Sunday, 12 March 2017

Dinamika No. 1303



Saya punya ruang lingkup untuk bersosialisasi. Katakanlah di dalam ruang lingkup tersebut ada banyak teman sepermainan. Mereka datang satu per satu, menjadi kenal satu sama lain, dan mereka yang saya anggap cocok untuk berada dalam ruang lingkup saya adalah teman-teman saya pilih karena kesamaan. Pemikiran, cita-cita, masalah. Hingga akhirnya saya merasa memiliki mereka, meski saya nggak tau apakah mereka merasa begitu. 

Mereka ada untuk tumbuh bersama saya, dan melengkapi cerita saya dengan segala ciri khas mereka masing-masing. Itulah yang mebuat saya merasa memiliki mereka, dekat dengan mereka. Saya mendapat pelajaran yang mungkin tak akan saya dapat jika tidak bertemu mereka. Hal baru yang saya terima, kelak jadi salah satu faktor kenapa saya begini.

Saya pikir, saya akan tumbuh bersama mereka selamanya. Saya kira, mereka datang untuk tidak pernah pergi. Saya salah. Maka yang terjadi adalah sebaliknya. Saat di mana kami harus berpisah, adalah kebencian otomatis. Kebencian yang timbul karena pertanyaan: kenapa harus ada perpisahan. Orang bilang, setiap pertemuan pasti diakhiri dengan perpisahan. Kalau begitu, untuk apa saya dipertemukan? Kata saya kelak saat mereka pergi satu per satu.

Namun ada hal yang lebih bodoh dari itu. Mereka pergi untuk melenyapkan perasaan saya. Dan part paling bodoh terletak pada: ketika orang-orang baru mulai memasuki ruang lingkup saya. Mereka datang, menjadi kenal, dan mereka yang saya anggap cocok untuk tetap berada dalam ruang lingkup adalah orang yang berharga. Orang-orang baru ini—yang seiring berjalannya waktu menjadi berharga—kemudian akan pergi lagi. Saya kehilangan mereka lagi. Saya benci. Tapi dinamika pertemanan takkan berubah.

Kenapa?

Kepergian terjadi karena alasan. Demi hidup, demi mendapat hal baru, demi mengeksiskan dinamika ini. Dan saya yakin, dalam perjalanan mereka, orang-orang baru menghampiri. Sama dengan paa yang terjadi pada saya. Orang-orang itu datang dan pergi. Beberapa yang tersisa juga kemudian pergi. Akhirnya, kepergian mereka kembali pada saya.

Orang-orang yang pergi, bukan berarti akan pergi selama—meski dalam beberapa kasus, mereka yang pergi sudah tak pernah bisa kita temukan lagi. Adapun orang pergi kemudian kembali. Pada masa di mana lama tak bertemu, kita kan berjumpa lagi, berkumpul bersama mengenang masa-masa jahiliyah dulu. Juga mengenalkan mereka kepada orang-orang baru yang saya temui selama mereka tak ada.

“Yang itu tea...”

“Hahaha... iya yang itu tea.”

“Hahaha... yang pas si itu jadi gitu,”

“Iya, hahaha...”

Ini yang kami punya. Sampai waktu yang tidak ditentukan, kami memanfaatkan kesempatan ini. Karena dalam diri kami, sama-sama ada ketakutan bahwa waktu yang bergerak ini akan membuat kami berpisah lagi. Satu-satunya cara adalah kami menghabiskan waktu yang kami punya untuk tetap bersama.

Setelahnya, siklus tetap terjadi. Mereka harus berpisah lagi. Kami tau itu pasti terjadi. Saya sudah tak benci. Yang perlu saya lakukan adalah terbiasa untuk menyambut kedatangan dan menerima perpisahan.






*maaf untuk pembahasan receh ini

Friday, 10 February 2017

Surat Iseng Terbuka Untuk Mario Maurer



Deer, Mario Maurer (Deer, bukan dear. Beda arti, oke.)
 
Sehubungan dengan ditulisnya surat ini, maka pertama-tama aku mau bilang kalau ini surat khusus yang ditujukan buat kamu. Harusnya sih surat ini dikirim langsung ke kamu, tetapi beberapa faktor bikin surat ini gak bisa dikirim langsung ke situ. Aku nggak tau alamat rumah kamu (at least alamat supaya kamu bisa nerima surat ini langsung), kamu nggak ngerti bahasa Indonesia (huruf kita aja jauh beda), dan aku nggak mau keluar uang cuma buat ngirim surat ini (mending jajan mie ayam campur bon cabe), itulah beberapa faktor yang bisa aku sebutin. 

Akhirnya, surat ini aku posting di sini dengan harapan ada orang yang baca, terus orang itu ngasih tau ke kamu. Oh iya, surat ini tetep ditulis dalam bahasa Indonesia yang kurang baik dan kurang benar. Kemungkinan besar, orang yang bakal ngasih tau keberadaan surat ini ke kamu bisa bahasa.

Eh, ngomong-ngomong apa kabar? Jangan bilang kamu belum ada kabar. Aku di sini sekeluarga sehat sentausa. Semoga kamu di sana juga begitu. Udah lama ya sejak kamu ke Indonesia, tepatnya ke Bandung 2011 lalu. Kita ketemu di acara ultahnya si siapa itu aku lupa namanya. Pokoknya waktu itu aku dateng karena nggak diajak atau diundang siapa-siapa. Ya aku dateng aja karena pasti banyak kue di acara itu.

Aku nggak pernah ngarepin di acara itu ada Mario. Cuman, temen aku bilang bakal ada Mario. Nyesel kalo nggak dateng, katanya dengan nggak bermaksud ngajak aku. Lagi pula aku pikir sih waktu itu paling-paling yang dateng cuma Mario Teguh. Atau Mario Bros. Atau Orang lain pake kostum Mario Bros yang muka Mario Bros-nya ditutupin topeng Mario Teguh. Pokoknya nggak jauh dari itu deh.

Di acara itu juga aku kebayang acara pesta yang dikombinasi sama acara seminar motivasi di mana acara selingannya adalah badut sulap berkostum Mario Bros. Aku sih nggak terlalu interest sama konten acaranya. Cuma hidangan. Cuma hidangan di acara itu yang bikin aku tertarik pergi ke sana. Begitu aku masuk bareng temen, sementara temen aku rajin salaman sama orang yang ada di sana, aku malah nyerbu meja hidangan pesta. 

Aku bener-bener nggak nyangka—sekali lagi aku harus bilang nggak nyangka—sekaligus terkejut pas liat sosok kamu lagi ngambil sop buah di meja sebelah. Pantesan aja meja itu dikerumunin banyak orang. Ya, orang-orang nyangka kamu abang penjaga stand sop buah ganteng. Aku nggak jadi persoalan yang jaganya ganteng atau nggak. Begitu tau itu meja sop buah, aku langsung ninggalin meja kue soalnya aku suka banget sop buah, FYI. Oke, itu surprise anti-klimaks yang pernah terjadi selama hidup aku.

Dengan cermat, sambil jalan menuju meja sop buah, aku merhatiin kamu yang berdiri dengan cool. Cool banget. Orang lain di ujung ruangan pasti ngomongin kamu. “Hey, liat itu di meja sop buah bukannya ngelayanin tamu malah bersikap cool gitu.” Terimalah kenyataan bahwa banyak orang di sana nggak nyadar kamu Mario Maurer. Aku pun begitu, lebih tepatnya ngerasa nggak terkejut-terkejut amat.

Di satu sisi aku biasa aja karena nggak terlalu ngefans sama kamu. (Sebagian orang di sana masih mengira Abang ini penjaga sop buah ganteng, nggak lebih). Di sisi lainnya aku terkejut karena kita hari itu pake pakean yang hampir serupa. Hari itu, aku dateng ke acara tersebut pake kemeja putih, rambut rapi klimis. Aku nggak tau ternyata di acara itu kita pake pakean yang hampir serupa. Celana pun warna senada. Padahal, kita nggak janjian. Sungguh aku nggak nyangka.

Aku coba perhatiin kamu sekali lagi. Dan bener aja, kamu pake pakean yang nyaris serupa. Tapi, waktu aku perhatiin kamu, ada sebuah kejanggalan yang nggak bisa aku abaikan. Lalu aku coba deketin kamu ke samping meja itu.

Begitu aku nyamperin kamu ke meja sop buah, aku langsung manggil kamu.

“Mario!”

Kamu diem.

“Mario!”

Kamu tetep diem. Aku nggak tau kamu nggak denger atau memang kupingnya lagi mode silent.

"MARIO!"

Sia-sia.
 
Aku gak kehabisan akal. Dengan perasaan dongkol, aku putar arah ke panggung yang megah itu. Di sana ada MC yang lagi memberikan sambutan, dan aku langsung nyamber mic-nya. Aku nggak begitu inget waktu itu si MC nyebutin nama, yang jelas kepotong. Dengan mic di tangan, aku langsung manggil kamu. Si MC, dengan ekspresi muka bengong, langsung lambaikan tangannya. 

Sementara di sekitar meja orang-orang juga agak sedikit kebingungan, dua orang datang ke panggung. Nggak butuh waktu lama sampe mereka akhirnya dateng. Aku pun diseret keluar sama dua penjaga yang badannya nggak terlalu gede itu.

Aku cuman bisa pasrah sambil ngasih kode dengan berteriak, “Mario, salah lobang! SALAH LOBANG, BEGO!” Suara kencangku kemudian terputus karena mic-nya jatoh disertai dengungan feedback yang bikin seisi ruang tutup kuping.

Sebenernya waktu itu aku cuma mau ngasih tau kalo kancing kemeja kamu salah pasang. Kamu masukin kancing yang atas malah di lubang bawahnya, dan masang kancing yang bawahnya ke lubang yang bawahnya lagi. Tapi aku tau kamu waktu itu sibuk banget sampe-sampe salah ngancingin kemeja. Dan yang paling parah, kamu masukin kancing kemeja terakhir ke lubang kemeja manajer kamu, yang bikin kamu sama manajer kamu jalannya harus berdempetan sementara kalian berdua, orang-orang di sana, juga si tuan rumah nggak ada nyadar sama sekali. Ya, kecuali aku, yang udah percuma teriak-teriak.

Pas nyampe luar pintu, aku baru sadar ternyata yang nyeret aku keluar adalah anak SD berwajah mature. Itu istilah buat anak-anak yang punya tampang seperti orangtua. Makanya aku nggak ngeh sama mereka. Tau mereka anak SD, aku celupin muka mereka ke kuah sop buah.
Dan kamu! Hey, kamu nggak berkutik sedikit pun. Sama sekali nggak bereaksi pas aku manggil-manggil kamu. Emang sih, waktu itu aku teriak kayak salah nyebut nama orang. Waktu itu aku teriak, MARIOOO... MARIOOOZAWA!”

Aku manggil nama kamu tapi digabung pake nama belakang artis bokep. Mario Ozawa. Nggak jauh beda lah nama kalian. Oke, itu gak penting. Yang penting aku udah maapin kamu dari semenjak aku berdiri di pintu pesta, tentunya dengan rambut kusut, kancing kemeja ilang satu.

Denger-denger, kamu katanya mau menikah? Kasian ya jadi kamu, selalu digosipin banyak orang. Digosipin pacaran sama si ini lah, sama si itu lah, sama Farida Pasha lah. Aku nggak tau gimana kalo aku jadi kamu. Mungkin aku udah nggak tahan sama pemberitaan yang rumit begitu. Dan yang paling update, kamu digosipin nikah. Eh, tapi bener nggak, sih? Terus gimana dong nasib Baifern Pimchanok yang cantik itu?

Kalo ternyata kabar itu nggak bener, aku sih punya rencana bagus buat kamu dan kelangsungan hidup kamu serta masa depan kamu. Begini, udah lama aku tuh kasian sama kamu. Setelah tau kamu pernah main di film Love of Siam, aku bener-bener khawatir sama kepribadian kamu. Orang bilang kamu itu totalitas dalam memainkan peran. Totalitas itulah yang biasanya akan menjadi bagian dari keseharian kamu. Di mana, aku yakin, setelah kamu mendapat peran gay di film itu, kecenderungan kamu terhadap menyukai perempuan agak sedikit keganggu. Mengkhawatirkan.

Kembali ke rencana bagusku, jadi kenangan 2011 itu membawa aku kepada niat buat jodohin kamu sama orang yang aku kenal di dunia maya. Aku yakin sih kamu orang yang cocok buat dia, dan kamu pasti setuju bagaimanapun.

Dia itu orang yang syantik. Ya, saking cantiknya, kita mesti menyebutnya ‘syantik’. Syantik 17x, syantik syantik syantik. Meski di dunia ini cinta tak hanya saja memandang rupa, akan tetapi kamu juga perlu rupa untuk membangkitkan rasa cinta, bukan? Aku nggak perlu bertanya lagi, nggak perlu meragukan lagi, dan nggak perlu mengabaikan lagi kalau kalian ini sebenernya jodoh. Aku jalannya. Aku yang bakal menjodohkan kalian. Semacam kepastian.

Nama dia Mimi Peri. Gak perlu kaget. Itu emang namanya. Mimi Peri Rapunchelle. Dari dengar namanya aja kamu pasti terangsang untuk ketemu dia sekaligus membayangkan betapa seksinya dia. Kamu harus siap karena cowok sekeren kamu nggak boleh gugup atau panik.

Sekadar info, Mimi Peri Rapunchelle itu bukan sejenis tumbuhan ilalang, hewan vertebrata, atau benda tumpul. Dia itu manusia setengah peri yang kadang maen ke bumi buat nyari jodoh. Aslinya dia itu tinggal di kayangan antahberantah, di sebuah desa yang katanya serba elegan. Saking elegannya, tumbuhlah pohon pisang yang serupa sama di kebon milik Pak Yana, guru SMKN 1 Sukabumi.

Beberapa waktu sekali, Mimi Peri bakal turun ke bumi buat berburu jodohnya yang sudah digariskan. Dia sempat aku lihat di pertengahan kota lagi berjalan anggun menyapa para cowok yang ada di sana. Tahukah apa yang terjadi, Mario? Cowok-cowok yang disapanya itu lenyap. Seperti takdir telah memberi kode ketidakcocokan dengan melenyapkan cowok-cowok yang disapa Mimi Peri.

Kamu jangan risau mendengar ini. Nggak diragukan lagi kamu pria yang tepat sehingga nggak akan lenyap. Percayalah. Aku nggak mungkin mempermainkan nyawa kamu. Tujuan aku di sini nggak ada yang lain selain mau jodohin kamu. Serius, aku prihatin sama kamu. Kamu itu tampan, mapan, dipuja orang. Mungkin dengan begini kamu nggak perlu lagi dilema milih pasangan. Di antara sekian banyak publik figur yang udah kamu kencani, nggak ada sastu pun yang sreg, kan? Itu karena maereka emang nggak cocok sama kamu. Kamu itu perlu pendamping hidup yang spesial. Mimi Peri lah yang ideal. Kamu akan menghasilkan keturunan yang hebat untuk generasi bumi hari ini. Percampuran manusia Thailand dengan Setan manusia semi peri. Aku udah nggak sabar kalo kalian menikah, anaknya bakalan jadi apa.

Saat ini aku lagi nyari waktu yang tepat buat nemuin kamu sama Mimi Peri. Aku harap kamu bisa luangin waktu di hari dan tanggal yang tepat, dengan kesiapan mental yang baik pula. Karena ini akan jadi mega-pertemuan yang luar biasa berharganya.

Sekian dulu dari aku. Akunya capek ngetik mulu. Segera telepon aku setelah kamu baca surat ini. Eh iya, kita kan nggak pernah bertukar nomor telepon.

Tuesday, 31 January 2017

31

Enam ribu...

Seribu untuk shampo.
Dua ribu coklat sachet.
Dua ribu bumbu nasi goreng.
Seribu lagi kecap sachet.
Esok hari, belum tentu ada lagi.
Mandi keramas supaya segar.
Menyantap nasi goreng.
Sesudahnya minum coklat panas.

Pekerjaan menumpuk, cuma di benak.
Tinggal sisa satu, bayaran kecil.
Masih ada, belum pasti.
Meja kerja sepi sekali.
Hanya ada botol air.
Juga musik klasik era modern.
Mengalun bersama tanggal tua.

Enam ribu morat-marit.
Tahun depan, belum tentu bertahan.

Monday, 23 January 2017

Salam Malam

Dan untuk kita yang sedang merasa diadili malam,
jangan pernah mengelaknya dengan angkara.
Murkanya ia adalah biasnya kita.
Gelapnya ia kiasan sisi lain kita.
Dan untuk kita yang merasa ditemui malam,
jangan menolak kedatangannya.
Kedatangannya bukan untuk merenggut pagi.
Ia utusan waktu untuk menaungi lelahnya kita.
Menaungi hasrat di atas pukul 12 lewat.
Ketika kita mulai bercengkrama,
ia membiarkan dirinya milik kita.
Hanya itu yang bisa kusampaikan, sayang.
Salamlah pada malam.

Tuesday, 13 December 2016

Desember Siapa yang Punya

Nggak kerasa. Aslinya. Nggak kerasa 2016 mau udahan lagi aja. Dan, saya nggak mau akhir tahun ini dilewati dengan tanpa melakukan sesuatu yang keren.

Udah lima tahun ke belakang, Desember saya selalu diisi dengan hal-hal yang menyenangkan. Desember 2011 saya, diisi dengan membuat banyak momen perenungan, diiringi dengan tulisan-tulisan kecil. Waktu itu, band lagi on fire, dan sedang semangat bikin beberapa kegiatan bareng anak-anak.

Desember 2012, saya memulai draft naskah pertama saya, setelah ditolak penerbit. Desember itu, saya dapet pencerahan dari hujan-hujan yang turun terus menerus, dan musim dingin yang membuat saya menjadi lebih tegar. Duh, kok bahasanya jadi puitis gini, ya.

Desember 2013, buku pertama saya resmi beredar, dan saya (merasa) jadi penulis. Banyak kegiatan di waktu itu. Promosi, sombong-sombongan, merespons banyak orang yang ngucapin selamat. Rasanya, di tahun itu lebih menyenangkan. Banyak sesuatu nggak terduga datang setelah saya lama bersembunyi dari peradaban.

Desember 2014, saya disibukkan dengan setumpuk pesenan lukisan. Karena, di tahun itu, saya mulai dapet sampingan di mana saya jual lukisan yang orderannya didapet dari adik saya. Ceritanya, adik saya itu ngaku-ngaku bisa ngelukis. Dengan modal satu lukisan yang saya buat, dia umbar-umbar ke temennya. Terus, temen-temennya tertarik gitu, dan akhirnya banyak yang pesen ke dia. Singkat kata, dia udah bikin repot saya. Naskah baru saya sempet ketunda gara-gara orderan itu. Tapi sih, itu Desember yang paling sibuk.

Desember 2015, saya udah nggak nerima orderan lukisan lagi. Saya udah males. Soalnya tiap dapet job, foto yang saya lukis selalu wajah cowok. Itu nggak banget, sumpah. Berjam-jam, saya terus menerus merhatiin foto cowok, setidaknya sampe lukisan saya selesai. Itu yang bikin saya berenti nerima job. Lalu, saya beralih jadi tukang artwork. Saya penjaja artwork untuk brand-brand lokal. Kala Desember datang, job artwork saya mulai numpuk. Ya, meskipun sebagian besar diutangin sih...

Dan sekarang, di Deseber 2016, saya punya projek yang paling menyenangkan. Menurut saya--dan saya yakin--ini akan sangat menyenangkan. Semoga iya. Jadi, di projek ini, saya nggak sendiri ngerjain projek tersebut. Saya melibatkan temen-temen deket saya buat nyelesain projek ini. Detailnya belom bisa saya ceritain. Yang pasti, setelah projek selesai, bakal segera diupdate. Oh ya, projek ini juga yang bikin saya nggak bisa posting blog selama November. Karena memang dari November, saya dan kawan-kawan udah mulai mengembangkan projek ini. Mudah-mudahan kalian penasaran, terus ngedoain projeknya cepet selesai sekaligus sukses. Aamiin.

Desember selalu mempunyai makna yang dalem bagi banyak orang. Begitu pun dengan saya. Jadi, apa yang bakal kalian lakukan dengan Desember?

Siapa yang Ada Tatkala Peduli Tak Ada?

Siapa yang merekatkan hati menjadi utuh kembali kalau bukan seseorang yang benar-benar peduli?

Seretak-retaknya hati, akan ada seseorang yang merekatkannya lagi. Melalui kemapuannya, ia akan membuatmu kembali menikmati artinya mimpi. Saat semuanya berjalan pasti, kelak kaupikirkan bagaimana caranya menghargai.

Monday, 24 October 2016

Kemampuan Blenk

Sebelom postingan ini dimulai, saya pengen ngasih kabar gembira kalau sekarang saya punya keahlian baru: meramal. Saya minta waktu Anda sebentar untuk membuktikan kemampuan saya ini. Coba perhatikan, sebisa mungkin jangan sampai kehilangan fokus pada tulisan saya ini. Terus ikuti dengan konsentrasi penuh. Buat diri Anda rileks serileks-rileksnya.

Saya nggak akan minta Anda tarik napas dalam-dalam. Sebagai gantinya, saya minta pada hitungan ketiga Anda jangan pejamkan mata. Teruslah melihat ke layar di mana anda membaca blog ini. Perhatikan bagian tulisan ini! Di bagian sini adalah urutan terpenting dalam membuktikan kemampuan saya. Tolong supaya Anda masih dalam keadaan rileks. Kalau belum, masih ada waktu untuk rileks mulai dari sekarang. Saya akan ulangi, Anda boleh rileks sekarang, sementara pada hitungan ketiga Anda jangan pejamkan mata.

Satu.

Dua.

Tiga.

Tetaplah dalam kondisi terjaga. Jangan sampai Anda berpikiran yang lain. Sekarang perhatikan di belakang Anda. Ada seseorang yang memperhatikan Anda. Tengok ke belakang sekali lagi. Apakah orang itu ada? Kalau tidak ada berarti Anda sudah saya bohongi. Tapi kalau memang ada, berarti itu kebetulan. Saya harap Anda tidak keberatan dengan kemampuan saya. Postingan hari ini berakhir di sini. Terimakasih.


Gambar ini gak ada hubungannya sama postingan di atas. Tapi saya udah terlanjur punya gambar ini.

Thursday, 20 October 2016

Pada Jalan Lurus Kita Saling Bersilangan



 Di persimpangan jalan, kita datang dari arah berlawanan. Aku ke utara kau ke selatan. Kita berjalan dan bertemu di satu titik, kemudian saling melewati. Angin semilir gontai di antara kita, menyibak rambut lurusmu. Dunia berhenti berputar nol koma sekian detik. Dan saat itulah semuanya terasa sangat jelas. Aku menatap matamu, kau curi pandang menatap mataku. Keduanya tak bisa mengelak karena melihat di waktu yang bersamaan. Aku bisa melihat kerah kemejamu yang putih, kancing pertama dari kemeja, dan leher yang jenjang. Di bahu kecilmu sebelah kanan memikul tas yang tampak ringan. Mungkin hanya berisi beberapa buku pelajaran. Kita bergerak slow motion dan berlalu setelah saling membelakangi.
 
Di koridor sekolah, yang mengapit mading satu dan ruang enam belas, kita datang dari arah berlawanan. Aku dari perpustakaan, kau dari kantin. Tapi aku membawa sebungkus nasi, kau membawa novel. Kita berjalanan menuju arah berlawanan, dan bertemu di satu garis lantai. Jam tanganku berhenti berdetak, menandai waktu membeku saat kita saling menatap. Sesungguhnya aku ingin berbalik arah namun kaki terlanjur berjalan lurus. Aku ingin berhenti namun langkah sudah setengah. Kita pun saling melewati. Waktu kembali bergerak seperti biasa.

Di dalam kelas, kulihat kau di luar sana melalui jendela kelas. Kau berdiri di depan kelasmu, aku berdiri di dalam kelasku. Kita hanya terhalang satu dinding dengan jendela kaca besar. Bodoh jika kubilang kita tidak saling kelihatan sementara orang-orang menatap melalui jendela kaca itu. Keinginan untuk saling melihat tidak bisa terbantahkan karena rasa ingin tahu kita yang sedang sangat menggebu-gebu kala itu. Itu yang kita lakukan, tanpa ada gerakan tambahan, atau air muka terbuang, atau menoleh ke belakang.

Di dalam angkot jurusan pulang kita bertemu lagi. Sungguh, tak ada niatan menaiki angkot yang sama. Kebetulanlah yang mempertemukan kita. Aku duduk di bangku kiri dekat pintu, kau duduk di balakang sopir. Aku tahu sulit rasanya untuk menghindari pertemuan yang tidak disengaja; sebuah pertemuan lurus yang tidak disangka-sangka. Tak peduli beragam penumpang unik yang patut diperhatikan, yang akhirnya kulihat hanyalah kau. Aku mencoba tidak tertarik arus menuju wajahmu dengan susah payah. Namun akhirnya kalah juga. Sepanjang perjalanan, aku menatapmu dan kau menatapku. Kurasa apa yang kita lakukan sederhana, tetapi aku yakin semuanya tidak sesederhana itu. Perasaan dan situasi kita sangat rumit. Sulit diungkapkan walau dengan bahasa yang sederhana.

Aku pulang dengan membawa banyak potongan gambaran tentangmu dalam kepalaku. Saat sore hari datang, ketika aku tak banyak kerjaan, gambaran tersebut keluar dengan sendirinya seperti sebuah tayangan iklan. Karena itulah dalam malam-malam yang genting, kubuang satu per satu gambaran itu, sampai hari kesekian, gambaran tentangmu lenyap bersama waktu yang pernah membeku saat kita berhadapan. Hanya tinggal tersisa di benakku: mengapa tak ada kata ‘hai’ dalam setiap perjumpaan kita?

“Hai,” Kau bilang di suatu tempat ketika aku tak ada di sana. Kata itu sama sekali tidak aku sadari. Sekarang kukatakan “Hai” dari sini untukmu. Apa kau mendengarnya? Aku berani mengatakan tidak. Kau sama sekali tidak mendengarnya. Kita bisa mendengarnya pada saat kita di persimpangan jalan, di koridor, di angkot, dan tempat manapun di mana kita saling bertatapan. Padahal kita punya banyak kesempatan, untuk berucap lebih dari sekadar ‘hai’. Mungkin di sana, kau akan menjawabnya, "Perasaan dan situasi kita sangat rumit. Sulit diungkapkan walau dengan bahasa yang sederhana."