Friday, 21 April 2017

Gadis Bandana Merah



Dia gadis berkerung merah...
Nanana... na.. bla... bla... bla...

Lagu itu kedengeran lagi jelas di kuping saya, tepat waktu saya bangun tidur. Gimana nggak kedengeran coba, orang yang muterin lagu itu rumahnya sebelahan banget. Volumenya kenceng pula.

Saya tau lagu itu ketika di Jepang lagi musim dingin, dan saya beserta kawan-kawan lagi sibuk ngerjain projek di Sukabumi, Indonesia, bukan Jepang. Waktu itu temen saya, sembari bikin pola Rimlight DIY, nyanyi lagu itu. Dia nyanyi dengan mengulang-ulang baris pertama liriknya sampe kata-kata itu masuk ke dasar otak saya.

Dan saya jadi inget kemarin waktu mau pergi buat melakukan perkara kecil. Saya dan si motor melintasi toko baju di mana ada seorang cewek duduk di bangku di emperan toko tersebut. Bangkunya terlalu panjang sehingga dia yang duduk sendiri jadi mencolok sekali. Saya menurunkan kecepatan laju motor karena perasaan kepo menyerang.

Bandana merahnya yang dipasang di atas kepala jadi daya tarik utama si cewek, bersama gincu merahnya yang senantiasa terang kalo disoroti lampu. Kaosnya hitam legam dengan typografi ala motocustom, menutupi kulitnya yang nggak terlalu putih. Dia duduk manis entah menatap apa, yang pasti alisnya digambar warna cokelat yang membuat tatapannya terlihat santai. Semua itu jadi lengkap setelah tau kalau di sebelah toko baju itu adalah bengkel kecil khusus motor jalanan, mungkin. Saya memerhatikannya dengan agak detail sampai semuanya terasa bergerak slow motion. Seketika terdengar baris pertama lagu itu... membuat suasana semakin dramatis.

Dia gadis berkerung merah...
Nanana... na.. bla... bla... bla...

Sebetulnya nggak nyambung-nyambung amat sih. Ya dari lirik, ya dari musik, sama sekali nggak relate. Satu-satunya alasan kenapa saya menghubungkan keduanya mungkin lagu itu mengandung atmosfer yang sama dengan si cewek. Secara itu lagu milik Wali yang judulnya Kekasih Halal yang mungkin kalau didenger-denger agak bernuansa ndeso. Nah, judulnya pun nggak nyambung kan, dan asal kalian tau, saya nggak berniat menjadikan si cewek bandana merah jadi kekasih halal saya.

Sepanjang perjalanan saya nggak bisa berhenti mikirin si cewek bandana. Yang paling jadi pertanyaan adalah kenapa gadis bandana menatap jalanan seperti itu? Kemudian pertanyaan itu bikin saya ngelamun. Dalam lamunan saya, si cewek lagi mempertanyakan satu hal: kenapa di kota ini berasa ada yang ilang satu.

Apa ya?

Saya jadi ikut mikirin.

Selama ini, saya juga sering mikir ada yang ilang dari kota Sukabumi tercinta ini. Kebanyakan nggak disadari orang-orang. Lagian orang-orang itu juga keliatannya nggak ada inisiatif buat nyari tau apa yang ilang dari kota ini.

Hal pertama yang paling saya sadari adalah hilangnya kultur villager STM. Kultur villager STM itu sebutan buat anak-anak STM yang sering melakukan aksi rebel dan berdandan ala anak STM sejati: pakaian serba sempit, celana ngatung, pake dasi yang di dalemnya diselipin penggaris besi, baret hasil jarahan dari sekolah lain, badge dan lokasi sekolah lain yang juga hasil jarahan, uang receh buat beli ciu, tas yang nggak berisi buku pelajaran, ah betapa eksperimentalnya fashion mereka. Oh, nggak lupa potongan rambut cepak jablay atau orang sering nyebut cukur emo. Tapi entah kenapa, selama mereka punya rambut model begitu, image mereka sebagai villager kuat sekali.

Dulu, waktu saya masih sekolah, villager masih bertaburan di mana-mana. Di jalanan, di sekolah, di pusat kota deket pasar tradisional. Yang paling pasti kita akan menjumpainya adalah di tempat konser gratisan yang diadakan di lapangan. Pada jaman itu mereka sangat eksis. Sebagai villager, mereka nggak pernah tinggal diam. Selalu bikin kota gerah.

Saya nggak akan pernah lupa ketika di depan mata saya ada dua anak villager saling baku hantam dengan penggaris besi. Pengalaman mendebarkan mengingat saya juga saat itu anak STM tapi tergolong baik-baik.

Tembok-tembok kota nggak akan bersih selama mereka ada. Seenggaknya mereka udah turut berkontribusi dalam mempercaduk kota. Kehadiran mereka bersama kubu-kubu mereka ditandai dengan coretan di tembok seperti ‘117 BZAD by Venkz’, atau ‘212 SHELIWANGIE by Cuyz’. Oh iya, mereka udah membuat para penjual pilox dan cat kiloan yang biasa mereka pake buat coret-coret jadi merasa untung.

Tetapi peradaban gaul yang sporadis telah mematikan kultur lain. Villager salah satunya. Sepertinya para villager merasa dirinya harus kembali ke jalan yang benar. Oh, itu sangat nggak dibenarkan. Padahal berkat kehadiran mereka, kota jadi lebih berwarna. Adanya mereka membuat kota jadi ngampung. Itu hal keren dan sangat memicu paradoks, bahkan mengaburkan esensial kota itu sendiri.
Kalau aja kultur villager masih ada, mungkin si gadis bandana merah akan menjadi salah satunya. Dan kalau si gadis bandana jadi villager, maka gadis bandana bukanlah gadis bandana. Saya nggak akan melihat dia duduk di bangku panjang depan toko baju. Saya nggak dia melihat penampilannya yang cocok dengan bengkel sebelah toko. Tapi lagu Wali akan sangat relate apabila si gadis bandana jadi villager.

Iseng-iseng ngelamun, nggak kerasa saya udah nyampe di tempat tujuan. Itu udah sore, sore yang cerah untuk gadis bandana merah. Waktu saya nyampe, gadis bandana merah mesti masih duduk di depan toko. Nggak peduli sesulit apa pun situasi politik, dia akan tetap sebagai gadis bandana merah yang akan mencuci bandananya kalau kotor kena oli bengkel. Dia nggak akan kebawa sama isu-isu sensitif kecuali bandananya dirusak ormas beratasnamakan agama.

Seandainya saya Faank vokalis Wali, saya bakal ngeganti lirik lagunya jadi,

Dia gadis bandana merah...
Nanana... na.. bla... bla... bla...

Sori gak hapal bait selanjutnya.


Friday, 31 March 2017

Objek (Sebuah Potongan Cerita yang Mengendap Di Dasar Kepala)



Mulanya pria ini berpikir bahwa keindahan merupakan tanggung jawab suatu objek. Setiap orang yang menikmati keindahan, entah disengaja atau tidak, mereka tinggal menatap pada objek tersebut hingga merasa kagum. Kagum dengan sesuatu yang terkandung pada objek tersebut. Begitulah keindahan. Terasa sederhana saat dinikmati namun rumit saat dipikirkan.

Maka mengawanglah si pria. Menapaki pikirannya pada udara yang hangat. Padahal di hari biasa siang seharusnya panas, dengan terik yang kejam membakar kulit orang-orang. Pria ini, karena suatu sebab, mengangguk paham. Iya, katanya. Sekalipun itu adalah batu karang yang menindih pasir putih pantai, kemudian dihantam buih bersamaan dengan terik yang memancarkan permukaannya, dengan kesadaran tinggi kita akan menemukan keindahan itu. Sekalipun itu adalah semesta yang dibumbui jutaan objek terang di malam hari yang gelap, kita akan mengaguminya suatu saat. Merekalah bentuk lain dari sekian banyak keindahan yang sewaktu-waktu kita abaikan.

Lalu pria ini kembali ke kesadarannya. Pandangannya yang blur setelah melamun, kembali menjadi jelas. Tepat ada di depan matanya, sebuah objek nyata yang sedang dilihatnya. Rupanya lamunan membawanya pada sebuah pemikiran sederhana namun dalam. Kepekaannya terhadap suatu objek sudah naik level, dalam waktu yang singkat. Seperti sebuah kemajuan datang tiba-tiba, membuat kemampuan mengamatinya bertambah.

Ditatap lagi objek di hadapannya. Kemudian pria ini berpaling saat objek tersebut bergerak. Objek tersebut ternyata hidup. Astaga! Si pria sulit mempercayainya. Objek tersebut menyadari bahwa ia telah dipandanginya cukup lama. Ternyata itu adalah seorang wanita yang telah ia pandangi sejak lama. Wanita ini pun tak merasa risih, meski sebetulnya ia bisa teriak dan menganggap pria di hadapannya seorang pengganggu. Tapi tak dilakukan. Toh, si perempuan tahu setiap orang memiliki mata, dan si pria belum tentu menatapnya dengan tidak-tidak.

Pria ini mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja dilakukannya. Kenapa ia menoleh ke kiri? Tanyanya pada diri sendiri. Oh, ya, aku baru saja berpaling dari objek yang kulihat. Lalu, mengapa aku berpaling? Ia takut. Pria ini takut objek yang dilihatnya merasa terganggu. Ia berpikir sejenak. Bukan, bukan itu yang aku inginkan, kata si pria.

Semua pertanyaan itu memuih saat si objek, wanita, teralihkan perhatiannya. Orang-orang lalu-lalang siang itu. Kendaraan membuat jalanan padat, membuat jalanan penuh dengan objek. Wanita sedang menunggu, di seberang jalan, dengan latar bangunan tidak terlalu megah. Meski begitu, mereka senada dalam warna pun serasi dalam rupa. Orang-orang di sana juga benda-benda yang hadir yang melatarinya. Indah, pikir si pria.

Di sinilah si pria yakin kalau dirinya sudah menjadi objek.

Sunday, 12 March 2017

Dinamika No. 1303



Saya punya ruang lingkup untuk bersosialisasi. Katakanlah di dalam ruang lingkup tersebut ada banyak teman sepermainan. Mereka datang satu per satu, menjadi kenal satu sama lain, dan mereka yang saya anggap cocok untuk berada dalam ruang lingkup saya adalah teman-teman saya pilih karena kesamaan. Pemikiran, cita-cita, masalah. Hingga akhirnya saya merasa memiliki mereka, meski saya nggak tau apakah mereka merasa begitu. 

Mereka ada untuk tumbuh bersama saya, dan melengkapi cerita saya dengan segala ciri khas mereka masing-masing. Itulah yang mebuat saya merasa memiliki mereka, dekat dengan mereka. Saya mendapat pelajaran yang mungkin tak akan saya dapat jika tidak bertemu mereka. Hal baru yang saya terima, kelak jadi salah satu faktor kenapa saya begini.

Saya pikir, saya akan tumbuh bersama mereka selamanya. Saya kira, mereka datang untuk tidak pernah pergi. Saya salah. Maka yang terjadi adalah sebaliknya. Saat di mana kami harus berpisah, adalah kebencian otomatis. Kebencian yang timbul karena pertanyaan: kenapa harus ada perpisahan. Orang bilang, setiap pertemuan pasti diakhiri dengan perpisahan. Kalau begitu, untuk apa saya dipertemukan? Kata saya kelak saat mereka pergi satu per satu.

Namun ada hal yang lebih bodoh dari itu. Mereka pergi untuk melenyapkan perasaan saya. Dan part paling bodoh terletak pada: ketika orang-orang baru mulai memasuki ruang lingkup saya. Mereka datang, menjadi kenal, dan mereka yang saya anggap cocok untuk tetap berada dalam ruang lingkup adalah orang yang berharga. Orang-orang baru ini—yang seiring berjalannya waktu menjadi berharga—kemudian akan pergi lagi. Saya kehilangan mereka lagi. Saya benci. Tapi dinamika pertemanan takkan berubah.

Kenapa?

Kepergian terjadi karena alasan. Demi hidup, demi mendapat hal baru, demi mengeksiskan dinamika ini. Dan saya yakin, dalam perjalanan mereka, orang-orang baru menghampiri. Sama dengan paa yang terjadi pada saya. Orang-orang itu datang dan pergi. Beberapa yang tersisa juga kemudian pergi. Akhirnya, kepergian mereka kembali pada saya.

Orang-orang yang pergi, bukan berarti akan pergi selama—meski dalam beberapa kasus, mereka yang pergi sudah tak pernah bisa kita temukan lagi. Adapun orang pergi kemudian kembali. Pada masa di mana lama tak bertemu, kita kan berjumpa lagi, berkumpul bersama mengenang masa-masa jahiliyah dulu. Juga mengenalkan mereka kepada orang-orang baru yang saya temui selama mereka tak ada.

“Yang itu tea...”

“Hahaha... iya yang itu tea.”

“Hahaha... yang pas si itu jadi gitu,”

“Iya, hahaha...”

Ini yang kami punya. Sampai waktu yang tidak ditentukan, kami memanfaatkan kesempatan ini. Karena dalam diri kami, sama-sama ada ketakutan bahwa waktu yang bergerak ini akan membuat kami berpisah lagi. Satu-satunya cara adalah kami menghabiskan waktu yang kami punya untuk tetap bersama.

Setelahnya, siklus tetap terjadi. Mereka harus berpisah lagi. Kami tau itu pasti terjadi. Saya sudah tak benci. Yang perlu saya lakukan adalah terbiasa untuk menyambut kedatangan dan menerima perpisahan.






*maaf untuk pembahasan receh ini

Friday, 10 February 2017

Surat Iseng Terbuka Untuk Mario Maurer



Deer, Mario Maurer (Deer, bukan dear. Beda arti, oke.)
 
Sehubungan dengan ditulisnya surat ini, maka pertama-tama aku mau bilang kalau ini surat khusus yang ditujukan buat kamu. Harusnya sih surat ini dikirim langsung ke kamu, tetapi beberapa faktor bikin surat ini gak bisa dikirim langsung ke situ. Aku nggak tau alamat rumah kamu (at least alamat supaya kamu bisa nerima surat ini langsung), kamu nggak ngerti bahasa Indonesia (huruf kita aja jauh beda), dan aku nggak mau keluar uang cuma buat ngirim surat ini (mending jajan mie ayam campur bon cabe), itulah beberapa faktor yang bisa aku sebutin. 

Akhirnya, surat ini aku posting di sini dengan harapan ada orang yang baca, terus orang itu ngasih tau ke kamu. Oh iya, surat ini tetep ditulis dalam bahasa Indonesia yang kurang baik dan kurang benar. Kemungkinan besar, orang yang bakal ngasih tau keberadaan surat ini ke kamu bisa bahasa.

Eh, ngomong-ngomong apa kabar? Jangan bilang kamu belum ada kabar. Aku di sini sekeluarga sehat sentausa. Semoga kamu di sana juga begitu. Udah lama ya sejak kamu ke Indonesia, tepatnya ke Bandung 2011 lalu. Kita ketemu di acara ultahnya si siapa itu aku lupa namanya. Pokoknya waktu itu aku dateng karena nggak diajak atau diundang siapa-siapa. Ya aku dateng aja karena pasti banyak kue di acara itu.

Aku nggak pernah ngarepin di acara itu ada Mario. Cuman, temen aku bilang bakal ada Mario. Nyesel kalo nggak dateng, katanya dengan nggak bermaksud ngajak aku. Lagi pula aku pikir sih waktu itu paling-paling yang dateng cuma Mario Teguh. Atau Mario Bros. Atau Orang lain pake kostum Mario Bros yang muka Mario Bros-nya ditutupin topeng Mario Teguh. Pokoknya nggak jauh dari itu deh.

Di acara itu juga aku kebayang acara pesta yang dikombinasi sama acara seminar motivasi di mana acara selingannya adalah badut sulap berkostum Mario Bros. Aku sih nggak terlalu interest sama konten acaranya. Cuma hidangan. Cuma hidangan di acara itu yang bikin aku tertarik pergi ke sana. Begitu aku masuk bareng temen, sementara temen aku rajin salaman sama orang yang ada di sana, aku malah nyerbu meja hidangan pesta. 

Aku bener-bener nggak nyangka—sekali lagi aku harus bilang nggak nyangka—sekaligus terkejut pas liat sosok kamu lagi ngambil sop buah di meja sebelah. Pantesan aja meja itu dikerumunin banyak orang. Ya, orang-orang nyangka kamu abang penjaga stand sop buah ganteng. Aku nggak jadi persoalan yang jaganya ganteng atau nggak. Begitu tau itu meja sop buah, aku langsung ninggalin meja kue soalnya aku suka banget sop buah, FYI. Oke, itu surprise anti-klimaks yang pernah terjadi selama hidup aku.

Dengan cermat, sambil jalan menuju meja sop buah, aku merhatiin kamu yang berdiri dengan cool. Cool banget. Orang lain di ujung ruangan pasti ngomongin kamu. “Hey, liat itu di meja sop buah bukannya ngelayanin tamu malah bersikap cool gitu.” Terimalah kenyataan bahwa banyak orang di sana nggak nyadar kamu Mario Maurer. Aku pun begitu, lebih tepatnya ngerasa nggak terkejut-terkejut amat.

Di satu sisi aku biasa aja karena nggak terlalu ngefans sama kamu. (Sebagian orang di sana masih mengira Abang ini penjaga sop buah ganteng, nggak lebih). Di sisi lainnya aku terkejut karena kita hari itu pake pakean yang hampir serupa. Hari itu, aku dateng ke acara tersebut pake kemeja putih, rambut rapi klimis. Aku nggak tau ternyata di acara itu kita pake pakean yang hampir serupa. Celana pun warna senada. Padahal, kita nggak janjian. Sungguh aku nggak nyangka.

Aku coba perhatiin kamu sekali lagi. Dan bener aja, kamu pake pakean yang nyaris serupa. Tapi, waktu aku perhatiin kamu, ada sebuah kejanggalan yang nggak bisa aku abaikan. Lalu aku coba deketin kamu ke samping meja itu.

Begitu aku nyamperin kamu ke meja sop buah, aku langsung manggil kamu.

“Mario!”

Kamu diem.

“Mario!”

Kamu tetep diem. Aku nggak tau kamu nggak denger atau memang kupingnya lagi mode silent.

"MARIO!"

Sia-sia.
 
Aku gak kehabisan akal. Dengan perasaan dongkol, aku putar arah ke panggung yang megah itu. Di sana ada MC yang lagi memberikan sambutan, dan aku langsung nyamber mic-nya. Aku nggak begitu inget waktu itu si MC nyebutin nama, yang jelas kepotong. Dengan mic di tangan, aku langsung manggil kamu. Si MC, dengan ekspresi muka bengong, langsung lambaikan tangannya. 

Sementara di sekitar meja orang-orang juga agak sedikit kebingungan, dua orang datang ke panggung. Nggak butuh waktu lama sampe mereka akhirnya dateng. Aku pun diseret keluar sama dua penjaga yang badannya nggak terlalu gede itu.

Aku cuman bisa pasrah sambil ngasih kode dengan berteriak, “Mario, salah lobang! SALAH LOBANG, BEGO!” Suara kencangku kemudian terputus karena mic-nya jatoh disertai dengungan feedback yang bikin seisi ruang tutup kuping.

Sebenernya waktu itu aku cuma mau ngasih tau kalo kancing kemeja kamu salah pasang. Kamu masukin kancing yang atas malah di lubang bawahnya, dan masang kancing yang bawahnya ke lubang yang bawahnya lagi. Tapi aku tau kamu waktu itu sibuk banget sampe-sampe salah ngancingin kemeja. Dan yang paling parah, kamu masukin kancing kemeja terakhir ke lubang kemeja manajer kamu, yang bikin kamu sama manajer kamu jalannya harus berdempetan sementara kalian berdua, orang-orang di sana, juga si tuan rumah nggak ada nyadar sama sekali. Ya, kecuali aku, yang udah percuma teriak-teriak.

Pas nyampe luar pintu, aku baru sadar ternyata yang nyeret aku keluar adalah anak SD berwajah mature. Itu istilah buat anak-anak yang punya tampang seperti orangtua. Makanya aku nggak ngeh sama mereka. Tau mereka anak SD, aku celupin muka mereka ke kuah sop buah.
Dan kamu! Hey, kamu nggak berkutik sedikit pun. Sama sekali nggak bereaksi pas aku manggil-manggil kamu. Emang sih, waktu itu aku teriak kayak salah nyebut nama orang. Waktu itu aku teriak, MARIOOO... MARIOOOZAWA!”

Aku manggil nama kamu tapi digabung pake nama belakang artis bokep. Mario Ozawa. Nggak jauh beda lah nama kalian. Oke, itu gak penting. Yang penting aku udah maapin kamu dari semenjak aku berdiri di pintu pesta, tentunya dengan rambut kusut, kancing kemeja ilang satu.

Denger-denger, kamu katanya mau menikah? Kasian ya jadi kamu, selalu digosipin banyak orang. Digosipin pacaran sama si ini lah, sama si itu lah, sama Farida Pasha lah. Aku nggak tau gimana kalo aku jadi kamu. Mungkin aku udah nggak tahan sama pemberitaan yang rumit begitu. Dan yang paling update, kamu digosipin nikah. Eh, tapi bener nggak, sih? Terus gimana dong nasib Baifern Pimchanok yang cantik itu?

Kalo ternyata kabar itu nggak bener, aku sih punya rencana bagus buat kamu dan kelangsungan hidup kamu serta masa depan kamu. Begini, udah lama aku tuh kasian sama kamu. Setelah tau kamu pernah main di film Love of Siam, aku bener-bener khawatir sama kepribadian kamu. Orang bilang kamu itu totalitas dalam memainkan peran. Totalitas itulah yang biasanya akan menjadi bagian dari keseharian kamu. Di mana, aku yakin, setelah kamu mendapat peran gay di film itu, kecenderungan kamu terhadap menyukai perempuan agak sedikit keganggu. Mengkhawatirkan.

Kembali ke rencana bagusku, jadi kenangan 2011 itu membawa aku kepada niat buat jodohin kamu sama orang yang aku kenal di dunia maya. Aku yakin sih kamu orang yang cocok buat dia, dan kamu pasti setuju bagaimanapun.

Dia itu orang yang syantik. Ya, saking cantiknya, kita mesti menyebutnya ‘syantik’. Syantik 17x, syantik syantik syantik. Meski di dunia ini cinta tak hanya saja memandang rupa, akan tetapi kamu juga perlu rupa untuk membangkitkan rasa cinta, bukan? Aku nggak perlu bertanya lagi, nggak perlu meragukan lagi, dan nggak perlu mengabaikan lagi kalau kalian ini sebenernya jodoh. Aku jalannya. Aku yang bakal menjodohkan kalian. Semacam kepastian.

Nama dia Mimi Peri. Gak perlu kaget. Itu emang namanya. Mimi Peri Rapunchelle. Dari dengar namanya aja kamu pasti terangsang untuk ketemu dia sekaligus membayangkan betapa seksinya dia. Kamu harus siap karena cowok sekeren kamu nggak boleh gugup atau panik.

Sekadar info, Mimi Peri Rapunchelle itu bukan sejenis tumbuhan ilalang, hewan vertebrata, atau benda tumpul. Dia itu manusia setengah peri yang kadang maen ke bumi buat nyari jodoh. Aslinya dia itu tinggal di kayangan antahberantah, di sebuah desa yang katanya serba elegan. Saking elegannya, tumbuhlah pohon pisang yang serupa sama di kebon milik Pak Yana, guru SMKN 1 Sukabumi.

Beberapa waktu sekali, Mimi Peri bakal turun ke bumi buat berburu jodohnya yang sudah digariskan. Dia sempat aku lihat di pertengahan kota lagi berjalan anggun menyapa para cowok yang ada di sana. Tahukah apa yang terjadi, Mario? Cowok-cowok yang disapanya itu lenyap. Seperti takdir telah memberi kode ketidakcocokan dengan melenyapkan cowok-cowok yang disapa Mimi Peri.

Kamu jangan risau mendengar ini. Nggak diragukan lagi kamu pria yang tepat sehingga nggak akan lenyap. Percayalah. Aku nggak mungkin mempermainkan nyawa kamu. Tujuan aku di sini nggak ada yang lain selain mau jodohin kamu. Serius, aku prihatin sama kamu. Kamu itu tampan, mapan, dipuja orang. Mungkin dengan begini kamu nggak perlu lagi dilema milih pasangan. Di antara sekian banyak publik figur yang udah kamu kencani, nggak ada sastu pun yang sreg, kan? Itu karena maereka emang nggak cocok sama kamu. Kamu itu perlu pendamping hidup yang spesial. Mimi Peri lah yang ideal. Kamu akan menghasilkan keturunan yang hebat untuk generasi bumi hari ini. Percampuran manusia Thailand dengan Setan manusia semi peri. Aku udah nggak sabar kalo kalian menikah, anaknya bakalan jadi apa.

Saat ini aku lagi nyari waktu yang tepat buat nemuin kamu sama Mimi Peri. Aku harap kamu bisa luangin waktu di hari dan tanggal yang tepat, dengan kesiapan mental yang baik pula. Karena ini akan jadi mega-pertemuan yang luar biasa berharganya.

Sekian dulu dari aku. Akunya capek ngetik mulu. Segera telepon aku setelah kamu baca surat ini. Eh iya, kita kan nggak pernah bertukar nomor telepon.