Thursday, 30 November 2017

Variasi Kalut

Pintu menuju ruang kepala dicegat serupa duri
Aku bertanya apakah ia menyakiti
Pada daun telinga kanan ia berembus pelan
Keluar begitu saja melalui yang kiri
Meninggalkan kata-kata yang menyumbat saluran pikir
Aku bukan ahli pikir, pikirku
Pikiranku tumbuh berbeda dengan tubuh yang lain
Kata-kata telah mengontrol, ambil alih kendali
Aku menggeliat, bergulir di lantai kayu cokelat kemerahan
Bersama seorang balerina berkaki jinjit
Diiringi waltz bertempo rendah yang muncul dari gramofon tua
Disorot lampu silau ke mana pun kami bergerak
Tanpa peduli tepuk tangan ada ataupun tidak
Teriakanku tak lain jelmaan sorak sorai kesengsaraan
Sentimentil, dan aku terlipat-lipat
Terselip dalam kantong kemejaku sendiri
Yang dipakai oleh seseorang ke suatu tempat jauh
Ujung lipatanku mengetuk-ngetuk kantung di dada
Ia tak hiraukan
Baginya lebih penting melihat lanskap awan,
dan daratan sama panjangnya membentang
Karena melihat itu mampu menyempitkan rongga dada
Sementara darahnya berdesir
Lebih liar dari perjalannya ke suatu arah
Memberatkan napas dan lidah yang bersembunyi di balik bibir
Apa yang ia ingin ucapkan adalah tidak tahu menahu
Hanya menunggu datangnya banyak ungkapan,
yang belum terpikirkan
Caranya mematung membuat hening senantiasa berulang,
dan kosong berpusing di kepala
Saat air-air berjatuhan memulas jalanan yang pernah kering,
kami sama basahnya dengan cucian yang diangkat dari rendaman
Tetapi kami sepolos kaus kaki putih,
yang tergantung dekat cerobong rumah-rumah
pada malam natal yang datang teratur setiap tahun
Di waktu yang lelah, ia berteriak sembrono,
"Bawa aku pergi ke mana pun angin berlalu!"
Kami benar-benar ada di sana
Di pintu menuju ruang kepala, di mana duri mencegat
Dia bertanya apakah duri menyakiti
Sebelum duri berkata, aku telah mengatakannya,
"Kita adalah gasing yang memuih pada pikiran kita sendiri!

Monday, 13 November 2017

20 Menit Mendamba

Kepada senja yang tetap damai,
dalam porak poranda hati perasa
Sampaikan satu-dua baris ini
pada ia yang di sana,
yang menghamparkan kecemerlangannya,
bahwa aku untuknya saja

Demi kawan senja: sang hujan,
rintiknya dibicarakan orang
suaranya berirama dan mendendam pada terik
menyenggamai tanah hingga basah
Aku titipkan, kecupku padanya,
yang tak terenyak derasmu
Meski turun mengguyur tubuh
Katakan, katakan aku ingin,
ingin berteduh padanya

Kau senja dan hujan,
diagungkan pujangga karbitan,
dibicarakan anak indie musiman,
disematkan pengelana dadakan
Kau senja dan hujan,
tak lengkap jika tak tertuliskan
Kau senja dan hujan,
hanya pelampiasan
Aku tak peduli,
jika kalian pamit pada langit,
selama ia adalah milikku,
aku takkan bergeming
Demi apa pun aku takkan bergeming

Saturday, 14 October 2017

Di Dalam Toko Roti Itu



Mereka duduk di bangku masing-masing sementara adzan Isya sudah berkumandang berjam-jam yang lalu. Obrolan sudah tak karuan, cuma pembahasan-pembahasan yang mudah selesai, kemudian diam, kemudian berpikir apa lagi yang bisa diobrolkan. Tak ada obrolan berarti, pertanda sudah waktunya pulang.

“Boleh saya tinggal sebentar lagi di tempat ini?” kata lelaki satu yang mengenakan sweater hitam.

“Tentu. Tapi saya ingin dengar apa alasanmu tinggal di sini sebentar lagi,” ucap si lelaki dua yang hanya mengenakan kaos berwarna putih.

Si Sweater terdiam sejenak, campur kebingungan.

Si Kaos menangkap keresahan dari raut wajah si Sweater. Si Sweater makin bingung untuk menjelaskan. Ia hanya melipat bibirnya dan membasahi bibirnya dengan lidahnya sendiri. Tampaklah setelah diperhatikan wajah si Sweater yang pucat sekaligus murung.

Itu adalah toko roti dan kue yang bertengger di jalan sekitar perkotaan. Toko itu milik pribadi si Kaos Putih yang dibangun setelah sepuluh tahun bekerja di pabrik roti. Tempat itu memang biasanya agak tenang setelah Magrib berlalu dan si Sweater datang ke toko sahabatnya ini sekali seminggu. Dia akan datang lalu duduk memesan roti keju kesukaannya. Setelah itu, sahabatnya, si pemilik akan menemui mejanya saat pembeli sudah bisa hanya ditangani oleh dua pekerjanya saja. Hampir selalu begitu.

Akan tetapi, malam ini yang membuat heran si Kaos adalah permintaan sahabatnya untuk tinggal sebentar lagi. Karena biasanya, saat si Kaos hendak menutup toko, si Sweater akan ikut pulang bersamanya. Sama seperti suatu hari ketika obrolan masih harus dilanjutkan, salah satunya akan mengajak ke rumah untuk meneruskan pembahasan yang dimaui. Mereka tidak biasa mengobrol di toko sampai larut malam meski tempatnya lebih enak daripada di rumah masing-masing. Mungkin karena kota kecil ini selalu saja sepi di atas jam sepuluh malam.

“Ada apa?” si Kaos kembali memancingnya dengan bertanya.

“Eh, anu...” si Sweater menggaruk kepala padahal tidak gatal. “Itu...”

Si Kaos menunggu si Sweater memberikan alasan.

Selang beberapa waktu, si Sweater lalu berkata, “Saya lagi nggak mau pulang ke rumah.”

“Kenapa?” tanya si Kaos, memancing alasan lain.

Si Sweater kembali mencari kata untuk diucapkan. Dan kini si Kaos ikut menunggu-nunggu.

Si Kaos mengambilkannya dua potong roti keju yang sama dipesan si Sweater dari gerai yang dijajari roti dan kue sedap dipandang bentuknya.

“Yang ini tidak diskon,” si Kaos menyodorkan roti itu dalam piring keramik imut, “Juga tidak perlu bayar. Mesin kasir sudah dimatikan,” ujarnya mengupahi.

Ternyata roti-roti yang datang ke mejanya membantu proses si Sweater dalam berucap. Ia pun berkata, “Ini perihal kangen.”

Si Kaos langsung menangkap maksud sahabatnya. Ia berjalan ke belakang gerai dan mengambil remote pemutar musik. Dengan volume yang cukup, ia memutar lagu Yiruma yang membuat seisi ruangan jadi lain atmosfernya.

“Saya takut pulang ke rumah,” seru si Sweater.

“Lalu, hubungannya sama kangen?”

“A... anu... ada banyak celah di rumah saya,”

Sampai di titik ini, tatapan si Sweater sama sekali tak ada binar. Tak juga ada terlihat hidup. Kosong melompong seperti mata plastik buatan pabrik.

Dan si Kaos mengerti, orang-orang yang sedang sendu kerap berucap dalam bahasa yang kacau nan membingungkan. Tetapi baginya tiada yang lebih membingungkan dari menyimak apa yang sahabatnya ucapkan malam ini. Rumah; takut; kangen; celah; si Kaos hampir kesulitan menyambungkan semua itu jadi satu penjelasan utuh.

“Sebentar. Saya mau coba uraikan apa yang saya tangkap dari yang kamu ucapkan.”

Yiruma di dalam pemutar musik sana sudah mencapai track terakhir. Sebentar lagi akan memasuki album Yiruma lainnya yang lebih sendu.

Si Kaos mengerutkan dahinya, sebelum berkata, “Kamu saat ini takut pulang ke rumah karena di sana banyak celah yang dapat membuatmu kangen pada seseorang. Iya, kan?”

“Iya, saya lagi kangen seseorang,”

Si Kaos sudah tau pada siapa si Sweater kangen. Maka ia tak perlu lagi bertanya tentang kejelasan siapa orang yang dikangeni. Yang dia perlu tau adalah kenapa si Sweater takut kangen. Si Kaos pun menanyakannya.

“Saya takut kangen ini nggak terbalaskan atau tertuntaskan,” jawab si Sweater.

Si Kaos menepuk pundak si Sweater. “Berat.”

“Lebih berat dari yang kamu kira,” kata si Sweater. Ia menunjuk wajahnya, “Lihat, jerawat-jerawat ini,”

Si Kaos memerhatikan dengan saksama. Kemudian menatap si Sweater, berharap ia dapat penjelasan lainnya soal jerawat-jerawat itu.

“Katanya jerawatan itu tandanya kangen sama seseorang.”

Si Kaos mengangguk heran. Ia bukan orang yang mudah percaya dengan ‘katanya’. Namun sepertinya si Kaos harus mengerti mengapa wajah si Sweater dipenuhi jerawat yang baru tumbuh.

“Kalo kangen ditandai dengan tumbuhnya jerawat,” ucap si Kaos, “maka betapa rusaknya mukamu. Lihat, jerawatmu menjadi-jadi. Apakah itu tandanya kangen berat?”

“Entahlah. Merugikan kalau setiap kali kangen harus tumbuh jerawat.”

“Iya. Tapi pernahkah kamu berpikir kenapa kangen terjadi?”

“Sepengetahuan saya, kangen ada setelah terjadi pertemuan. Dalam kasus saya, kangen pada seseorang.”

“Persis seperti yang saya pikirkan. Dan kangen itu entitas dari keinginan untuk bertemu kembali. Tanpa pertemuan, takkan ada kangen di waktu selanjutnya. Kalau tak ada kangen, maka pertemuan hanya bisa terjadi kalau tak disengaja.”

Si Sweater mengangguk.

“Jadi, mengapa kamu meragukan kangenmu. Maksud saya, kangenmu yang sedang akan meraung itu mengapa kamu cemaskan? Kan tinggal bicara sama orang yang kamu kangeni, lalu tuntaskan dengan sebuah pertemuan.”

“Itulah yang membuat saya kesulitan berkata-kata. Tadi saja saya kehilangan pijak ketika hendak menjelaskannya padamu.”

“Maka jelaskanlah sekarang sebelum kehilangan kembali pijakan itu.”

Si Kaos malah mulai merasakan ada kesedihan dalam raut si Sweater. Ia rasakan ada pijakan yang tak mampu diinjak si Sweater, yang membuatnya sulit untuk mengatakan. Tapi si Kaos tak mampu jua menerka maksud si Sweater tanpa dijelaskan terlebih dahulu apa yang menjadi keresahannya malam ini.

“Di saat seperti ini, saat-saat saya membutuhkannya, ada sebab yang menahan kami, yakni hal-hal di luar kemauan kami. Saya tak bisa mengatasinya, dia juga. Maka kami hanya saling menunggu

“Berdasarkan hal-hal di luar kemauan kalian, bolehkah saya dengar apa itu?”

Si Sweater terdiam dengan kepala tertunduk menatap kedua tangannya di pangkuannya sendiri. Ia tak menunjukkan keinginan untuk memberitahu, tetapi juga tak memberi isyarat untuk tak menceritakannya.

“Okay, baiklah. Yang satu itu, kamu tak perlu mengatakannya. Saya tak ada hak untuk tahu banyak soal itu. Terlalu jauh. Pembahasan ini sebatas permukaan kangen saja, bukan?”
Si Sweater masih tertunduk, lesu.

“Kangen sulit sekali kita bendung. Semakin ditahan semakin menjadi. Apalagi kalau dibiarkan, ia menerkam seluruh akal sehat sampai tak bersisa. Yang tersisa tinggallah perasaan meradang. Kurasa kangen telah membuat perasaan kita memberontak. Setidaknya itu menurutku.”

“Itu yang nggak saya maui. Jika kangen tidak memungkinkan untuk dituntaskan, saya sungguh tak mau ia datang pada saya .”

“Jadi bagaimana kamu akan menghadapinya?”

Tetiba terdengar ketukan dari luar pintu kaca toko. Samar-samar seperti seorang gadis.


Bersambung...

Friday, 29 September 2017

Antara Lamunan dan Kegabutan



Berawal dari ke-gabut-an temporer yang selanjutnya menggiring saya untuk mainan hape dan buka Instagram. Karena sebetulnya sudah jenuh dengan sosmed yang satu ini, saya iseng mengecek explore dan scrolling sampe bawah. Terus ke bawah, terus ke bawah. Jari pun terasa pegal dan saya berhenti. 

Mata saya kemudian menangkap satu postingan berupa ilustrasi dari akun seorang komikus (yang mohon maap namanya saya lupa). Dalam postingan tersebut tertera sebuah gambar telepon umum dengan tulisan kurang lebih begini, “Kalo kamu diberi waktu 30 detik buat menelepon diri kamu 5 tahun lalu, apa yang akan kamu sampaikan?”

Seketika saya tertegun. Sementara tangan saya menaruh hape, pikiran saya setelah sekian lama kembali mengembara seperti yang biasa saya lakukan di kamar mandi sebelum hendak mengguyur kepala dengan air di gayung.

Lima tahun. Kenapa bisa pas postingannya , ucap saya dalam hati. Lima tahun lalu adalah kilas balik perjalanan saya, di mana saya memulai apa yang tengah saya lakukan dan benar-benar sangat ingin melakukannya. Sebuah rencana yang pernah disusun dengan tidak rapi tapi pada akhirnya rencana tersebut, meski prematur, terealisasikan juga. Tidak seperti rencana lainnya. Singkat kata, mereka telah menanti saya dalam lamunan pendek.

Saya membayangkan apa yang akan saya katakan pada diri saya di lima tahun yang lalu melalui sebuah telepon berkesempatan durasi 30 detik saja. Ini nyaris seperti yang pernah ada dalam lamunan saya ketika di tepian sungai setahun yang lalu. Pada saat itu, saya lagi sering-seringnya memikirkan diri saya sendiri, pergi ke tempat sunyi, menyendiri, melamun dan  menyesali diri saya pada tahun-tahun yang berat itu. Bedanya, saat itu saya membayangkan seandainya bisa bertemu dengan saya di masa lalu, bukan dengan telepon. Meski sedikit berbeda, keduanya masih satu tema: perjalanan lintas waktu untuk memperbaiki sebelum akhirnya begini. Apalah itu, yang pasti, kemungkinan yang akan saya katakan pada diri saya lima tahun yang lalu akan seperti ini jadinya:

“Halo...” 

“...”

“halo... Oy! Duh, sinyal parah nih... Kamu denger nggak, sih?!”

Dan telepon pun terputus.

Okay, itu lamunan gak jelas. Yang bener adalah di bawah ini:

“Halo, Blenk.”

Si Blenk 5 tahun lalu kemungkinan akan menjawab,

“Halo, iya. Ini siapa?”

Lalu saya akan membungkamnya dengan penjelasan tanpa jeda, dilanjut dengan inti. Seperti ini:

“Oke, Blenk, dengar, jangan dulu bicara karena waktu kita nggak banyak. Pokoknya dengarkan baik-baik, lalu pikirkan matang-matang. Jangan pikirkan yang tidak perlu seperti siapa saya atau kenapa bisa. Pokoknya dengarkan. Lima tahun dari sekarang, kamu akan menjadi apa yang kamu mau asalkan kamu tidak terpengaruh dengan perintah atau rujukan orang lain. Dengarkan hatimu sepenuhnya, lalu lakukan apa pun yang kamu mau.

Fokuslah pada tujuanmu, dan jangan pernah khawatirkan dirimu jika benar itu berasal dari kata hatimu. Semua akan berjalan dengan baik. Nikmati prosesnya, syukuri likunya. Ketika akhirnya tiba, kamu tidak akan pernah menyesal. Lakukan. Lakukan. Oh iya, satu lagi, tak perlu khawatir akan siapa yang menemanimu. Karena lima tahun dari sekarang, kamu punya seseorang yang menyemangatimu dan mendukungmu, dan sayang, dan mempercantik semua perjalanan ini. Cukup. Jangan tanya lagi. Semua sudah jelas. Terimakasih untuk bersedia menjadi Blenk, yang tak pernah ragu akan pilihan.”

Saya kembali dari lamunan disusul dengan helaan napas panjang. Dan saya sedikit menyesal sudah melamun terlalu jauh. Lagi. Kenapa? Karena pada kenyataannya, di tahun itu, saya kerap terpancing dengan kemauan orang lain, masukan yang tidak perlu, dan hal-hal yang bukan berasal dari hati saya sehingga dampaknya terasa di masa sekarang. Ya, saya sedang mengenyam itu.

Belum cukup mengawang, pikiran saya transit ke memori suatu siang ketika saya menghampiri seorang bule yang belakangan diketahui sebagai dosen elektro. Dia adalah orang yang mewawancarai saya pada saat saya mengikuti tes perkuliahan.

Siang itu saya menghampiri dia, mencoba menyapanya. Dia hampir tak mengingat saya kalau saja saya nggak menunjukkan rambut panjang saya. Pandangannya teduh memerhatikan saya. Sambil menaruh tumbler berisikan kopinya, dia berkata, “Ah, I got it. You are lil girl.”

Okay, saya bete diingatkan itu.

Di kantin siang itu kami bercakap-cakap ngalor ngidul blablabla. Dia banyak membicarakan mengapa pemikiran orang-orang tidak out of the box. Maka, di bagian ini saya mulai mendengarkan dia dengan serius sambil menerka-nerka apa yang dia katakan itu dalam bahasa inggris, pun suaranya terdengar agak pelan, membuat saya harus fokus dua kali lipat. Tapi saya menangkap juga apa yang dikatakan dia. Seandainya kalian tau, itu sangatlah menarik untuk disimak.

Apa yang dia katakan sebenarnya sangat sederhana. Hanya tentang “do what you wanna do” dan “just do it”. Mungkin yang kedua kedengaran seperti dia mengambil jargon Nike. Tapi, apa yang dikatakannya benar-benar membuka pikiran saya siang itu bahkan ketika saya sampai di rumah. Dia bertanya pada saya, “Saya tanya, kenapha kamyu datang ke shenee?”

Saya mencoba mencerna apa yang dikatakannya. Oh, dia berkata kenapa saya datang ke sini. Ya. Ya. 

Saya hanya jawab, “Karena saya mau menyapa anda.”

Dia tertawa, kemudian bilang, “Because kamyu mahu,” yang artinya, karena kamu mau.

Oh ya. Dia sedang memberi penjelasan tentang do what you wanna and just do it dalam contoh yang sangat sederhana. Sesederhana itu.

Ah, andai waktu itu saya melakukan apa yang saya mau, tidak peduli apa yang terjadi. Dan saya mengulang lamunan saya lagi tentang telepon. Saya jadi benar-benar mau melakukannya. Benar-benar pengin bisa terjadi. Tapi sudahlah. Perjalanan lintas waktu hanya bisa dilakukan dengan melamun. Hari ini akan jadi masa lalu. Masa yang akan datang akan menjadi hari ini.

NB: Ngomong-ngomong, dialog tentang telepon itu bakal memakan waktu lebih dari 30 detik. Jadi, kalau saya dapat kesempatan, maka saya mau nawar supaya waktunya lebih dari 30 detik. Percayalah, obrolan serius tidak pernah memiliki durasi pendek.

Sunday, 10 September 2017

Cerita Tentang Mereka yang Jarang Diceritakan



Ada sepasang mata yang tak bisa menatap balik. Mereka adalah sepasang mata kaki. Ada sepasang mata kaki yang tak mungkin ada. Itu adalah mata kaki kecoa.

Di kamar saya, yang setiap hari jadi tempat saya mengerjakan sesuatu komersil maupun tidak, yang juga jadi tempat untuk tidur, makan, sekaligus melamun, juga menjadi tempat nongkrong jikalau saya diajak teman untuk nongkrong tapi saya enggan keluar, ya jadi di kamar saya yang ruang serbaguna ini pernah ada kecoa. Mereka sebetulnya hampir tak pernah secara langsung mengganggu, hanya saja mereka sebaiknya tidak dekat sama saya. Sudah berapa juta orang yang mendeklarasikan dirinya untuk tidak menyukai makhluk yang satu ini. Tapi ya sudahlah, saya memang nggak terlalu suka kalau mereka ada di sekitar saya.

Kecoa tidak pernah terlihat adu mulut dengan para cicak yang merayap di dinding. Sekali waktu saya mendapat kesempatan melihat mereka berdua bertemu di dinding. Satu si kecoa terbang yang menjijikan, satu lagi si cicak yang tampan bagi cicak-cicak lain. Saya sudah tau, mereka gak akan saling menyapa. Tetapi saya juga tau, mereka tidak sedang bermusuhan. Ini seperti, “Okay, kita bertemu di sini, dan anggap kita tidak pernah saling melihat. Kalau terpaksa melihat, anggap saja kita bukan siapa-siapa.” Itu yang ada di pikiran saya saat melihat keduanya saling bertemu.

Di dinding dan lantai, seringkali banyak pasukan semut (kecil atau besar) yang berjalan berbaris-baris. Saya tidak ada masalah sampai suatu saat mereka berkerumun di gelas saya yang terisi teh manis dingin. Saya nggak ngerti apa tujuan mereka berkerumun di gelas teh manis. Apakah mereka kehausan, ataukah mereka menganggap itu kolam yang enak. Bagaimana kalau mereka pipis sembarangan di teh manis yang mereka anggap kolam itu? Saya akan sangat menghargai kalau mereka minta ijin terlebih dahulu pada si empunya teh manis. Sayangnya, kalaupun mereka minta ijin, pasti menggunakan bahasa semut, yang tentunya nggak saya mengerti.

Belum lagi, lalat yang sering terjebak di dalam ruangan saya. Kamar saya sejatinya minim ventilasi. Membuat kamar saya sedikit sumpek, gerah, dan saya anehnya nggak tertarik untuk membawa kipas angin ke dalam kamar. Saya lebih sering mengalah pergi ke luar kalau ruangan sedang panas. Oh iya, saya kan tadi sedang bicara soal lalat. Jadi para lalat yang terjebak, tentunya akan sulit untuk keluar lagi dari kamar saya. Ventilasi kamar saya kecil. Mungkin, banyak lalat sering menyepelekan ventilasi ruangan saya. Makanya, lalat-lalat yang terjebak beterbangan dengan panik. Saya sangat tau lalat-lalat ini ingin mencari udara segar, sama seperti saya, tapi karena mereka tak pernah mau dengar saya yang menyuruhnya keluar lewat pintu, maka mereka sering kena pukul saya. Untuk kasus ini, dan untuk keluarga korban para lalat, saya turut meminta maaf, juga berbelasungkawa atas wafatnya kerabat kalian.

Dan ketika semuanya sudah mulai tenang. Para cicak kembali datang dengan tidak tenang. Salah satunya pernah mengendap di samping saya, di dinding yang kusam dan retak-retak. Saya gak ada masalah pribadi dengan mereka karena mereka tidak punya utang ke saya, dan seingat saya, saya nggak pernah meminjami mereka sejumlah uang. Toh, mereka mau beli apa dengan uang rupiah yang ada di kantong saya? Mereka tak perlu beli pakaian. Mereka tidak perlu sewa rumah. Mereka makan tak perlu pakai uang. Tetapi inilah yang membuat para cicak mengendap-endap di dinding dengan tidak tenang.

Bahwa mungkin ayah-ayah cicak yang mencari nafkah mulai resah, anak-istrinya di sarang sedang menanti kepulangannya membawa buah tangan. Dan buah tangan itu tak lain adalah nyamuk yang selalu berdengung ke mana pun mereka pergi. Saya nggak tau apakah nyamuk-nyamuk juga merasa risih dengan suara mereka. Ataukah mereka menerima takdirnya sebagai nyamuk yang berisik? Para nyamuk selain berisik adalah membuat kulit bentol. Saya nggak suka kalau mereka mencari nafkah dengan cara itu. Bagi para cicak, nyamuk adalah buah tangan. Dan bagi para nyamuk, darah manusia adalah buah tangan. Dengar ya, sudah pernah saya katakan sewaktu SD, kalau saya tak akan pernah menyumbangkan darah saya, sekali pun itu darah kotor untuk para nyamuk. Meski, pada akhirnya, mereka tetap menghisap darah dari saya.

Selain mereka, sebetulnya masih ada banyak yang mampir atau mungkin menghuni kamar saya. Ada kupu-kupu, laron, kelabang, laba-laba, dan masih banyak lagi. Saya memang tidak pernah mengijinkan mereka ada satu ruangan dengan saya, akan tetapi mereka telah membuat ruangan saya jadi cerita, bersama mereka. Jadi, kalau ada yang bertanya apakah saya sendirian di kamar, maka jawabannya saya tidak pernah sendiri.

Saya tidak pernah sendirian.

Bahkan kalau mereka semua lenyap secara bersamaan dari ruangan saya, maka ada dua lagi yang hadir menemani saya: malaikat Rokib dan Atid yang mencatat amal. Mungkin saja mereka juga tidak sendiri. Seperti misalnya malaikat Atid membawa pasukannya atau Rokib yang minta ditemani malaikat lain untuk kepentingan pekerjaan. Secara tidak sadar, kita memang selalu merasa sendiri. Akan tetapi lihatlah dan sadarilah lagi, satu orang sendiri sama artinya dengan lebih dari satu atau mungkin bergerombol. Walau kenyataannya gerombolan kita tidak saling kenal dan menyapa seperti yang dilakukan cicak kepada kecoa.

Ehm...

Tetapi ketika saya berdua dengan pacar saya (yang tentu sangat saya sayangi) saya hanya merasa berdua saja. Saya pura-pura tak tahu kalau di sekitar saya banyak spesies dan makhluk dan apa pun yang bergerak dalam berbagai dimensi. Demi apa? Demi merasakan berdua itu romantis.

Monday, 21 August 2017

Jingga Sore yang Berlari ke Dekap Malam



Sore menguning berlarian menuju malam, tanpa tunggang langgang namun pasti menjadi gelap. Dua orang duduk menghadap saling memandang, masing-masing di atas kursi lipat dan meja ada di tengah-tengah mereka. Makanan di piring-piring plastik sudah habis. Tersisa air putih di gelas yang dituang dari botol terakhir. Di bawah mereka ada rerumputan yang hijau dan terlihar segar. Keduanya menjadi syahdu, beradu-padu dalam suasana yang mendayu.

“Aku menyukaimu gak peduli kamu manusia atau alien,” ucap si lelaki beriringan dengan tatap matanya yang berbinar.

“Benarkah?” jawab si perempuan tersenyum.

“Eh, tapi kalau ternyata kamu alien, aku pikir-pikir lagi deh.”

“Itu nggak mungkin. Aku ini manusia.”

“Benarkah? Coba kulihat wajahmu.” Si lelaki mendekat ke wajah si perempuan. Nyaris lekat. Disusurinya dengan tatap setiap bagian wajah si perempuan.

“Ah, sudah kelihatan juga.” Si perempuan agak berpaling karena malu ditatap seperti itu.

“Nggak, itu ada antenanya. Pasti kamu alien.”

“Ini kuncir dua tahu.”

“Ah, sial. Aku nggak nyadar.”

“Ih,”

Ada jeda sedikit saat sebelum akhirnya mereka melemparkan senyum satu sama lain. Awan-awan bergelayut melintasi mereka yang diam di satu titik dari luasnya rerumputan.

“Eh, tapi kamu cantik juga kalau dikuncir.” Ucap si lelaki yakin.

“Serius?”

“Aku bercanda.” Kemudian si lelaki tertawa.

“Beraninya kamu.”

“Maksudku aku ini bercanda kalau aku sedang bercanda.”

“Hahaha... permainan kata lagi.”

Si lelaki mengusap pipi kanan si perempuan dengan lembut, sebelum akhirnya berkata, “Hey, dengar kalau aku sedang memujimu.”

“Kalau gitu, jangan di depan orangnya. Nanti dia merasa bangga.”

“Berarti kamu sekarang bangga?”

“Menurutmu?”

“Aku bangga memilikimu.”

Si perempuan tersenyum, entah untuk keberapa kalinya. “Tapi hatiku masih disegel,” ucapnya setelah itu.

“Sampai kapan?”

“Sampai kamu yakin kalau aku bukan alien.”

“Aku menyukaimu gak peduli kamu manusia atau alien,” ucap si lelaki beriringan dengan tatap matanya yang berbinar.

“Benarkah?” jawab si perempuan tersenyum.

“Eh, tapi kalau ternyata kamu alien, aku pikir-pikir lagi deh.”

“Itu nggak mungkin. Aku ini manusia.”

“Benarkah? Coba kulihat wajahmu.” Si lelaki mendekat ke wajah si perempuan. Nyaris lekat. Disusurinya dengan tatap setiap bagian wajah si perempuan.

“Ah, sudah kelihatan juga.” Si perempuan agak berpaling karena malu ditatap seperti itu.

“Nggak, itu ada antenanya. Pasti kamu alien.”

 “Ini kuncir dua tahu.”

Ah, sial. Aku nggak nyadar.”

“Ih,”

Ada jeda sedikit saat sebelum akhirnya mereka melemparkan senyum satu sama lain. Awan-awan bergelayut melintasi mereka yang diam di satu titik dari luasnya rerumputan.

“Eh, tapi kamu cantik juga kalau dikuncir.” Ucap si lelaki yakin.

“Serius?”

“Aku bercanda.” Kemudian si lelaki tertawa.

“Beraninya kamu.”

“Maksudku aku ini bercanda kalau aku sedang bercanda.”

“Hahaha... permainan kata lagi.”

Si lelaki mengusap pipi kanan si perempuan dengan lembut, sebelum akhirnya berkata, “Hey, dengar kalau aku sedang memujimu.”

“Kalau gitu, jangan di depan orangnya. Nanti dia merasa bangga.”

“Berarti kamu sekarang bangga?”

“Menurutmu?”

“Aku bangga memilikimu.”

Si perempuan tersenyum, entah untuk keberapa kalinya. “Tapi hatiku masih disegel,” ucapnya setelah itu.

“Sampai kapan?”

“Sampai kamu yakin kalau aku bukan alien.”

“Aku menyukaimu gak peduli kamu manusia atau alien,” ucap si lelaki beriringan dengan tatap matanya yang berbinar.

“Benarkah?” jawab si perempuan tersenyum.

“Eh, tapi kalau ternyata kamu alien, aku pikir-pikir lagi deh.”

“Itu nggak mungkin. Aku ini manusia.”

“Benarkah? Coba kulihat wajahmu.” Si lelaki mendekat ke wajah si perempuan. Nyaris lekat. Disusurinya dengan tatap setiap bagian wajah si perempuan.

“Ah, sudah kelihatan juga.” Si perempuan agak berpaling karena malu ditatap seperti itu.

“Nggak, itu ada antenanya. Pasti kamu alien.”

“Ini kuncir dua tahu.”

“Ah, sial. Aku nggak nyadar.”

“Ih,”

Ada jeda sedikit saat sebelum akhirnya mereka melemparkan senyum satu sama lain. Awan-awan bergelayut melintasi mereka yang diam di satu titik dari luasnya rerumputan.

“Eh, tapi kamu cantik juga kalau dikuncir.” Ucap si lelaki yakin.

“Serius?”

“Aku bercanda.” Kemudian si lelaki tertawa.

“Beraninya kamu.”

“Maksudku aku ini bercanda kalau aku sedang bercanda.”

“Hahaha... permainan kata lagi.”

Si lelaki mengusap pipi kanan si perempuan dengan lembut, sebelum akhirnya berkata, “Hey, dengar kalau aku sedang memujimu.”

“Kalau gitu, jangan di depan orangnya. Nanti dia merasa bangga.”

“Berarti kamu sekarang bangga?”

“Menurutmu?”

“Aku bangga memilikimu.”

Si perempuan tersenyum, entah untuk keberapa kalinya. “Tapi hatiku masih disegel,” ucapnya setelah itu.

“Sampai kapan?”

“Sampai kamu yak—“

“Sebentar...” si lelaki mendaratkan telunjuknya ke bibir si perempuan, membuat percakapan mereka terhenti otomatis. “Aku tau apa yang akan kamu katakan. Kalau kamu mengatakannya, maka percakapan ini terus terulang dan tak kunjung berakhir.”

Hening.

“Sampai kamu yakin kalau aku bukan alien.”

--------

Langit dan awan yang bergelayut sudah hampir punah. Bertepi pada gelap yang menggantikan mereka. Pelarian sore sudah sampai pada keinginannya. Dan begitulah kisah mereka berdua. Percakapan terus berlanjut, waktu berjalan, dan hari berlalu. Keabadian adalah mereka berdua.

--------

“Aku sengaja terus menggiringmu ke percakapan yang tak berujung ini. Aku hanya tak ingin berakhir seperti yang kamu katakan. Aku ingin bersamamu gak peduli kamu manusia atau alien.”