Wednesday, 29 April 2015

Based On Hair Story

Postingan ini ditulis karena April segera berakhir. Yeah, sehari abis nulis portingan ini, berarti udah masuk Mei. Seiring berlalunya tanggal, kemudian berganti bulan di kalender, rambut gue makin panjang aja. Nggak ada hubungannya sih sama topik inti. Tapi gue cuma mau ngasih tau kalo rambut gue udah sebahu aja. Aslinya, ngurus rambut ternyata lebih susah dari ngurus hamster yang harganya lima belas rebuan yang biasa dijual di pasar malem. (Kayaknya sih sekarang harga hamster udah naek lagi.) Oke, jadi, rambut gue sedikit nggak keurus. Biasanya gue mandi semuanya, dan sampoan kalo samponya masih ada. Terus, kalo udah mandi, rambut gue akan basah untuk waktu yang lama. Biasa berjam-jam. Kalo udah gitu, gue suka males sisiran. Lagian, kalo disisir, rambutnya pada rontok. Pokoknya punya rambut panjang itu ribet. Terus, kalo ribet kenapa gue gondrong?

Itu dia masalahnya. Gue juga nggak tau. Sebenernya, dari gue keluar sekolah, gue emang ada niatan buat gondrong karena semasa sekolah gue gak boleh gondrong. Jadi aja pas keluar sekolah gue gondrongin nih rambut. Alhasil, gue pengen punya rambut gondrong yang sempurna. Entah apa tujuannya, yang jelas waktu itu gue rela di smoothing demi punya rambut lurus. Iya, rambut gue itu setipe sama bulu ketek atau bulu... bulu itu. Lebih tepatnya rambut gue itu bergelombang gimana gitu. Kek penyanyi cewek taun 80-an.

Gue kira dengan di-smoothing-nya rambut gue, maka gue bakalan keren kek Won Bin. Kenyataannya, baru beberapa jam di-smoothing, pas gue ngaca, gue berasa mirip Cakra Khan waktu pertama kali masuk tipi. Gue pun menyesali perbuatan gue dan memohon ampunan kepada Allah SWT atas kekhilafan gue saat itu. Belum lagi waktu itu temen-temen gue pada ngakak puas liat penampilan gue yang udah nggak sedap dipandang: rambut gondrong muka mesum bibir pecah-pecah.

Situasi salah smoothing bikin gue bimbang. Apa gue harus botakin aja atau memang untuk memanjangkan rambut harus dapet cemoohan dulu. Akhirnya, dengan tekad bulat, gue malah warnain rambut gue jadi item. Iya, selain bergelombang, rambut gue ini tumbuh dengan warna seperti gelasan yang dipake buat maen layangan, oren-oren gimana gitu. Jujur, gue sempet berpikir kalo gue ini sodaraan sama Naruto. Tapi gue meyakinkan lagi kalo ternyata gue ini bagian dari grup Power Puff Girls.

Setelah ngecat rambut jadi item, dan rambut lurus kaku, gue membiarkannya seperti ini sampe tumbuh seleher. Dan, kabar tainya, gue dapat kecaman dari warga Irak gara-gara rambut gue. Oke, becanda. Yang bener, temen-temen gue malah makin menjadi-jadi. Tiap mereka ketemu gue, mereka ngobrol sambil ketawa ngetawain rambut gue. Pada titik ini, gue udah pasrah.

Hari-hari berlalu...

Rambut gue udah panjang, dan kayaknya efek smoothing udah abis. Rambut gue bergelombang lagi, dan warnanya jadi kek gelasan layangan lagi. Tiba-tiba...

Tiba-tiba sang putri datang membawa kedamaian setelah diketahui bahwa dia adalah dewi Athena, dan gue diangkat jadi Saint Seiya si pegasus berjubah emas. Anjrit, ini kenapa jadi cerita anime gini!

Tiba-tiba, ibu gue mendesak gue untuk segera potong rambut. Karena menurut dia penampilan gue jauh lebih hina dari sebelumnya. Oh Tuhan, hidup ini begitu sesak ketika gue disuruh potong rambut setelah semua perjuangan gue ini. Gue nggak bisa membantah sang Ibu yang sudah membiayai gue jasa cukur rambut. Lima belas menit kemudian, dengan sedikit perasaan berduka, gue harus merelakan kepergian rambut panjang pertama gue.

Perjuangan belum selesai. Dalam keadaan rambut pendek di atas alis, gue masih berniat memanjangkan rambut. Meskipun butuh waktu lama, gue tetep akan berjuang. Gue menunggu dengan sabar, sampe akhirnya tujuh bulan kemudian semuanya terbayar. Rambut gue tumbuh lagi.

Gondrong part II lebih bebas. Yang satu ini, gue nggak pake smoothing atau sesuatu yang bisa bikin rambut gue dikecam lagi. Gue membiarkan rambut ini tumbuh dengan alami... meskipun ada yang salah sama gayanya sih. Rambut gue ngembang ke atas dan ke samping. Mirip permen kapas gosong. Tapi nggak apa-apa, yang penting rambut gue tumbuh panjang.

Oh iya, sewaktu perjuangan memanjangkan rambut part II berlangsung, gue menghabiskan waktu dengan menulis buku pertama gue. Dan perlu kamu-kamu tau, gue bikin nadzar yang isinya: kalo naskah pertama gue selesai, gue bakalan gundulin rambut gue. Nadzar ini terjadi karena waktu nulis naskah itu gue ngerasa susah beresnya. Tapi setelah gue bikin perjanjian sama diri gue, naskah itu selesai begitu aja tanpa kerasa. Buat gue situasi ini lumayan aneh. Di sisi lain, gue seneng udah nyelesein naskah, di sisi lain gue harus kehilagan rambut.

Pada bulan ke delapan, gue gundul setelah lama tak bergaya itu.

Menjadi gundul saat itu jadi pilihan karena bagaimanapun gue udah nadzar dan harus ditepati. Gue masih inget pas balik dari tukang cukur. Kala itu gue pergi ke tukang cukur diem-diem setelah selfie kenang-kenangan dengan rambut gondrong part II. Balik dari tukang cukur itu ibu gue kaget sekaligus seneng. Seneng banget keliatannya. Gue masih inget kata-katanya.

"Astagfirullah Abang! Alhamdulillah subhanallah. Ada angin apa digundul?"

Gue nggak cerita banyak-banyak ke ibu gue. Saat itu gue cuma berharap kalo gundul nggak bakalan menimbulakan kesalahan fatal seperti dijadiin lahan buat grafiti anak-anak vandal, atau sekadar dicoret nomor sekolah sama anak-anak STM.

Lagi-lagi gue melakukan step konvensional untuk memanjangkan rambut. Nggak banyak yang bisa gue lakukan selain gue harus sabar nunggu sampe tumbuh lagi. Gue harus melewati tahap rambut gondrong tanggung kek rambut Harry Potter. Gue harus rajin ngontak cewek-cewek supaya nggak keliatan jomblo. Nah, kenapa jadi ke situ arahnya ya?

Sekarang udah setahun setengah berlalu semenjak gue gundul. Rambut udah sebahu. Dan beberapa hari yang lalu sebelom nulis ini, gue dapet kejadian nggak mengenakan. Jadi ceritanya gue lagi pilek. Ingus meler mulu dari idung. Waktu itu gue bersin, dan ingus yang sering nongol itu muncrat ke atas, lalu jatoh tepat di bagian bawah rambut gue. Berlumuran seenaknya. Rambut gue jadi licin-licin asin gitu. Gue udah bilang, punya rambut panjang itu ribet. Mungkin suatu saat nanti gue pasti punya jawaban kenapa rambut gue harus gondrong. Atau mungkin ntar gue bakalan cukur lagi pas rambutnya udah sepunggung. Kira-kira gitu.


Baiklah, kawan-kawan yang udah capek baca ini. Kayaknya postingan ini lebih ke junkpost. Bodo amat lah. Tapi dari rambut ini, gue dapet wejangan berharga: semangat itu harus seperti rambut. Akan tetap tumbuh meski seringkali rontok di tengah jalan. *yaaah, terkecuali bagi orang-orang yang lebih memilih botak #NoOffense #SuruhSiapaBotak #NoAnimalsWereHarmed #BasedOnHairStory

Tuesday, 14 April 2015

Trilogi konversasi bagian tiga

Ini adalah obrolan yang tiba-tiba saja terjadi tanpa banyak basa-basi. Bolehlah semua hepi, jangan lupa bagi rejeki.

"Bung, sesungguhnya saya sudah melalui hidup ini dengan dibumbui cinta. Menurut anda, apa itu cinta?"

"Cinta adalah hal yang tak mengenyangkan perut."

"Bagaimana dengan cinta yang dilabeli halal dan haram?"

"Bisa jadi itu akal-akalan MUI,"

"Tapi ada juga yang bilang 'kucinta kamu hari ini dan selamanya'. Bagaimana itu?"

"Berarti dia orang yg bersikeras ingin makan cinta."

"Ngomong-ngomong, anda sudah makan?"

"Sudah,"

"Berapa banyak?"

"Dua."

"Maksud anda dua apa?"

"Dua menit untuk tiga piring nasi beserta lauk pauk,"

"Mangapa anda begitu banyak makan?"

"Karena saya baru menyadari, kami kenyang karena makan nasi, bukan makan cinta."

"Darimana anda dapat quotes itu?"

"Entahlah, seseorang pesakit senior yang sudah terlalu banyak makan asam garam."

"Jangan-jangan anda seorang pesakit senior itu."

"Saya hanya orang biasa, yang mencoba menjawab semua pertanyaan dari orang yang menduga saya pesakit senior. Saya hanya berwibawa dan berkarisma, sehingga anda mengira saya pesakit senior."

"Ah, anda bisa saja melakukan tindakan alibi. Eh, apa jadinya jika seseorang terjerat cinta?"

"Apa? Anda bilang terjerat? Terjerat cinta? Hih, seperti judul lagu dangdut saja."

"Sebagian orang cinta seudah terlampiaskan. Sebagian lagi belum tersampaikan, dan sebagian lagi belum mendapatkan. Apakah semua orang berhak mendapatkan cinta?"

"Begini, cinta itu hanya untuk orang-orang yang kuat melaluinya."

"Jadi orang-orang yang tidak kuat tidak berhak? Lalu di kemudian hari mereka akan membenci cinta. Bukankah begitu?"

"Biar mereka belajar untuk mengetahui bahwa membenci cinta begitu rumit dari membiarkannya."

"Maksudnya?"

"Orang yang membenci cinta akan malu ketika suatu hari dia mendapatkan cinta."

"Apa yang harus saya lakukan kalau ternyata itu terjadi pada saya?"

"Karena anda sudah tahu, maka itu tidak akan terjadi pada anda. Anda tidak akan membenci cinta, bukan? Saya pernah membencinya sekali, lalu saya menjadi munafik dan menjilat cinta."

"Oh, sial! Saya baru tahu ternyata yang bisa dijilat bukan cuma permen dan puting, tapi cinta juga. Ehm, ngomong-ngomong soal puting, orang-orang yang bercinta itu harusnya dengan penuh cinta, bukan?"

"Orang yang bercinta belum tentu memiliki cinta. Tapi orang yang memiliki cinta bisa saja bercinta."

"Hmm... Hmm... Adakah orang yang mati karena cinta?"

"Setahu saya, orang yang kelelahan sehabis bercinta itu ada."

"Tapi bukankah cinta dibawa sampai mati?"

"Itu istilah untuk orang yang berkorban demi cinta."

"Saya sudah lelah berbicara soal cinta."

"Kalau begitu, kenapa anda terus bertanya?"

"Dan mengapa anda juga harus menjawab?"

"Karena kita saling terhubung. Sekarang, pergilah menjadi sisi lain saya yang selalu bertanya ini dan itu."