Tuesday, 30 December 2014

2014

Tadinya gue nggak bakalan posting blog dulu sampe tahun berganti. Tapi kayaknya kurang afdol kalo Desember 2014 ini terlewatkan tanpa postingan. Intinya sih gue labil mau posting apa nggak, dan jadinya ya nulis seadanya. Berhubung ini blog gue, jadi gue mau nyeritain cerita gue. Lebih tepatnya curhat kecil-kecilan.

Oke, 2014 ini berakhir begitu saja tanpa permisi sama gue. Btw, gue siapanya 2014, sih? Setiap tahun pastinya kita ngelewatin berbagai macem momen. Dari yang keren, sampe yang keren. Begitupun juga di tahun 2014 ini, kita banyak ngelewatin masa-masa suram. Ehm, kayaknya gue aja sih yang suram.

Gue ngerasa tahun 2014 ini terlalu cepet berakhir. Sama kayak pernikahan para artis Indonesia. Rasanya gue baru aja pipis bulan Januari, tahu-tahu pas keluar WC udah Desember aja. Waduh, gue belom sempet nyari pacar di tahun ini, dan yang lumayan parah, gue lupa jemurin kaos kakinya Chelsea Islan. Tahu gini gue mending nahan pipis aja. Chelsea oh Chelsea, kamu sebenernya orang apa klub sepak bola?

Selama 2014, momen terbaik gue adalah sewaktu buku novel-komik pertama gue lagi anget-angetnya jadi bahan obrolan di sosmed maupun sekitar rumah gue. Iya, meskipun gak serame kasus pedofil, seenggaknya gue dapet imbasnya. Bukan, imbas yang gue maksud, bukan pantat gue jadi korban pedofil, tapi gara-gara buku gue, banyak hal yang bisa dipetik dari terbitnya buku gue. Pertama, semenjak terbitnya 'Blenk! -Dibaca Musyrik Nggak Dibaca Munafik-', gue punya banyak temen dan kenal orang-orang hebat. Kedua, semenjak terbitnya 'Blenk! -Dibaca Musyrik Nggak Dibaca Munafik-', gue punya banyak temen dan... oke, sori itu yang tadi. Kedua, banyak yang nanyain kelanjutan band gue Blossom Flower Die. Karena gue udah gak tahan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti 'band-nya masih ada apa bubar', akhirnya gue rujuk sama band sialan itu. Ketiga, berhubung gue udah nulis sebuku, akhirnya pilihan gue mantap untuk terus menulis buku lagi. Kayaknya sih.

Di 2014 juga gue mengalami masa-masa depresi. Lebih tepatnya waktu pertengahan 2014. Ah, kalo inget masa itu gue suka pengen nembak model iklan pocari sweat. Biar gue ceritain dikit soal waktu itu. Jadi, ehm, gini, bukan... gue depresi bukan karena soal asmara. Bukan juga soal kenapa Jusuf Kala kalah pamor dibanding Raffi Ahmad. Sekitar awal Maret itu gue udah negrjain buku kedua gue yang mana full komik. Entah kenapa, gue lagi mandek-mandeknya ngegambar. Pokoknya masa-masa sulit itu udah lewat sekarang.

Lalu, gue bingung mau nulis apa lagi soal 2014. Dan jangan harap gue bakal nulis kalo selama 2014 gue masih belom punya pacar. Masalah yang satu itu relatif dan sensitif. Bisa dialihkan ke topik politik praktis, halah.

Ditulis sewaktu mendengarkan lagu-lagu Folk.

Wednesday, 12 November 2014

Begitulah...

Baiklah, di postingan ini gue janji nggak bakal nulis apa-apa lagi selain kalimat ini. Sekian dan begitulah...

Tapi kalo posting gambar ginian sah-sah aja kali, ya.

Wednesday, 5 November 2014

Mungkin Sesekali Kita Harus Mengingat Bagian Dari Tidur Lelap

Enam hari sebelum nulis ini, gue mimpiin sesuatu. Bukan, gue bukan mimpiin artis-artis Jepang berbikini, yang nyemprotin aer dari selang ke gue. Sehabis baju gue basah, mereka menelanjangi gue sejadi-jadinya. Dan di sanalah... Ah, gue kalo udah ngomongin yang ginian, pasti aja keterusan.

Jumat itu, udah malem, gue lagi biasa aja. Saking biasanya gue ketiduran, dan dimulailah ketidaksadaran gue seperti yang sudah-sudah. Seingat gue, tiba-tiba aja gue berada dalam scene di mana gue berjalan, berdampingan dengan tetangga gue.

Mang Iyad, begitulah bunyinya. Umurnya udah paruh baya. Punya tiga anak yang salah satunya udah nikah. Di dunia nyata, Mang Iyad orang yang kocak, suka ngebanyol pake bahasa Sunda. Fikri, temen deket gue tahu itu. Kadang ocehannya ke mana-mana. Yang paling gue suka, kalo Mang Iyad udah ngomongin konten vulgar. Mungkin kalo Mang Iyad punya sosial media, dia udah seterkenal akun yang suka ngelucu Sunda itu. Tapi, di mimpi gue, Mang Iyad menjadi sosok yang lain.

Mang Iyad berjalan di kiri, dan gue di kanan, agak ke tengah jalan. Di tanjakan itu, matahari menyengat, dan anehnya gue nggak ngerasa kepanasan. Gue coba meyakinkan diri sendiri, kalo orang yang berjalan di samping gue emang Mang Iyad. Inisiatif gue untuk mendekatinya malah di luar kendali. Mang Iyad jalan makin cepet, dan gue berusaha mengejarnya.

"Mang Iyad!" sapa gue. "Mang, tunggu!" gue mulai ngos-ngosan.

Mang Iyad nggak denger apa yang gue teriakin. Dia malah jalan makin cepet, lebih cepet dari tadi. Mungkin kalo jalan itu sirkuit, dia bisa jadi juara F1 tanpa harus mengendarai motor.

Langkah gue semakin menyamai Mang Iyad, dan sekarang Mang Iyad melambat. "Mang!" kata gue. Meskipun Mang Iyad udah deket, dia tetep nggak menoleh. Tangan gue berusaha melambai, sampai akhirnya gue berhasil menepuk pundak Mang Iyad. Apa yang terjadi? Artis-artis Jepang berbikini nyemprotin aer selang ke gue. Sehabis baju gue basah, mereka menelanjangi gu... alah, malah balik lagi ke yang tadi.

Mang Iyad menoleh ke gue setelah pundaknya gue goyang-goyangkan. Seketika Mang Iyad berteriak, "MANEH TEU NGARTI!" pekiknya dalam bahasa Sunda, yang artinya, "Kamu nggak ngerti."

Sontak gue kaget, sekaligus nggak ngerti sama Mang Iyad. Gue menjauh ke tengah jalan yang sepi itu. Nggak ada kendaraan, bahkan kucing seekor pun. Kalo ngebayangin wajahnya di dunia nyata sama di mimpi, wajah Mang Iyad beda banget. Di mimpi itu dia nangis tapi air matanya cuma keluar secukupnya. Mulutnya agak mangap dikit, dan yang gue ingat, dia pake topi khas tukang mancing. Kemejanya nggak dikancingin sampe dada. Keliatan tulang-tulang dadanya dan kulit khas petani.

Semakin gue ngejauh dari Mang Iyad, wajahnya semakin deket. Kerutan wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Beneran. Gue yang awalnya takut, berubah perasaan ke sedih. Gue mulai sesegukan sampai akhirnya gue menepi ke jalan seberang. Terlihat Mang Iyad nangis kenceng, kayak kehilangan sesuatu yang penting. Gue mencoba mengucapkan satu kalimat yang nggak kedengeran sama sekali. Tapi Mang Iyad membalas kalimat gue, dan gue lupa dia ngomong apa. Tiba-tiba aja semuanya ngeblur dan gue seperti pindah objek.

Di scene selanjutnya gue lebih nggak ngerti lagi. Gue berpindah tempat, dalam keadaan berlari, menyusuri sebuah gang kecil. Gue ingat, gang itu berada di samping rumah gue ketika gue masih SD. Gang itu penghubung ke jalan yang lebih sempit lagi, menuju tempat gue biasanya ngaji bareng anak-anak kampung.

Kaki gue serasa nggak napak, dan langkah gue seperti lari di tempat. Gue mencoba berlari lebih kencang, tapi jarak yang gue tempuh cuma beberapa meter. Padahal di dunia nyata, seharusnya gue udah berlari jauh banget. Ini masih di gang itu-itu aja. Seiring perasaan kesel gue yang nggak tahu mau lari ke mana, seorang anak kecil, laki-laki, tiba-tiba ada di depan gue. Seolah mengimami gue. Gue lupa detail pakaiannya kayak gimana, yang jelas dia pake kaos berkerah sama celana pendek di atas lutut.

Gue pikir gue akan nabrak dia. Jadi, gue hendak memanggil dia, dan sebelum gue sempat memanggil, dia udah menoleh, menatap muka gue. Gue kaget banget sewaktu tahu anak laki-laki itu gue. Iya, dia adalah gue pas umur empat tahun. Kulitnya putih, rambutnya yang lurus lembut disisir belah pinggir ke kanan. Mukanya pake bedak. Sepetinya kebanyakan. Gue rasa dia baru dimandiin sama seseorang dan disuruh main ke luar rumah begitu aja.

Sambil mendekat, dia senyum kecil. Entah kenapa gue jadi ngerasa napak di tanah setelah saling bertatapan sama dia. Dia nggak berhenti menatap gue. Matanya yang agak sendu diterangi matahari sore hari. Pupilnya berubah warna dari hitam ke coklat, agak merah. Sungguh imut, puji gue dalam hati. Keimutannya membuat perasaan gue campur aduk. Pikiran gue berkecamuk, bertanya-tanya, apa bener itu gue. Gue ingin mengatakan sesuatu tapi nggak bisa. Seperti ada yang menahan, kemudian berkata, "Hei, belum waktunya bicara, bodoh!"

Ngeliat diri gue yang masih kecil itu, gue jadi pengen menyentuhnya. Kebetulan dia makin mendekat. Gue mulai melayangkan tangan ke tubuhnya yang kecil itu. Dia masih menatap. Kini bibirnya mulai memberi tanda kalau ia akan senyum sebenar lagi. Tangan-tangan mungilnya yang putih terlihat lemah. Akhirnya ia tersenyum juga. Gigi susunya rapi, putih, seperti sering disikat. Mungkin gue berumur empat tahun adalah gue yang taat seruan iklan pasta gigi, "Ayo sikat gigi tiga kali sehari! Ayo sikat gigi tiga hari sekali!" sepeti itu.

Kali ini giliran gue membalas senyumnya yang lucu. Gue coba ngetes lagi suara gue, dan berhasil. Gue berhasil menyebutkan nama gue sendiri. "Andi," ucap gue sambil menatap wajah Andi kecil itu. Senyumnya makin lebar. Ia memutar tubuhnya ke arah semula, persis seperti pertama kali nongol. Tangannya menunjuk ke depan, seperti menyuruhku mengikutinya. Memang benar, aku harus mengikutinya. Harus tahu apa maksud semua ini.

Gue pasrah, membiarkan tubuh gue mengontrol langkah gue sepenuhnya, sementara otak gue dibiarkan memikirkan apa pun. Saat itu gue gak bisa memikirkan hal lain selain memperdebatkan benar atau tidak anak itu adalah gue. Tapi kemudian gue benar-benar yakin bahwa anak itu gue. Entahlah. Seperti yang gue bilang, gue pasrah. Tubuh ini terus mengikuti ke mana Andi kecil pergi.

Kalau seharusnya arah yang kami tuju adalah utara, maka arah belakang kami adalah selatan. Dan yang terjadi, meskipun kami berjalan ke arah utara, background-nya malah berubah ke arah selatan. Ini kayak arah yang mencoba berontak. Kami terus berjalan ke utara, menuju gang yang lebih sempit, tapi pemandanganya menunjukkan kami berjalan ke arah selatan, balik ke rumah. Andi kecil menoleh ke arah gue, dan dia tersenyum lagi. Sebelum akhirnya pikiran gue bertanya-tanya lagi, Andi kecil telah membawa gue ke tempat di mana kami saling bertemu. Jadi setelah kami berjalan beberapa langkah, pada akhirnya kami berjalan di tempat.

Scene kembali ngeblur tapi Andi kecil masih terlihat jelas. Karena takut perubahan dimensi membuat dirinya hilang, gue pun menggandeng tangan Andi kecil. Niat gue menggendong dia, tapi scene sudah berubah. Masih dalam genggaman gue, Andi kecil mempertemukan gue dengan Bi Hani. Tepat di depan gue.

Bi Hani adalah salah satu orang yang paling berperan dalam hidup gue. Sejak kecil, gue diasuh sama Bi Hani. Ketika itu umur Bi Hani masih belasan tahun. Rambutnya kribo, kulitnya sawo matang. Orang yang baru lihat, mungkin mengira kalau Bi Hani keturunan Maluku. Padahal sebenarnya Bi Hani berdarah Arab.

Bi Hani adalah sepupu Ibu. Sebelum gue lahir, Bi Hani sudah sering mengasuh anak-anak uwa gue. Sampai gue dewasa pun, Bi Hani dipercayai untuk mengasuh adik-adik dan  sepupu-sepupu gue. Kalau ada yang nanya siapa yang mengajari gue menggambar, gue akan dengan cepat menjawab Bi Hani. Kalau ada yang nanya siapa temen pertama gue, gue jawab Bi Hani. Kalau ada yang nanya siapa yang ngabisin nasi di Magic Jar, itu bukan bukan gue.

"Bibi..."

Andi kecil menghampiri Bi Hani, kemudian memeluk kakinya. Bi Hani mengusap rambut Andi kecil. Rambutnya jadi acak-acakan lagi. Tapi Andi terlihat riang, terlihat lebih menggemaskan. Mereka berdua terlihat akrab. Gue bisa melihat jelas kedekatan mereka. Sangat mengingatkan semasa kecil gue.

Waktu kecil, gue nggak pernah nangis kalo ditinggalin orangtua gue pergi ke luar rumah. Tapi gue akan nangis kalau Bi Hani yang pergi. Saking deketnya gue sama Bi Hani. Hampir tiap malem, Bi Hani selalu nemenin gue begadang. Dulu gue belom tidur kalo belom pagi. Iya, sejak kecil gue emang berjiwa security shift malem.

Dalam pandangan gue yang jelas itu, Andi kecil memudar saat pergi ke balik sosok Bi Hani. Gue cuma bisa mendengar tawanya sambil menyebutkan nama Bi Hani. Suara langkahnya pun terdengar jelas. Tapi sosok Andi kecil sudah tak terlihat. Tinggal Bi Hani berdiri di depan jalan menuju rumah. Dia tersenyum. Gue nggak bisa membalas senyumnya. Sebagai gantinya, gue menghampirinya, kemudian semakin dekat, dekat, dekat, dan Bi Hani tetap diam. Gue memeluknya dari samping. Tatapan Bi hani lurus ke depan. Saat itu pula gue nangis. Gue nangis kayak anak-anak, persis kayak pas gue ditinggalin Bi Hani kabur. Waktu itu gue nggak pernah berenti nanyain Bi Hani ke Nenek gue. Setiap kali gue pengen ke Bi Hani, Nenek selalu jawab, "Bi Hani di jalan, sebentar lagi nyampe." Terus seperti itu sampai beberapa hari kemudian Bi Hani pulang.

Mimpi yang keliatan nyata itu jadi memudar di antara langit sore yang terang. Gue tetep meluk Bi Hani, sambil nangis kenceng, sama seperti yang dilakukan Mang Iyad. Bi Hani hanya diam dan gue bisa liat senyumnya dari samping. Setelah memerhatikan kupingnya, gue menyenderkan wajah ke pundaknya. Gue masih nangis... sampe mimpi itu membawa kami pergi...

Akhirnya gue terbangun di tengah malam. Gue cek hape, dan gue nggak bisa ingat waktu itu kebangun jam berapa. Ada bekas aer mata turun, dan gue sesegukan. Aneh. Mimpi itu sampe kebawa-bawa. Sampe sekarang gue masih belom bisa menemukan makna sesungguhnya dari mimpi itu. Tapi gue puas bisa melihat gambaran mereka berdua di masa lalu.

Wednesday, 29 October 2014

Agak Notifikasi


Saya baru nyadar, ternyata postingan blog saya makin ke sini makin random aja. Maksud saya, ini lebih random dari yang pernah direncanakan. Kadang ngisi cerpen, kadang ngisi renungan, kadang disuruh ngisi ulang galon sama ibu saya. Gak salah lagi, penyebabnya pasti gara-gara saya kebanyakan baca novel dewasa. Jadi, beberapa waktu yang lalu, saya sering minjem novel-novel yang bahasanya agak berat. Saya pikir, saya minjem cuma buat lucu-lucuan aja. Tapi Tuhan punya rencana lain. Saya jadi serius baca novel-novel itu. Bahkan sampai saya nulis ini, saya masih baca novel-novel berat.

Emm... apa saya salah udah nyalahin novel sebagai penyebab seriusnya saya? Bukan, pasti bukan novel yang salah. Ini semua salah film-film yang belakangan ini saya tonton. Jadi, saya lagi menggandrungi film-film thriller, kadang romance. Mungkin saya kurang referensi humor, atau minimal yang berbau senang-senang. Emang bener, sih, saya terlalu berlarut sama yang serius dan dalem.

Emm... apa saya salah udah nyalahin film sebagai penyebab seriusnya saya? Bukan, pasti bukan film yang salah. Ini semua salah G-Dragon Bigbang. Udah lama banget saya nyalahin si G-dragon. Entah apa penyebabnya. Pokoknya, secara drastis, selera humor saya jadi tumpul. G-Dragon harus membayar ini semua. Harus!

Malam itu saya online sosmed, dan ngechat sama temen saya. Kami ngobrol panjang lebar dan agak sedikit hambar. Temen saya mengira yang lagi ngechat sama dia itu bukan saya. Dia bilang, obrolan kami malam itu kurang mesum dan gila. Seketika saya menarik napas, kemudian berpikir, “Iya gitu, yang lagi ngechat bukan saya? Apa seseorang sudah merasuki tubuh saya? Oy, siapa pun orang serius yang lagi bersemayam di tubuh saya, tolong keluar! Saya mohon, nanti saya kasih uang buat ongkos pulang. Saya bisa carikan tubuh lain yang lebih tepat.”

Akhirnya, masih dalam kebingungan yang amat sangat banget, saya cuma bisa ngelontarin kalimat agak mesum. Barulah temen saya yang di chat itu percaya, meski di benaknya agak ragu, mungkin. Begitulah masalah saya belakangan ini.

Tapi apa pun masalahnya, berbahagialah umat manusia karena sekarang saya bakalan balik lagi ke aksen gaul. Iya, saya nggak bakal bilang ‘saya’ lagi, tapi ‘gue’. Oke. Tess... tess... ehm... gu.. gue. Nah, sekarang saya akan... eh, sori, maksudnya gue bakalan ngasih berita ke kalian tentang tidak terjadinya apa-apa. Jangan kaget, karena gue emang nggak punya berita apa-apa yang bisa dibagikan pada kalian semua.

Banyak project yang gue kerjakan di tahun ini. Tapi hasilnya mungkin belum bisa dinikmati tahun ini juga. Minimal tahun depan. Anggaplah tahun ini saya belajar dari awal lagi, juga itung-itung nabung supaya nanti ke depannya bisa dinikmati. Tentunya bersama kalian. Baiklah, tanpa basa-basi kamu ngajak hepi-hepi, akan gue jabarkan project tahun ini:
Selfie lagi pilek. Topeng kardus yang biasa dipake lagi dijemur, abis kena ingus banyak.


Pertama, band gue, BFD. Mungkin yang udah baca buku pertama gue Blenk! -Dibaca Musyrik Nggak Dibaca Munafik- pasti tahu kisahnya. Sekarang, band kami mulai rujuk lagi walaupun beberapa personil memilih untuk tidak gabung lagi. Gue hargai itu. Band kami juga punya sub-rencana yang begitu banyak. Saat ini lagi proses rekaman. Lagunya udah ada empat, dan baru direkam satu. Untuk selengkapnya, gue lagi nyari waktu yang tepat buat menceritakan kisah kelanjutan BFD, entah nanti akan ada di dalam buku, atau di blog ini. Nanti deh kapan-kapan, kalo nggak males.

Kedua, gue baru aja menyelesaikan buku kedua. Sekadar bocoran, buku kedua gue full komik, agak religi. Buku kedua gue ini digitalisasinya dibantu sama desainer grafis handal dari penerbit itu sendiri. Juga editornya udah lain sama buku pertama. Editor buku kedua lebih religius, makanya buku kedua ini juga agak religi gimana gitu. Cukup lama loh gue ngerjain buku kedua ini. Hampir setahun penuh. Denger-denger, sih, terbitnya tahun depan. Tapi, ada juga yang bilang akhir tahun. Ya, mudah-mudahan aja bisa secepatnya, kalo bisa sih terbit tahun kemaren. Loh, kan udah lewat, ya. Doain aja deh, semoga amin. 

Ketiga, karena buku kedua gue anggap kelar (tinggal covernya aja sih), maka gue nulis project lain. Yang satu ini novel full (tentu saja tetap ditambah ilustrasi ala gue) yang gue harap bisa jadi sesuatu yang baru. Project ini tentunya akan menjadi sesuatu yang kontroversial, semoga. Sampai gue nulis postingan ini, baru kelar dua bab fix, sisanya masih draft. Dan, dalam penggarapan ini gue dibantu seorang komikus yang gue paksa menulis. Namanya belom bisa gue sebutin, ntar aja. Targetnya nggak gue targetkan, yang penting seselesainya, dan dalam hasil yang memuaskan.

Keempat, ini project lain sebagai pelengkap kejenuhan. Maksudnya, udah tanggung gue jenuh, jadi sekalian aja gue ngerjain banyak project. Biar disangka sibuk, padahal tiap hari cuma dipake buat tidur. Jadi, gue nulis 'yang lain', yaitu sebuah antologi. Niatnya, sih, mau bikin yang agak romantis tapi tetep ala gue yang nggak mikir-mikir dulu. Belom ada kejelasan mengenai project yang satu ini, tapi kalian harus tahu aja.

Kelima, gue lagi ngerjain hal yang penting banget buat diri gue. Gue namai ini Project Pencarian Selera yang Hilang. Seperti yang gue tulis di awal, gue sudah kehilangan selera humor, dan gue harus menemukannya kembali. Ini adalah project yang paling penting dari kelima project yang gue tulis. Karena, tanpa project kelima ini, gue nggak bakalan bisa melakukan semua project di atas. Apa pun caranya bakal gue ulik. Demi kelancaran ee umat manusia yang sembelit.

Segitu aja dulu, ntar gue sambung lagi. Ada kemungkinan, di postingan selanjutnya akan gue isi dengan tulisan yang agak meracau. Oh iya, kalo ntar gue nggak bilang 'gue' lagi, jangan heran, ya. Gue minta doa dan keridoan kalian, mudah-mudahan amin.

Sunday, 12 October 2014

Apa yang Kuanut Adalah Antara Aku Dengan Tuhanku

Di sini, saya pengen posting sebuah renungan yang semoga bermanfaat meskipun kita nggak tahu di mana manfaatnya.


Agama adalah bahan bahasan yang sensitif. Banyak orang memperdebatkannya. Banyak orang mempertanyakan namun jawaban yang mereka dapat tak sepenuhnya memuaskan hati mereka. Selalu ada pertanyaan setelah pertanyaan. Apa ketika seseorang merasa janggal dengan agamanya akan benar-benar meninggalkannya? Atau mungkin itu adalah bentuk sebuah pencerahan agar mereka lebih mendekatkan diri dengan religi?

Tuhan, aku menjalani agamaku seadanya, tanpa banyak pertanyaan. Jika memang ada pengetahuan baru yang memang masuk akal, aku akan menerimanya. Namun jika pengetahuan agamaku tak bertambah, mudah-mudahan imanku tak goyah. Aku hanya ingin agama yang kuanut lebih sederhana.

Bagiku, agama hanya antara aku dengan Tuhanku.

Wednesday, 10 September 2014

Trilogi Konversasi (bagian kedua)

Trilogi Konversasi adalah tiga bagian percakapan tidak biasa dengan tokoh-tokoh yang kadang dianggap ada atau tidak. Walaupun begitu, percakapan yang dilakukan Blenk dengan tokoh-tokohnya terlihat sedikit bermutu.

Di episode kedua ini, Blenk diajak ketemuan oleh makhluk 'isu' yang sampai sekarang belum ada yang bisa membuktikan rupanya, meskipun itu hanya sekedar foto asli. Keberadaannya telah menjadi topik selama puluhan tahun, dan manusia bertahan meyakini makhluk tersebut, supaya kelak masih bisa dibicarakan.

***

Pagi tak kunjung datang, malam hanya menggantung. Bulan sabit melengkungkan senyummu, tabur bintang serupa kilau auramu. Aku pun sadari, kusegera berlari huooo... Cepat pulang, cepat kembali jangan pergi lagi... firasatku ingin kau tuk... Ehm, maaf, saya terlalu banyak minum obat halusinogen, karena itu saya jadi teringat Marcell.

Malam itu cukup tenang diiringi suara kodok yang serak. Seperti kebiasaan malam-malam sebelumnya, saya sedang sendiri untuk merenungkan kenapa saya terus sendiri. Kesendirian memang harus dilawan oleh diri sendiri, dan jalan keluarnya adalah dengan menyendiri. Untuk menghabiskan sisa waktu menuju pagi, saya mencoba menonton televisi. Film yang ditayangkan cukup seru, yaitu film warna-warni dengan backsound dengungan. Keren. Melihat bagaimana tak ada aktor di sana, film tersebut tetap berjalan hingga tanggal berganti.

Karena durasi film di TV sangat lama, saya pun sampai ketiduran di ruang keluarga, di mana televisi ada di sana. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Saya pikir, ini mimpi padahal beneran. Saya memang terbiasa didatangi tamu pada jam-jam seperti ini, karena itu saya tidak terlalu heran. Dengan kondisi setengah tidur, saya terbangun dan mengecek siapa di luar sana. Sebelum membukakan, saya mencoba mengintip orang yang nampaknya sedang berdiri sambil terus mengetuk pintu itu. Tapi sayang, pintu rumah tak memiliki lubang sedikit pun.

Akhirnya saya membukakan pintu tamu di sana secara perlahan, sambil mengintip sosoknya. Tebak, siapa yang sebenarnya datang? Makhluk itu. Saya masih terkaget-kaget melihatnya. Namun dia langsung memeluk saya, seperti teman lama yang baru ketemu lagi.

Tingginya sekitar 175 cm. Mengenakan jubah hoodie hitam, seperti sekte-sekte. Bau parfumnya begitu khas tercium oleh saya. Dia nampak tersenyum. Kayaknya sih. Matanya hitam kelam pekat, menyorot ke muka saya. Dia bertanya dalam gerakan isyarat, di mana tempat memarkir kendaraan yang pas, karena dia khawatir kendaraannya telah menghalangi jalan. Saya melihat ke depan pagar, benar, kendaraan kaleng perak itu menghalangi jalan. Saya jawab, jika kendaraannya bisa dilipat menjadi sebesar potongan tempe, bisa dimasukkan saja ke kantong jubahnya. Ternyata memang bisa.

Setelah itu dia saya suruh masuk. Saya tanya apakah dia ingin duduk di kursi atau di karpet coklat bergambar rusa. Agak sulit mengerti apa yang dia katakan. Sungguh. Tapi sepertinya dia ingin duduk di lantai saja. Padahal tengah malam itu cukup dingin. Saya menyuguhinya secangkir jeruk panas dan kue susu keju. Setoples kue itu buatan ibu saya. Teman saya juga biasanya makan kue itu.

Sebetulnya, kedatangannya membuat saya heran. Saya masih tidak mengerti apa maksud kedatangannya. Tapi bagaimanapun dia terlihat makhluk baik-baik, dan mencoba menghabiskan kue yang saya suguhkan. Jujur, saya baru melihat tamu seperti dia. Cara bicaranya sangat asing, ditambah dia tidak membawa penerjemah. Kamusnya pun tidak ada di Google. Entah bahasa apa. Yang jelas saya menjawabnya dengan asumsi penuh. Saya takut dikira tuan rumah yang sombong jika tak mau membalas semua perkataannya.

Setengah jam berlalu. Topik pembahasan sudah mulai menipis. Saya harus mencari topik lain. Maka muncullah untuk membicarakan soal kisah hidupnya. Dia terlihat sangat enggan ditanyai soal hidupnya, jadilah ia membicarakan sesuatu.

Dia: ***** ******* ***** ******* ********** **** ********? (Kata-kata dia belum sempat ditranslate. Nungguin yang mau ngesub. Atau untuk info lebih jelas, cari di subscene.com)

Saya: Oh, jadi selama ini kedatangan kamu di bumi untuk stalkingin dia?

Dia: **** ********* ***.

Saya: Menurut saya, lebih baik kamu berusaha keras dan memahami cewek yang kamu maksud. Setidaknya, berikan kesan baik di awal sampai dia tertarik dengan kamu. (Saya tahu dia cowok karena sewaktu duduk, kolornya bertuliskan GT Man. Kolor GT Man biasanya dipakai oleh para lelaki dewasa.)

Dia: ******** ****** ********!

Saya: Oke, oke, saya ngerti. Kamu bukan sosok yang tampan di bumi ini. Tapi Jika itu jodoh kamu, Tuhan pun ikut membantu mendapatkannya.

Dia: ******* **** ***** ***** ****** ******.

Saya: Begini saja, kamu harus mengenal dia satu sama lain. Kamu harus tahu kepribadiannya seperti apa, dia pun begitu. Semua itu bisa kamu lakukan dengan pedekate. Orang-orang bumi memang melakukannya seperti itu agar memupuk romansa satu sama lain.

Dia: ******* *** ******** ******** ******. ***** ********* ****** ****.

Saya: Saya harap sih, dia memang tertarik dengan makhluk seperti kamu. Karena langka banget loh kalo sampai kalian jadian. Ngomong-ngomong, boleh saya tahu siapa cewek itu?

Dia: ******* ********** ********.

Saya terkejut mendengar nama yang dia sebutkan, sampai-sampai saya menepuk  paha saya sendiri. Ternyata selera nih makhluk emang tinggi. Dulu, itu cewek populer. Tapi denger-denger kabar burung, cewek itu udah punya cowok.

Saya: Oh, dia mah temen sekolah saya. Jadi sewaktu SMP, nomer absen saya sama dia itu deketan. Kalo ujian, kami duduk depan-belakang. Dia itu partner nyontek yang baik, juga cantik.

Dia terdiam beberapa saat. Memakan kue, dan meminum jeruk panas yang sudah dingin. Saya nyoba satu kue, lalu saya bilang padanya kue ini mengandung zat yang dapat membuat makhluk seperti dia berubah gender. Padahal saya cuma nggak mau kuenya habis. Itu toples terakhir dan ibu saya bakalan bikin lagi bulan depan, ketika bapak saya gajian.

Saya: Eh, kalo nggak salah sih dia udah punya cowok loh. Emang nggak apa-apa?

 Dia: ******** ********** *********.

Saya: Bener juga. Seperti kata pepatah, sebelum janur kuning melengkung boleh kita menumpang mandi, sebelum ada umur panjang boleh kita berjumpa lagi.

Menjelang Subuh, dia pamit pulang. Dengan basa-basi saya menyuruhnya untuk tinggal di rumah beberapa hari. Tapi dia tetap ingin pulang. Wajahnya yang ceria sewaktu datang berubah mengkerut saat pulang. Mungkin dia kelelahan dalam perjalanan menuju rumah saya. Dia sempat menitikan air mata saat kami berpelukan. Kendaraannya dinyalakan, kami saling dadah-dadahan. Dia pun terbang secepat detik berganti angka, menjadi sebuah cahaya, bagai bintang kejora.

Seminggu kemudian, dia mengirimi saya surat yang sudah ditranslate dalam bahasa Indonesia. Dia banyak berucap terimakasih atas momen ngobrol-ngobrol waktu itu, dan... belakangan ini diketahui, saat ngobrol itu, dia membicarakan tentang pengadaan perang antara makhluk bumi dengan makhluk planetnya, sementara saya menjawabnya dengan topik asmara. Saya tidak habis pikir bagaimana sebuah obrolan begitu tidak sinkron. Tuhan, maafkan saya.

Saturday, 9 August 2014

Trilogi Konversasi (bagian pertama)

Trilogi Konversasi adalah tiga bagian percakapan tidak biasa dengan tokoh-tokoh yang kadang dianggap ada atau tidak. Walaupun begitu, percakapan yang dilakukan Blenk dengan tokoh-tokohnya terlihat sedikit bermutu.

Kali ini Blenk didatangi seorang tamu pertama yang dia sendiri sering melihatnya di layar kaca, namun Blenk belum pernah bertemu secara langsung. Entah apa tujuan tamu tersebut, yang jelas, Blenk dan tamu sama-sama menikmati perrcakapan meskipun temanya sangat meluas.

***

Dini hari itu, sekitar pukul 25:36 saya lagi tidur-tiduran sambil mengarang lagu di kamar. Semua orang di rumah sedang bepergian untuk dua hari. Tak lama kemudian, lampu kamar mati dengan sendirinya. Disusul dengan lampu ruangan lainnya yang juga mati. Rumah jadi sangat gelap. Dengan pencahayaan seadanya lewat layar hape, saya mengubek-ubek lemari yang ada di ruangan makan untuk mencari lilin. Setelah setengah jammencari, akhirnya lilin tersebut ketemu di kamar saya sendiri. Saya merasa sia-sia mencari di lemari.

Saat lilin dinyalakan, tiba-tiba di kasur saya ada sesosok yang tiduran. Entah siapa. Padahal dini hari itu saya sedang sendirian. Dengan segala keraguan, saya mencoba mendekatinya. Rupanya dia seorang perempuan berambut poni rata-kuncir dua. Wajahnya begitu pucat—tapi kayaknya itu bedak yang terlalu tebal. Tanpa disuruh, dia melepaskan pakaiannya. Untung saja dia mengenakan baju dua lapis. Dan terjadilah sebuah percakapan antara kami.

Saya: Selamat malam. Sejak kapan kamu ada di kasur saya?

Dia: Sejak lampu kamu mati.

Saya: Kamu bukan petugas PLN yang lagi magang jadi cewek sekolahan kan?

Dia: Bukan.

Saya: Ayolah, kasih aku jawaban yang lebih panjang.

Dia:Panjang.

Saya: Panjang.

Dia: Kamu, kok, ngikutin kata aku?

Saya: Kamu, kok, ngikutin kata aku?

Dia: Anjrit sebel.

Saya: Anjrit sebel.

Kemudian hening lima detik.

Dia: Ayolah, kamu maunya apa?

Saya: Nyalain lampunya.

Sekejap kemudian, lampu seluruh ruangan menyala kembali. Dia yang berada di atas kasur hilang. Saya merasa bersalah telah membuatnya pergi, dan saya belum sempat menyuguhinya secangkir air dan setoples camilan. Saya harap dia baik-baik saja.

Monday, 21 April 2014

Jangan Pikir Dia Tak Tahu



Jarum jam terus berdetak. Sudah 15 menit berlalu semenjak Bu Aya mengadakan ulangan matematika di kelas 2A. Seluruh murid di kelas tampak gusar, tidak terkecuali Genta, anak lelaki yang benci matematika. Baginya, ulangan matematika bagaikan monster angka yang selalu menakut-nakuti dirinya. Terlebih posisi duduk ia saat ini berhadapan dengan meja Bu Aya. Ia benar-benar merasa sial hari itu.
30 menit berlalu. Dari 10 soal yang tertera pada lembaran yang dibagikan Bu Aya, baru 2 yang dijawab oleh Genta. Itu pun soal yang sepertinya semua murid bisa menjawabnya dengan mudah.
“Bagaimana, ada yang sudah selesai?” Tanya Bu Aya.
“Belum, Bu jawab murid-murid serentak.
“Oke, waktu kalian tersisa 30 menit lagi. Apabila waktunya habis, selesai tidak selesai harus dikumpulkan!”
Mendengar Bu Aya berbicara seperti itu, Genta semakin gusar. Keringat dingin mengucur dari berbagai belahan tubuh Genta. Ia harus segera memenuhi lembar jawabannya. Apa pun caranya. Kalau tidak, dia bisa kena remedial.
Akhirnya genta tak punya pilihan lain selain mencontek dari lembaran milik teman di sebelahnya, dan cara itu pun berhasil membuat beberapa soal terlewati. Sesekali ia pun melirik ke Bu Aya untuk memastikan apakah beliau mencurigainya atau tidak. Namun sejauh ia menyontek, Bu Aya terlihat lengah seperti tidak memperhatikan Genta.
     “Baiklah anak-anak, waktu kalian tinggal 10 menit lagi ya!”
     Genta kini agak tenang. Ia sudah menjawab 9 soal, meskipun 7 di antaranya hasil menjarah jawaban temannya. Itu berarti tinggal satu pertanyaan lagi yang belum terjawab. Ia pun memilih cara lain untuk menjawab.
     Genta memasukkan tangannya ke kolong meja. Dikeluarkannya buku pelajaran matematika. Ia terus mencari jawaban dari buku tersebut selagi Bu Aya lengah di mejanya. Dan lagi-lagi ia berhasil mendapatkan jawaban dengan caranya. Waktu pun telah habis. Genta lebih dari sekedar lega.
Gambar ini nggak ada hubungannya sama cerita.
Bodo amat. Yang penting semangat
     Seminggu kemudian, kelas 2A bertemu dengan pelajaran Bu Aya lagi. Sebelum pelajaran dimulai, Bu Aya membagikan hasil ulangan dadakan minggu kemarin. Setelah beberapa nama murid dipanggil ke depan kelas untuk mengambil hasil ulangan, akhirnya giliran nama Genta dipanggil. Dengan percaya diri, ia pun menghampiri Bu Aya. Seperti yang sudah diduganya, Genta mendapatkan nilai sempurna.
     Saat Genta kembali ke tempat duduknya, kaki kirinya disandung oleh kaki Bu Aya. Untung saja kaki kanannya bisa menopang seluruh tubuhnya. Namun kertas ulangannya jatuh ke lantai. Tiba-tiba Genta terpaku menatap kertas tersebut. Ia mencoba membaca dan mencerna kalimat yang tertulis pada kertas tersebut.
     “Nilaimu memang sempurna, tapi caramu menyontek jauh dari kata sempurna. Kamu perlu banyak belajar strategi agar cara menyontek kamu lebih canggih. Oh iya, satu lagi, lain kali kalau kamu mau menyontek jangan sampai ketahuan Ibu ya.”
     Genta lalu berbalik ke arah meja Bu Aya, dan ia melihat beliau senyum kepadanya.

Tuesday, 25 March 2014

Deviate Trion Sketch




Ini Sketsa yang hampir terlupakan dalam sebuah folder tua. Sebut saja mereka Deviate Trion si anak-anak menyimpang. Awalnya gue menciptakan karakter trio ini buat buku kedua gue. Tapi sayang, ketiga karakter ini ditolak karena faktor gambarnya kurang Indonesia. Editor gue bilang, karakter ini masih ada unsur manga-nya. Dan, sebagai gantinya gue punya karakter lain yang lebih Indonesiawi. Dan tentunya karakter tersebut sedang dikomikkan. Mudah-mudahan bulan depan selesai. Oke, kita bahas nanti saja. Sekarang, daripada ketiga karakter ini dibuang mending nikmati. @blenkilustrator