Monday, 27 January 2014

The Lost Triangle



Gue udah ngerasa nggak nyaman sama dia. Visi misi kita udah nggak sejalan, dan sepertinya hubungan gue sama dia harus segera berakhir. Gue mencoba bertahan tapi rasa lelah gue sudah melebihi batas. Biarlah untuk sementara waktu, gue menjalani hari-hari tanpa dia dulu sampai gue menemukan jalan yang terbaik untuk kami berdua.

Siang itu, Ibu masuk ke kamar gue, mendapati gue yang sedang merenungkan nasib hubungan antara gue dengan dia . Namun Ibu tak peduli dengan apa yang gue rasakan karena saat itu beliau sedang terlihat senang, dan siapa juga yang akan peduli dengan perasaan anak kelas 3 SD.

“Bang, coba tebak, Ibu bawa apa?” tanya beliau. Diperlihatkannya sebuah kotak seukuran box kontainer. Oke, itu terlalu gede. Kita ubah saja ukurannya menjadi sebesar biji adek gue. Aduh, itu terlalu kecil. Enaknya segede apa, nih? Nah, baiklah, sebesar dus handphone saja.

“Nggak tahu. Tapi kalau emang buat Blenk, cepetan kasihin sini,” jawab gue sinis.

“Ntar dulu, dong. Ini tuh sebenernya buat Bapak, cuman nggak muat. Kayaknya di Abang pas, deh.”

“Emang isinya apaan, sih?” gue mulai penasaran.

“Udah lah, liat aja, terus cobain dulu. Pasti pas, kok.”

Gue mengambil kotak tersebut, lalu buru-buru membukanya. Seketika cahaya yang menyilaukan mata memancar dari dalam kotak tersebut. Coba kalian tebak, apa isinya? Ya, salah. Isinya bukan potongan tubuh hasil mutilasi karena ini bukan cerita film psikopat.

Sebuah benda menakjubkan berbentuk segitiga berwarna hijau tua. Di sudutnya terdapat logo bergambar buaya menganga. Crocodile Underwear. Memang, hari ulang tahun gue udah lewat dua minggu yang lalu. Tapi gue menganggap pemberian Ibu ini sebagai hadiah ulang tahun gue yang ke-9. Dan, secara tiba-tiba mata gue berkaca-kaca seraya berkata, “Terimakasih Ibu, jodoh tak harus selalu berwujud manusia.”

Selanjutnya, gue benar-benar mengakhiri hubungan gue dengan kolor lama gue. Kolor merah muda bertuliskan ‘Scorpio’ (selanjutnya kita menyebutnya Scorpion Pink) yang selama ini membuat selangkangan sekaligus hidup gue tertekan. Scorpion Pink akhirnya gue wariskan kepada adik gue yang nggak tahu apa-apa. Kasihan, adik gue harus merasakan selangkangan sekaligus hidup yang tertekan. HAHAHAHARRGGHH... *Evil Brother Laugh

Hari pertama gue sama Crocodile Underwear (selanjutnya kita menyebutnya Green) diawali dengan rasa canggung satu sama lain. Jujur, gue masih ada bayang-bayang si Scorpion Pink. Kalian harus tahu bahwa gue harus bisa move on dari dia. Dia udah jadi milik adik gue yang sekarang menderita itu. HAHAHAHARRGGHH... *Evil Brother Laugh Lagi

Selama beberapa menit kami tak kunjung memulai percakapan atau perkenalan. Gue hanya menatapnya di depan lemari pakaian dalam. Dia mungkin melakukan hal yang sama, tapi gue benar-benar nggak tahu matanya di sebelah mana. Akhirnya gue memberanikan diri untuk membuka pembicaraan dengan Green.

“Hai... Pagi yang dingin ya.”

“...”

“Sini aku pakai, biar kita sama-sama hangat.”

“...”

Dia memang segitiga yang pemalu.

Di sekolah, gue ngerasa nyaman banget didekap dia. Rasanya anget-geli-rileks bercampur jadi satu. Hari perdananya membawa dia kepada sisi kepahlawanannya. Jadi, sewaktu gue habis pipis di kelas... halah, maksudnya di WC dekat kelas, ‘anu’ gue hampir saja tergigit resleting celana merah gue. Untung saja beberapa mili sebelum mengenai anu, resleting agresif itu tersangkut Green yang pada saat itu menyembul sedikit keluar.

Dia juga nggak pernah nyelip ke belahan pantat gue. Sebagai kolor junior, dia melakukan tugasnya dengan sangat baik. Gue bangga akan sikap Green. Sekadar informasi, kolor junior itu istilah untuk kolor baru yang dipakai. Sementara kolor seperti Scorpion Pink, dia disebut kolor senior. Ah, kenapa gue harus nyebutin mantan kolor yang bikin gue nggak nyaman itu, sih? Baiklah, kita lupakan saja dia.

Saking bangganya, gue sampai memperkenalkan Green kepada teman-teman di kelas. Mereka takjub begitu gue memperlihatkannya. Perlu kalian ketahui, jaman gue, anak-anak seusia gue kebanyakan mengenakan kolor bergambar Spiderman, Captain Tsubasa, atau kartun-kartun cupu lainnya. Makanya mereka langsung segan ketika tahu gue satu-satunya anak yang pakai celana dalam beraura jantan. Gue pun berpesan kepada mereka, siapa pun yang berani nyentuh, maka tangannya akan buntung. Tak terkecuali anak-anak cewek. 

Best Friend Forkolorever


Pada kesempatan lain, gue disuruh Ibu ke warung. Disuruh ke warung di saat acara sinetron TV kesayangan lagi seru-serunya adalah hal yang menjengkelkan. Mungkin ini sering terjadi pada sebagian anak-anak. Tapi masalahnya, gue nggak mau Ibu gue menelan satu ekor sapi sebagai pelampiasan amarahnya nanti. Dengan terpaksa gue pun menuruti perintah Ibu.


Sebetulnya, selain nggak mau kelewat acara TV, gue punya firasat buruk di luar sana. Benar saja, anak-anak nakal yang selama ini selalu gue hindari lagi nongkrong di lapang deket warung. Gue males banget kalau ketemu mereka. Terakhir kali gue berhadapan sama mereka adalah ketika gue diajakin main kelereng. Semua anak di kampung gue tahu kalau mereka adalah mafia kelereng. Gue yang waktu itu belom tahu, diajakin main, lalu mereka mengatur strategi supaya gue kalah. Gue pun mengalami kerugian setoples kelereng.

“Blenk! Ayo main kelereng sama kita-kita,” kata salah seorang anak.

Gue pura-pura nggak denger sambil terus berjalan.

“Hahaha... cupu dia mah,” tiba-tiba, salah seorang anak yang lain nyeletuk seperti itu.

Gue berusaha untuk nggak ngasih respon apa-apa.

“Hahaha... cupu banget!” tegas dia.

Okeh, kalo cuman ‘cupu’ gue masih bisa terima. Tapi kalo udah masuk ke ranah ‘cupu banget’, ini harus diluruskan dengan cara laki-laki. Sialnya, gue nggak berani sama mereka karena gue memang cupu. Usia mereka jauh lebih tua dibandingkan gue padahal beberapa di antara mereka adik kelas gue.

“Apa mau kalian?” tanya gue, mulai emosi.

“Kita mau ini...” salah seorang anak yang badannya tinggi menahan gue dari belakang. Dua anak lainnya memegangi kedua kaki gue. Dua anak lagi menyoraki. Mereka seperti kumpulan kanibal dari Kepulauan Samoa yang hendak memasak gue. 

Gue digotong ke tengah lapang dan mereka berhenti tepat di atas genangan air. Gue diayun-ayun, lalu... byur... dijatuhkannya gue ke genangan air yang warnanya kayak Cappucino. Air yang kotor itu tembus sampai anu gue kerasa dingin.

Tiba-tiba gue ngerasa Green berinteraksi dengan gue. Dalam keadaan mengigil, dia seperti sedang mentransfer kekuatan. Seketika, gue jadi punya keberanian untuk melawan mereka. Gue langsung bangkit dari genangan, memasang kuda-kuda. Kedua tangan gue bertolak pinggang, kemudian gue menyilangkan lengan ke depan seperti ‘X’ sambil berteriak lantang, “BERUBAH!”
Mereka diem.

Gue nggak berubah. Iya, gue pikir dengan menyebutkan itu, minimal gue jadi pake kostum. Mereka lalu menjatuhkan gue ke genangan untuk kedua kalinya. Shit, pekik gue. Gue bangkit lagi dari genangan. Atas nama seluruh karakter Pokemon, gue nggak terima celana gue, apalagi Green Crocodile dilecehkan seperti ini. Sambil menatap marah kepada mereka, gue berlari ke rumah, tentunya dengan gaya ninja. Gue pun tiba di rumah tepat pada saat bedug Ashar.

Gue buru-buru ke kamar mandi untuk mencuci selangkangan gue yang ternyata kena pasir basah. Gue juga memandikan Green. Tadinya dia nolak karena dia bisa bersihin sendiri, tapi gue khawatir dia bisa. Soalnya dia lebih kotor dari selangkangan gue. Dia perlu dikucek pake sabun colek.

“Kok, tumben mandi sore?” Ibu datang dengan tiba-tiba, entah dari mana.

Gimana Ibu nggak heran, padahal biasanya gue nggak pernah mandi sore... kalo Ibu nggak ngamuk.

“Mana pesenan Ibu?” tanya beliau lagi.

“Warungnya tadi tutup, ini lagi nyobain sabun colek.” Ngeles gue nggak bermutu banget. Bodo amat. Sebetulnya gue nggak mau Ibu tahu kalau gue habis dijatohin anak-anak nakal. Apalagi sampe tahu Green tersakiti. Biarlah ini jadi urusan anak-anak. Ibu-ibu jangan sampai terlibat.

Selepas semuanya bersih, gue mengendap-endap menuju teras, berharap Ibu nggak tahu kalau gue ngejemur Green di bawah kursi teras. Kursi tersebut memang jarang sekali diduduki karena terhalang oleh jemuran yang panjang. Pikir gue, dengan menjemurnya di tempat yang agak tersembunyi, nggak ada satu orang pun yang akan mengganggu Green, setidaknya sampai ia pulih dari basah.

Keesokan harinya, sepulang sekolah, gue langsung keingetan Green yang gue keringkan kemarin sore. Gue yakin kondisi Green sudah agak keringan. Gue udah nggak sabar pengin memakainya kembali. Dengan semangat anak-anak, gue menemuinya di teras, dan...

GREEN NGGAK ADA!

Gue panik.

Gue berlari menemui Ibu di dalam. Saking paniknya, gue sampai lupa salim sama Ibu. Tanpa basa-basi, gue langsung menanyakan di mana Green sekarang. Jelas saja, Ibu nggak tahu apa-apa soal Green. Yang Ibu tahu, Green biasanya ada di lemari pakaian dalam gue. Semenjak kedekatan gue dengan Green, gue nggak pernah menaruhnya di lemari pakaian dalam. Dia gue satukan sama baju-baju yang bagus.

Gue, dibantu Ibu dan adik-adik, mengubek seisi rumah dan teras. Mulai dari kamar mandi, kamar tidur, sampai kamar mayat (emang di rumah gue ada kamar mayat gitu?). Kolong-kolong juga tak luput dari incaran gue. Bahkan gue nyoba ngebongkar gudang. Semua hasilnya nihil. Pikiran gue mulai nggak logis ketika melihat tanaman Kuping Gajah. Gue curiga dia membunuh Green, soalnya letak tanaman itu sangat dekat dengan kursi teras. Sampai malam tiba, gue capek mencari Green.

Kemana Green?

Sebulan lamanya gue mencari Green tetep nggak ketemu juga. Ibu berupaya membesarkan hati gue dengan membelikan beberapa kolor yang baru. Mungkin maksud beliau supaya gue bisa lepas dari bayangan Green. Namun bagi gue, Green tetaplah Green. Berbeda dengan cangcut atau kolor-kolor lainnya. Kali ini Ibu mengerti akan perasaan gue karena beliau juga sedang sedih arisannya nggak keluar-keluar. Akhirnya kami berdua saling menyemangati. Ibu menyemangati gue supaya melupakan Green, sementara gue menyemangati Ibu supaya terus menyemangati gue. Seiring bergantinya kalender, gue pun lupa dengan sendirinya.

Sekarang, gue keingetan Green lagi gara-gara nulis cerita ini. Gue nggak tahu harus titip salam buat Green kepada siapa. Yang jelas, siapa pun Anda, di mana pun Anda berada, kalau ketemu dengan segitiga mencurigakan tapi kalem, tolong sampaikan salam dari gue.

Kalo dipikir-pikir, di usia yang masih dini, gue udah ngerasain pahitnya kehilangan. Dan, sebaik-baiknya kehilangan adalah yang mengikhlaskannya.

Saturday, 4 January 2014

Blenk! -Dibaca Musyrik Nggak Dibaca Munafik-


Ini Blenk! novel narsis berbasis najis. Diterbitkan Wahyumedia bulan Desember 2013. Harganya: 55.000 dollar Indonesia atau sekitar 509 yen.
Jangan tanya siapa penulisnya, tapi tanya bagaimana memperjuangkan naskahnya sampai bisa nongkrong di toko buku.  





Ngomongin buku ‘Blenk!’ berarti ngomongin kilas balik perjuangan gue untuk menyandang predikat penulis {amatir nan mesum}. Apalah dikata orang ketika gue mulai meninggalkan kehidupan gue yang seharusnya demi mendapatkan sebuah pencapaian lain. Pencapaian  yang kadang gue sendiri ngerasa itu adalah irasional untuk diwujudkan. Maklum, gue sempat tergoyahkan oleh sebagian orang yang mulai gusar mendengar mimpi gue.

Salah satu alasan yang bikin gue keras kepala untuk jadi penulis adalah ketika naskah pertama gue ditolak oleh salah satu penerbit. Memang waktu itu gue menawarkan naskah yang gobloknya, gue nggak nyadar kalau naskah pertama gue lebih buruk dari kelakuannya Raja Namrud. Jelas aja, penerbit mana yang mau nerima naskah dengan isi cerita tanpa arah, kaidah penulisan yang parah, dan aturan-aturan lainnya yang begitu salah.

Selama kurang lebih enam bulan, gue mempertaruhkan sebuah naskah yang jelas-jelas akan ditolak itu. Dan enam bulan itu hanya berbalas satu kalimat lewat telepon dari redaksi, “Maaf Mas, naskahnya belum bisa kami proses lebih lanjut.” Dan, seketika dunia membongkar siapa sebenarnya pembunuh perasaan penulis yang paling efektif.
Mungkin gue adalah satu dari sekian banyak orang yang nyesek karena naskahnya ditolak. Gue langsung kehilangan kesadaran menulis untuk waktu yang cukup lama. Sekitar 4 jam 27 menit. Rasanya waktu itu gue gak pengin ngelihat draft tulisan gue lagi. Hari itu pula gue pergi ke suatu tempat di mana tak seorang pun tahu nama gue.

Di sana, gue merenungkan apa yang terjadi. Hari demi hari kesadaran akan kegoblokan gue mulai terbentuk. Gue mendapatkan kesimpulannya: rupanya untuk jadi penulis itu nggak cuma modal bisa hurup alphabet. Untuk mengalahkan rasa nyesek yang bersisa di rongga hati, gue gak boleh kemayu kayak Jeremy Teti. Gue harus setrong, biar kayak anak hardcore. Straight Edge! Hantam rata! 

Setelah dapat pencerahan, gue balik ke rumah. Ngerasa udah tiga perempat jalan, gue gak bisa menundanya lagi. Gue nulis dari awal lagi. Draft yang lama? Gue simpen jauh-jauh. Gue hanya akan mengenangnya sebagai langkah awal gue menulis.

Sambil menyelam minum Strawberry Milk Shake with Choco Orange. Itulah ungkapan yang tepat saat gue mulai menulis lagi. Sambil menulis bab satu, gue belajar bagaimana cara menulis dengan menggunakan titit. Sekarang, yang kalian perlu ketahui adalah gue terlalu maksain buat ngelucu tapi malah jadi writingsex gini. Lagi pula, nulis pake titit itu susahnya luar biasa. Buat yang penasaran silakan praktekan pake titit sendiri. Yang nggak punya boleh pinjem sama orang.

Butuh waktu berbulan-bulan untuk menulis naskah mentah ‘Blenk!’. Dalam proses yang lama ini, gue mengerjakannya dengan hati dan hati-hati. Gue nggak mau tragedi naskah ditolak terjadi lagi. Gue pun selama itu (pada setiap menulis bab) berada dalam sebuah kamar gelap yang hanya dicahayai monitor PC. Seriusan. Gue pun mengalami dua kali masa rambut gondrong. Pertama, panjangnya sebahu dengan gaya bergelombang. Kira-kira modelnya hampir mirip rambut wanita karir. Kedua, panjangnya menutupi leher dan nggak pernah disisir. Saking gak beraturannya, tiap gue bangun tidur sedikitnya ada tiga anggota keluarga yang badannya nyangkut di rambut gue.

Selain menulis, gue juga membubuhkan ilustrasi yang gue gambar sendiri. Pikir gue, dengan tambahan ilustrasi akan menjadi daya tarik tersendiri ketika membaca naskahnya, dan itu benar. Beberapa teman gue yang gue paksa suruh membacanya, mereka besoknya taubat nasuha setelah membaca naskah gue. Iya, ilustrasi gue rupanya semakin menambah najis naskah gue.

Dalam menulis naskah ‘Blenk!’, banyak banget ritual yang gue panjatkan. Salah satunya adalah gue gak mengontak siapapun termasuk teman dekat. Gue melakukan ini karena waktu itu gue lagi nulis bab tentang persahabatan, band, dan sebuah relationship.

Beberapa teman ada yang sampe nelepon. Gue rasa mereka jengkel lantaran gue nggak pernah ngebales SMS, Mention, DM, atau pesan berjenis lainnnya. Waktu itu gue Cuma mijit tombol answer tapi gak gue jawab. Gue membiarkan temen gue berteriak ‘HALO! HALO! ANJRIT...’ Maapin gue temen-temen, waktu itu gue Cuma menjalankan ritual.
Pikir gue, mungkin dengan tidak kontak sama sekali, gue bisa mendalami karakter gue yang begitu rindu kepada kawan-kawan.

Ritual lainnya, gue menguruskan badan gue. Padahal waktu itu badan gue udah setipis pembalut wanita. Mungkin juga setipis alat kontrasepsi. Entah kenapa, gue ngerasa dengan menguruskan badan gue bisa mendalami bagian bab yang sendu. Gue sengaja makan satu kali sehari. Itu pun dengan porsi {kayaknya} sekitar 5 sampai 6 butir nasi. Gara-gara ritual yang satu ini, berat badan gue turun drastis dalam dua bulan terakhir. Muka gue jadi keliatan tirus.

To be contolnued...