Saturday, 4 January 2014

Blenk! -Dibaca Musyrik Nggak Dibaca Munafik-


Ini Blenk! novel narsis berbasis najis. Diterbitkan Wahyumedia bulan Desember 2013. Harganya: 55.000 dollar Indonesia atau sekitar 509 yen.
Jangan tanya siapa penulisnya, tapi tanya bagaimana memperjuangkan naskahnya sampai bisa nongkrong di toko buku.  





Ngomongin buku ‘Blenk!’ berarti ngomongin kilas balik perjuangan gue untuk menyandang predikat penulis {amatir nan mesum}. Apalah dikata orang ketika gue mulai meninggalkan kehidupan gue yang seharusnya demi mendapatkan sebuah pencapaian lain. Pencapaian  yang kadang gue sendiri ngerasa itu adalah irasional untuk diwujudkan. Maklum, gue sempat tergoyahkan oleh sebagian orang yang mulai gusar mendengar mimpi gue.

Salah satu alasan yang bikin gue keras kepala untuk jadi penulis adalah ketika naskah pertama gue ditolak oleh salah satu penerbit. Memang waktu itu gue menawarkan naskah yang gobloknya, gue nggak nyadar kalau naskah pertama gue lebih buruk dari kelakuannya Raja Namrud. Jelas aja, penerbit mana yang mau nerima naskah dengan isi cerita tanpa arah, kaidah penulisan yang parah, dan aturan-aturan lainnya yang begitu salah.

Selama kurang lebih enam bulan, gue mempertaruhkan sebuah naskah yang jelas-jelas akan ditolak itu. Dan enam bulan itu hanya berbalas satu kalimat lewat telepon dari redaksi, “Maaf Mas, naskahnya belum bisa kami proses lebih lanjut.” Dan, seketika dunia membongkar siapa sebenarnya pembunuh perasaan penulis yang paling efektif.
Mungkin gue adalah satu dari sekian banyak orang yang nyesek karena naskahnya ditolak. Gue langsung kehilangan kesadaran menulis untuk waktu yang cukup lama. Sekitar 4 jam 27 menit. Rasanya waktu itu gue gak pengin ngelihat draft tulisan gue lagi. Hari itu pula gue pergi ke suatu tempat di mana tak seorang pun tahu nama gue.

Di sana, gue merenungkan apa yang terjadi. Hari demi hari kesadaran akan kegoblokan gue mulai terbentuk. Gue mendapatkan kesimpulannya: rupanya untuk jadi penulis itu nggak cuma modal bisa hurup alphabet. Untuk mengalahkan rasa nyesek yang bersisa di rongga hati, gue gak boleh kemayu kayak Jeremy Teti. Gue harus setrong, biar kayak anak hardcore. Straight Edge! Hantam rata! 

Setelah dapat pencerahan, gue balik ke rumah. Ngerasa udah tiga perempat jalan, gue gak bisa menundanya lagi. Gue nulis dari awal lagi. Draft yang lama? Gue simpen jauh-jauh. Gue hanya akan mengenangnya sebagai langkah awal gue menulis.

Sambil menyelam minum Strawberry Milk Shake with Choco Orange. Itulah ungkapan yang tepat saat gue mulai menulis lagi. Sambil menulis bab satu, gue belajar bagaimana cara menulis dengan menggunakan titit. Sekarang, yang kalian perlu ketahui adalah gue terlalu maksain buat ngelucu tapi malah jadi writingsex gini. Lagi pula, nulis pake titit itu susahnya luar biasa. Buat yang penasaran silakan praktekan pake titit sendiri. Yang nggak punya boleh pinjem sama orang.

Butuh waktu berbulan-bulan untuk menulis naskah mentah ‘Blenk!’. Dalam proses yang lama ini, gue mengerjakannya dengan hati dan hati-hati. Gue nggak mau tragedi naskah ditolak terjadi lagi. Gue pun selama itu (pada setiap menulis bab) berada dalam sebuah kamar gelap yang hanya dicahayai monitor PC. Seriusan. Gue pun mengalami dua kali masa rambut gondrong. Pertama, panjangnya sebahu dengan gaya bergelombang. Kira-kira modelnya hampir mirip rambut wanita karir. Kedua, panjangnya menutupi leher dan nggak pernah disisir. Saking gak beraturannya, tiap gue bangun tidur sedikitnya ada tiga anggota keluarga yang badannya nyangkut di rambut gue.

Selain menulis, gue juga membubuhkan ilustrasi yang gue gambar sendiri. Pikir gue, dengan tambahan ilustrasi akan menjadi daya tarik tersendiri ketika membaca naskahnya, dan itu benar. Beberapa teman gue yang gue paksa suruh membacanya, mereka besoknya taubat nasuha setelah membaca naskah gue. Iya, ilustrasi gue rupanya semakin menambah najis naskah gue.

Dalam menulis naskah ‘Blenk!’, banyak banget ritual yang gue panjatkan. Salah satunya adalah gue gak mengontak siapapun termasuk teman dekat. Gue melakukan ini karena waktu itu gue lagi nulis bab tentang persahabatan, band, dan sebuah relationship.

Beberapa teman ada yang sampe nelepon. Gue rasa mereka jengkel lantaran gue nggak pernah ngebales SMS, Mention, DM, atau pesan berjenis lainnnya. Waktu itu gue Cuma mijit tombol answer tapi gak gue jawab. Gue membiarkan temen gue berteriak ‘HALO! HALO! ANJRIT...’ Maapin gue temen-temen, waktu itu gue Cuma menjalankan ritual.
Pikir gue, mungkin dengan tidak kontak sama sekali, gue bisa mendalami karakter gue yang begitu rindu kepada kawan-kawan.

Ritual lainnya, gue menguruskan badan gue. Padahal waktu itu badan gue udah setipis pembalut wanita. Mungkin juga setipis alat kontrasepsi. Entah kenapa, gue ngerasa dengan menguruskan badan gue bisa mendalami bagian bab yang sendu. Gue sengaja makan satu kali sehari. Itu pun dengan porsi {kayaknya} sekitar 5 sampai 6 butir nasi. Gara-gara ritual yang satu ini, berat badan gue turun drastis dalam dua bulan terakhir. Muka gue jadi keliatan tirus.

To be contolnued...

3 comments: