.

1. Playboy identik dengan hal-hal yang berbau playboy. Maka dengan itu pakailah kaos berlogo kelinci yang menghadap ke samping kiri dengan dasi kupu-kupu di lehernya, atau kita lebih sering mengenal ikon itu dengan merek Playboy. Dengan begitu kamu, para cowok, bisa dikatakan cowok Playboy.

2. Gunakanlah bondu bertelinga kelinci. Jangan lupa pakai dasi kupu-kupu. Silakan lakukan selfie dengan kepala menghadap samping kiri. Dengan begitu kamu sudah seperti logo Playboy. Dan sekali lagi, kamu bisa dikatakan cowok Playboy.

3.Minggu pagi adalah hari yang tepat untuk berjalan-jalan ke pameran atau pasar dadakan yang sering diadakan di taman kota atau jalan baru. Pergilah ke sana atau di mana pun tempat yang menjual hewan kelinci. Belilah satu, jangan lupa beli dasi kupu-kupu untuk dipakaikan ke leher si kelinci. Setelah itu bawalah keliling kampung dan tunjukkan pada orang-orang kalau kamu memelihara kelinci yang mirip ikon Playboy. Dengan begitu, untuk kesekian kalinya kamu akan dianggap cowok Playboy.

4. Jikalau di luar rumah tak ada tanda-tanda akan hujan, ada baiknya kamu main ke luar rumah. Karena sesungguhnya jika dibahasa Indonesiakan, 'play' artinya main, dan 'boy' berarti cowok. Jadi kurang lebih artinya cowok yang bermain. Dengan begitu, untuk kesekian-sekian kalinya kamu bisa dikatakan cowok Playboy.

5. Kata 'playboy' bisa juga diartikan secara terbalik menjadi 'main cowok'. Tapi makna 'main cowok' memiliki konotasi dan orientasi bahwa kamu gay. Lebih baik kamu menafsirkan kata 'playboy' seperti nomor 4 saja. Lalu abaikan saja tips nomor 5 ini jika tidak berkenan.

6. Saya sudah lelah meneliti bagaimana menjadi Playboy. Sebenarnya saya pacar pun nggak punya. Buat cewek-cewek yang minat sama saya silakan kontak ke email saya aja. Nanti gimana-gimananya kita obrolin lagi. Semoga bermanfaat. Amin.

Sunday, 26 July 2015

Suatu Malam Bersama Teman

Sudah malam. Terlalu larut untuk dikatakan malam. Anak-anak kecil sudah tertidur pulas di rumah masing-masing. Ranjang-ranjang bergoyang, didesak sepasang pengantin anyar. Mereka bermalam di dalam selimut, di atas kasur yang menjadi panas.Para tetangga sedikit gusar mendengar decitan ranjang di sebelah rumahnya.

Sementara aktivitas manusia mulai tidak aktif, saya masih di luar bersama seorang kawan, baru saja melalui parti rumahan yang dibuat bersama teman-teman. Malam terlalu damai untuk melanjutkan parti. Lagipula teman-teman sudah tak sanggup melanjutkannya. Hanya tersisa dampak parti: kelelahan dan ingin tidur. Ternyata bukan saja bekerja, senang-senang pun bisa membuat lelah. Sebagian dari mereka sudah tidur, sebagian lagi mabuk sampai akhirnya tidur. Lalu, saya sadari tinggal saya dan seorang kawan ini, yang juga duduk di bangku yang sejenis, tapi letaknya di sebelah saya. 

Saya tak turut mabuk, dan memang belum pernah benar-benar mabuk lagi setelah kejadian tiga tahun silam, saat saya di rumah si Agi, di acara ulang tahunnya. Saya mabuk daging dan nasi kebuli. Ah, betapa kampungan sekali saya waktu itu, melahap banyak hidangan acara ulang tahun. Tapi malam ini, saya seratus persen sadar. Oke, ralat, delapan puluh sembilan persen sadar. Sebelas persen sisanya faktor ngantuk juga.

Ingin sekali rasanya ngobrol secara berkualitas bersama teman di sebelah saya ini. Tapi kami berdua telah memaklum bahwa malam ini takkan ada obrolan keren, cerdas, atau apa pun itu. Yang ada hanya obrolan tak berarah, sampai akhirnya bermuara pada percakapan yang tak jelas juga.

"Aku mah ngebebasin suami aku buat kumpul bareng temen-temennya, minum-minum," kata si teman. Dia adalah ibu muda, umurnya semuran saya, dan sedang mengandung anak pertamanya.

"Hmm... Itu bagus, suamimu kan berjiwa bebas," jawab saya

"Iya, tapi aku juga suka kesel," ucapnya dengan alis menukik.

"Kesel gimana?"

"Aku kan udah pesen ke suamiku. Aku bilang gini, 'Kamu boleh aja minum, tapi jangan main cewek.' Gitu."

"Wah, terus apa kata dia?"

"Pokoknya aku larang suamiku supaya jangan deket cewek-cewek nakal. Tapi akhirnya dia mah suka bandel."

"Nah, kalo aku jadi suami kamu, dan dapet restu minum-minum dari kamu. Yang aku lakuin pertama langung pergi minum-minum. Abis itu pulangnya bawa cewek, kuanggap dia selingkuhanku."

"Kamu sama aja dong,"

"Iya lah. Terus aku bilang aja, "Ini kan efek minum-minum."

"Ih, jahat."

"Kalo suamimu jangan selingkuh, berarti suamimu jangan minum-minum juga."

Habislah percakapan kami setelah dia mengangguk sambil memasang wajah nggak ngerti. Terus dia beranjak untuk mengumpulkan gelas-gelas bekas minum-minum, wadah bekas camilan, dan botol-botol alkohol yang sudah tak berisi.

Tuesday, 14 July 2015

Suatu Sore Bersama Agus

Sewaktu SMA, jarak dari rumah ke sekolah itu lumayan jauh. Dua kali naek angkot, setengah jam perjalanan. (Itu kalo sopir angkothya nggak ngetem atau ngadain resepsi nikah siri di Puncak.) Nggak kayak temen-temen, saya ke sekolah naek angkot. Pas kelas tiga, keluarga pindah rumah, dan jarak dari rumah ke sekolah jadi lebih jauh lagi. Tiga kali naek angkot.

Mengingat ongkos angkot mahal dan uang jajan nggak seberapa, saya selalu berusaha menyiasati supaya keuntungan buat perut lebih termanjakan. Meskipun sebenernya termanjakan ala saya itu murahan banget: cukup dengan makan mie ayam di pusat perkotaan. Maka, terbersitlah ide untuk nebeng sama temen.

Hampir semua temen kelas pada punya motor. Nah, di sanalah sumber pemecahan masalah ongkos. Sejujurnya, temen-temen di kelas pada baik hati mau bawa sebungkus anak bertopeng kardus ini.  api kalo berangkat ke sekolah pagi-pagi, saya nggak mungkin bisa berangkat bareng mereka karena faktor umum. Pertama, kasian kalo mereka harus jemput ke rumah. Kedua, rumah saya berada di spot terpencil dan nggak ada temen sekelas yang rumah deketan. Ketiga, mungkin kalo temen sekelas saya alien atau predator, saya bisa nebeng mereka. Soalnya rata-rata penduduk daerah saya berjenis alien atau predator. Jadilah saya bisa nebeng kalo pulang sekolah aja. Itu juga nggak sampe rumah. Takut temen-temen yang nganter saya jadi musuh alien atau predator.

Ada beberapa temen yang udah langganan ditumpangin motornya. Saking langganan banget saya numpang, bukan saya yang minta, tapi mereka sendiri yang nawarin tumpangan. Bahkan mereka udah nyarter gue buat beberapa hari selanjutnya sebagai tumpangan mereka. Mereka juga bikin daftar kapan mereka bisa ajakin gue balik bareng, kapan nggak. Baik banget mereka. Padahal gue nggak pernah kasih uang bensin. Tapi, ada satu temen yang perlu saya kasih award sebagai Best Tumpangan Achievement Ever Banget Pisan karena jasanya yang besar buat kehidupan saya dan perut saya.

Sebut saja Agus. Nama aslinya emang Agus. Tapi kalo mau manggil Agus gak apa-apa. Terserah kalian. Mau panggil Agus atau Agus. Dia pemuda soleh dengan batu akik black oval atau orang-orang menyebutnya tahi lalat di samping hidungnya. Pemuda ini sudah saya tumpangi. Ehm, maksudnya motornya yang saya tumpangi sejak saya kelas satu SMA STM. Entah bagaimana mulanya kami kenalan, yang pasti saat itu saya dan dia sudah menjadi dekat akibat saya sering numpang pulang bareng.

Tiga tahun menjadi tukang nebeng menjadikan pengalaman dan pelajaran buat saya. Entah itu tentang survive, mau pun tentang cara pulang sekolah yang aman tapi irit. Apalagi selama itu, saya nebeng dengan berbeda-beda teman. Makin banyaklah pengalaman saya. Tapi, hanya Aguslah yang memberikan pengalaman luar biasa. Yakni, di penghujung kelas tiga, adalah akhir dari kisah tebeng menebeng saya meninggalkan misteri yang amat mendalam dan menjadi X files sampai saat ini.

Di sore itu, matahari sudah siap-siap tenggelam. Langitnya yang kuning sendu syahdu gitu, cocok buat merenung di teras. Pada jam segitu, waktu itu, kami baru balik dari praktek bangunan. Anak-anak kelas udah pada balik lantaran udah pada keringetan, kolor udah penuh tanah, muka pada gak jelas. Karena udah terlalu sore, saya Asharan (solat Ashar) di mushola sekolah, dan cuma tersisa temen-temen yang nggak bawa motor. Jadilah saya harus balik naek angkot, dan pastinya besok nggak bakal ada jajan mewah.

Pas balik, kebetulan ada Agus masih nongkrong di bawah pohon deket gerbang sekolah. Nggak tahu lagi ngapain. Tapi saya langsung menyadari ini berkah dari Asharan di sekolah. Tanpa saya perlu minta, Agus yang liat saya langsung nawarin diri. Dengan keadaan kucel lusuh penuh tanah kita berdua balik bareng. Terlibatlah percakapan sore syahdu itu.

Agus: Sorenya bagus, yah, Blenk.

Saya: Iya, Gus.

Agus: Sayangnya kita masih di jalan. Belom pulang.

Saya: Iya.

Agus: Ngomong-ngomong, sore gini cocok buat pacaran, ya.

Saya: Bener banget, Gus.

Agus: Kamu punya pacar?

Saya: Nggak, Gus.

Agus: Sama, saya juga.

Oh, Tuhan. Percakapan macam apa ini? Kenapa arah percakapannya ke situ? Apa sore ini membuat orang-orang yang boncengan jadi berperasaan sensitif? Apa Agus telah lama memendam perasaan itu? Berbagai macam pertanyaan di benak saya berhamburan.

Sejak percakapan canggung itu, besoknya dan hari selanjutnya, saya jarang nebeng sama Agus lagi. Takut nggak enak kalo nolak dia. Soalnya saya udah ada yang punya meskipun yang punyanya nggak ngakuin saya, dan satu hal lagi, saya normal. Normal. NORMAL. Semoga Agus juga. Amin.