Wednesday, 10 September 2014

Trilogi Konversasi (bagian kedua)

Trilogi Konversasi adalah tiga bagian percakapan tidak biasa dengan tokoh-tokoh yang kadang dianggap ada atau tidak. Walaupun begitu, percakapan yang dilakukan Blenk dengan tokoh-tokohnya terlihat sedikit bermutu.

Di episode kedua ini, Blenk diajak ketemuan oleh makhluk 'isu' yang sampai sekarang belum ada yang bisa membuktikan rupanya, meskipun itu hanya sekedar foto asli. Keberadaannya telah menjadi topik selama puluhan tahun, dan manusia bertahan meyakini makhluk tersebut, supaya kelak masih bisa dibicarakan.

***

Pagi tak kunjung datang, malam hanya menggantung. Bulan sabit melengkungkan senyummu, tabur bintang serupa kilau auramu. Aku pun sadari, kusegera berlari huooo... Cepat pulang, cepat kembali jangan pergi lagi... firasatku ingin kau tuk... Ehm, maaf, saya terlalu banyak minum obat halusinogen, karena itu saya jadi teringat Marcell.

Malam itu cukup tenang diiringi suara kodok yang serak. Seperti kebiasaan malam-malam sebelumnya, saya sedang sendiri untuk merenungkan kenapa saya terus sendiri. Kesendirian memang harus dilawan oleh diri sendiri, dan jalan keluarnya adalah dengan menyendiri. Untuk menghabiskan sisa waktu menuju pagi, saya mencoba menonton televisi. Film yang ditayangkan cukup seru, yaitu film warna-warni dengan backsound dengungan. Keren. Melihat bagaimana tak ada aktor di sana, film tersebut tetap berjalan hingga tanggal berganti.

Karena durasi film di TV sangat lama, saya pun sampai ketiduran di ruang keluarga, di mana televisi ada di sana. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Saya pikir, ini mimpi padahal beneran. Saya memang terbiasa didatangi tamu pada jam-jam seperti ini, karena itu saya tidak terlalu heran. Dengan kondisi setengah tidur, saya terbangun dan mengecek siapa di luar sana. Sebelum membukakan, saya mencoba mengintip orang yang nampaknya sedang berdiri sambil terus mengetuk pintu itu. Tapi sayang, pintu rumah tak memiliki lubang sedikit pun.

Akhirnya saya membukakan pintu tamu di sana secara perlahan, sambil mengintip sosoknya. Tebak, siapa yang sebenarnya datang? Makhluk itu. Saya masih terkaget-kaget melihatnya. Namun dia langsung memeluk saya, seperti teman lama yang baru ketemu lagi.

Tingginya sekitar 175 cm. Mengenakan jubah hoodie hitam, seperti sekte-sekte. Bau parfumnya begitu khas tercium oleh saya. Dia nampak tersenyum. Kayaknya sih. Matanya hitam kelam pekat, menyorot ke muka saya. Dia bertanya dalam gerakan isyarat, di mana tempat memarkir kendaraan yang pas, karena dia khawatir kendaraannya telah menghalangi jalan. Saya melihat ke depan pagar, benar, kendaraan kaleng perak itu menghalangi jalan. Saya jawab, jika kendaraannya bisa dilipat menjadi sebesar potongan tempe, bisa dimasukkan saja ke kantong jubahnya. Ternyata memang bisa.

Setelah itu dia saya suruh masuk. Saya tanya apakah dia ingin duduk di kursi atau di karpet coklat bergambar rusa. Agak sulit mengerti apa yang dia katakan. Sungguh. Tapi sepertinya dia ingin duduk di lantai saja. Padahal tengah malam itu cukup dingin. Saya menyuguhinya secangkir jeruk panas dan kue susu keju. Setoples kue itu buatan ibu saya. Teman saya juga biasanya makan kue itu.

Sebetulnya, kedatangannya membuat saya heran. Saya masih tidak mengerti apa maksud kedatangannya. Tapi bagaimanapun dia terlihat makhluk baik-baik, dan mencoba menghabiskan kue yang saya suguhkan. Jujur, saya baru melihat tamu seperti dia. Cara bicaranya sangat asing, ditambah dia tidak membawa penerjemah. Kamusnya pun tidak ada di Google. Entah bahasa apa. Yang jelas saya menjawabnya dengan asumsi penuh. Saya takut dikira tuan rumah yang sombong jika tak mau membalas semua perkataannya.

Setengah jam berlalu. Topik pembahasan sudah mulai menipis. Saya harus mencari topik lain. Maka muncullah untuk membicarakan soal kisah hidupnya. Dia terlihat sangat enggan ditanyai soal hidupnya, jadilah ia membicarakan sesuatu.

Dia: ***** ******* ***** ******* ********** **** ********? (Kata-kata dia belum sempat ditranslate. Nungguin yang mau ngesub. Atau untuk info lebih jelas, cari di subscene.com)

Saya: Oh, jadi selama ini kedatangan kamu di bumi untuk stalkingin dia?

Dia: **** ********* ***.

Saya: Menurut saya, lebih baik kamu berusaha keras dan memahami cewek yang kamu maksud. Setidaknya, berikan kesan baik di awal sampai dia tertarik dengan kamu. (Saya tahu dia cowok karena sewaktu duduk, kolornya bertuliskan GT Man. Kolor GT Man biasanya dipakai oleh para lelaki dewasa.)

Dia: ******** ****** ********!

Saya: Oke, oke, saya ngerti. Kamu bukan sosok yang tampan di bumi ini. Tapi Jika itu jodoh kamu, Tuhan pun ikut membantu mendapatkannya.

Dia: ******* **** ***** ***** ****** ******.

Saya: Begini saja, kamu harus mengenal dia satu sama lain. Kamu harus tahu kepribadiannya seperti apa, dia pun begitu. Semua itu bisa kamu lakukan dengan pedekate. Orang-orang bumi memang melakukannya seperti itu agar memupuk romansa satu sama lain.

Dia: ******* *** ******** ******** ******. ***** ********* ****** ****.

Saya: Saya harap sih, dia memang tertarik dengan makhluk seperti kamu. Karena langka banget loh kalo sampai kalian jadian. Ngomong-ngomong, boleh saya tahu siapa cewek itu?

Dia: ******* ********** ********.

Saya terkejut mendengar nama yang dia sebutkan, sampai-sampai saya menepuk  paha saya sendiri. Ternyata selera nih makhluk emang tinggi. Dulu, itu cewek populer. Tapi denger-denger kabar burung, cewek itu udah punya cowok.

Saya: Oh, dia mah temen sekolah saya. Jadi sewaktu SMP, nomer absen saya sama dia itu deketan. Kalo ujian, kami duduk depan-belakang. Dia itu partner nyontek yang baik, juga cantik.

Dia terdiam beberapa saat. Memakan kue, dan meminum jeruk panas yang sudah dingin. Saya nyoba satu kue, lalu saya bilang padanya kue ini mengandung zat yang dapat membuat makhluk seperti dia berubah gender. Padahal saya cuma nggak mau kuenya habis. Itu toples terakhir dan ibu saya bakalan bikin lagi bulan depan, ketika bapak saya gajian.

Saya: Eh, kalo nggak salah sih dia udah punya cowok loh. Emang nggak apa-apa?

 Dia: ******** ********** *********.

Saya: Bener juga. Seperti kata pepatah, sebelum janur kuning melengkung boleh kita menumpang mandi, sebelum ada umur panjang boleh kita berjumpa lagi.

Menjelang Subuh, dia pamit pulang. Dengan basa-basi saya menyuruhnya untuk tinggal di rumah beberapa hari. Tapi dia tetap ingin pulang. Wajahnya yang ceria sewaktu datang berubah mengkerut saat pulang. Mungkin dia kelelahan dalam perjalanan menuju rumah saya. Dia sempat menitikan air mata saat kami berpelukan. Kendaraannya dinyalakan, kami saling dadah-dadahan. Dia pun terbang secepat detik berganti angka, menjadi sebuah cahaya, bagai bintang kejora.

Seminggu kemudian, dia mengirimi saya surat yang sudah ditranslate dalam bahasa Indonesia. Dia banyak berucap terimakasih atas momen ngobrol-ngobrol waktu itu, dan... belakangan ini diketahui, saat ngobrol itu, dia membicarakan tentang pengadaan perang antara makhluk bumi dengan makhluk planetnya, sementara saya menjawabnya dengan topik asmara. Saya tidak habis pikir bagaimana sebuah obrolan begitu tidak sinkron. Tuhan, maafkan saya.

No comments:

Post a Comment