Tuesday, 15 October 2019

Puisi Kamu I

Mereka datang lagi,
menemuimu untuk memberi
bingkisan.

Dingin melipir dan perut
ditawar lapar.
Debu hangus dan kota
dibasuh tuntas.
Roda mobil kegirangan,
melaju laun menerobos petang.
Adakah hari esok dicipta
merdu gemericik?
Seperti hari ini.
Ya, hari ini.

Saturday, 21 September 2019

Pengakuan

Aku ingin menetas
kembali
menjadi aku.

Tuesday, 17 September 2019

Bimbang Bercabang Bak Ranting

Di belakang matamu, yakni samar tak terungkap, sebuah jendela berdebu bersedia mengintai masa lalu. Kenyataan butuh ditubuhi sebab penglihatan perlu diyakinkan. Perayaan pecah merekah-rekah menjadi basah di pipimu. Dari mata: kesanggupan untuk menyikapi airnya setelah menelusuri peta rencana yang dihapus jalannya.

Kemungkinan-kemungkinan kemudian berkembang dengan sendirinya terlebih pada saat-saat genting. Hati berpetuah sebagai ibukota yang siap berpindah. Kapan saja, siap atau tidak. Pusat risau ada pada titik kehidupan yang paling rendah. Manufaktur air mata ini bertukar melalui selat diri dengan diri yang lain.

Tak kau mengertikah semua perkataan ini? Ya, kebimbangan selalu membentuk lebih aktif daripada penyelesaian.

Wednesday, 11 September 2019

Selebrasi Sepi

Tiada. Tiada.
Eksistensialisme ketiadaan
adalah nyata adanya
sedang semu barangnya,

lagi pun hanya sekadar
namun bukan tak berkadar.
Jika ketiadaan
batas dari nihilisme,
yang bergerak akan
menjadi kalimat-kalimat

sunyi.

Tiada. Tiada.
Suara samar-samar
bunyi kadaluarsa,
milik manusia yang
terpahat dadanya, juga jiwanya.
Televisi,
harus banyak direvisi
agar ketika kamar sepi,
ia tahu bagaimana

berselebrasi.

Pun

Siapa pun yang ingin menghapusku takkan mampu, sedikit pun. Siapa pun yang ingin melukiskan aku, takkan ada mampu. Pun aku telah membuat benteng yang bahkan tak mungkin disentuh. Namun siapa juga yang akan melakukan itu padaku?

Tuesday, 3 September 2019

Sekadar Cacatan

Aku bisa menerima bahwa perjalanan ini telah mengubahku. Dalam pencarian jati diri yang luar biasa berkelok untuk diarungi, aku menemukan banyak hal untuk diceritakan bersama. Waktu telah membawaku sampai sekarang, di mana semua ini memiliki berbagai macam pilihan. Namun terkadang, aku merasa hidup sedikit tak adil ketika pada akhirnya waktu-waktuku pun direnggut kenyataan.

Meski, aku tahu, perjalanan panjang akan mempertemukanku dengan orang banyak dan kisahnya tersendiri. Sampai saat ini, aku tak pernah lagi membuka diri untuk pertemanan baru. Kalaupun iya, mereka hanya sebatas kenal saja, dan aku belum berminat untuk tau dan memberi tahuku lebih dalam. Barangkali hanya obrolan-obrolan, namun tak sampai pada kehidupan yang sangat pribadi.

Sunday, 25 August 2019

Cipta

Ruh
demi ruh
Ia pintal.
Lantas dimasukkannya
ke dalam kuali panas.
Air bergolak,
asap membumbung
tinggi sekali.
Ia ingin mengaduk
nasib
Memasak kehidupan.

Saturday, 24 August 2019

Aamiin

Aku ingin ketika aku bangun tidur dan membuka mata, ia telah ada di sampingku, memelukku dengan dekapan hangat. Dan ada kejujuran dan maaf. Maka satu hal ketika aku melihatnya adalah memeluknya sambil berkata, "Kau sudah pulang. Jangan pergi lagi. Kita mulai lagi dari terakhir kali hal menyenangkan dilakukan."

Itulah saat aku melihat semuanya telah kembali. Aku kan menciumnya tanpa henti, sampai senyum menyimpulkan rasa bahagia.

Kuyakin harapanku takkan sulit untuk Tuhan kabulkan. Aku percaya mukjizat selalu datang di titik hidup paling ekstrim. Seperti saat sebelum aku tidur. Maka, Tuhan, ijabahlah. Ijabahlah keinginanku. Perjalanan sudah terlalu berdarah, saatnya kuseka untuk kembali berjalan.

Aamiin.

Aamiin.

Tuesday, 20 August 2019

Sadrah II

Berapa lama lagi aku kan dirajam petaka? Berapa banyak lagi ujian kan menghantam? Segalanya datang berlipat ganda. Segalanya mengadukku jadi sia-sia.

Kalau esok kematian mengetuk dahiku, kuharap batu nisan tak sungguh rampung dibuat. Bila pusara sudah barang tentu hadiah, maka kuucapkan pada diriku sebuah tahniah.

Monday, 19 August 2019

Ihwal

Selalu ada cara untuk agar menjadi tidak bijaksana. Pun selalu ada cara untuk menjadi lebih goyah dari hari kemarin. Manusia bisa menjadi sangat lemah oleh keadaan.

Aku menyedihkan. Kau jauh lebih menyedihkan lagi. Itu sebabnya aku menangisi keduanya. 

Sepanjang hari.