Monday, 21 August 2017

Jingga Sore yang Berlari ke Dekap Malam



Sore menguning berlarian menuju malam, tanpa tunggang langgang namun pasti menjadi gelap. Dua orang duduk menghadap saling memandang, masing-masing di atas kursi lipat dan meja ada di tengah-tengah mereka. Makanan di piring-piring plastik sudah habis. Tersisa air putih di gelas yang dituang dari botol terakhir. Di bawah mereka ada rerumputan yang hijau dan terlihar segar. Keduanya menjadi syahdu, beradu-padu dalam suasana yang mendayu.

“Aku menyukaimu gak peduli kamu manusia atau alien,” ucap si lelaki beriringan dengan tatap matanya yang berbinar.

“Benarkah?” jawab si perempuan tersenyum.

“Eh, tapi kalau ternyata kamu alien, aku pikir-pikir lagi deh.”

“Itu nggak mungkin. Aku ini manusia.”

“Benarkah? Coba kulihat wajahmu.” Si lelaki mendekat ke wajah si perempuan. Nyaris lekat. Disusurinya dengan tatap setiap bagian wajah si perempuan.

“Ah, sudah kelihatan juga.” Si perempuan agak berpaling karena malu ditatap seperti itu.

“Nggak, itu ada antenanya. Pasti kamu alien.”

“Ini kuncir dua tahu.”

“Ah, sial. Aku nggak nyadar.”

“Ih,”

Ada jeda sedikit saat sebelum akhirnya mereka melemparkan senyum satu sama lain. Awan-awan bergelayut melintasi mereka yang diam di satu titik dari luasnya rerumputan.

“Eh, tapi kamu cantik juga kalau dikuncir.” Ucap si lelaki yakin.

“Serius?”

“Aku bercanda.” Kemudian si lelaki tertawa.

“Beraninya kamu.”

“Maksudku aku ini bercanda kalau aku sedang bercanda.”

“Hahaha... permainan kata lagi.”

Si lelaki mengusap pipi kanan si perempuan dengan lembut, sebelum akhirnya berkata, “Hey, dengar kalau aku sedang memujimu.”

“Kalau gitu, jangan di depan orangnya. Nanti dia merasa bangga.”

“Berarti kamu sekarang bangga?”

“Menurutmu?”

“Aku bangga memilikimu.”

Si perempuan tersenyum, entah untuk keberapa kalinya. “Tapi hatiku masih disegel,” ucapnya setelah itu.

“Sampai kapan?”

“Sampai kamu yakin kalau aku bukan alien.”

“Aku menyukaimu gak peduli kamu manusia atau alien,” ucap si lelaki beriringan dengan tatap matanya yang berbinar.

“Benarkah?” jawab si perempuan tersenyum.

“Eh, tapi kalau ternyata kamu alien, aku pikir-pikir lagi deh.”

“Itu nggak mungkin. Aku ini manusia.”

“Benarkah? Coba kulihat wajahmu.” Si lelaki mendekat ke wajah si perempuan. Nyaris lekat. Disusurinya dengan tatap setiap bagian wajah si perempuan.

“Ah, sudah kelihatan juga.” Si perempuan agak berpaling karena malu ditatap seperti itu.

“Nggak, itu ada antenanya. Pasti kamu alien.”

 “Ini kuncir dua tahu.”

Ah, sial. Aku nggak nyadar.”

“Ih,”

Ada jeda sedikit saat sebelum akhirnya mereka melemparkan senyum satu sama lain. Awan-awan bergelayut melintasi mereka yang diam di satu titik dari luasnya rerumputan.

“Eh, tapi kamu cantik juga kalau dikuncir.” Ucap si lelaki yakin.

“Serius?”

“Aku bercanda.” Kemudian si lelaki tertawa.

“Beraninya kamu.”

“Maksudku aku ini bercanda kalau aku sedang bercanda.”

“Hahaha... permainan kata lagi.”

Si lelaki mengusap pipi kanan si perempuan dengan lembut, sebelum akhirnya berkata, “Hey, dengar kalau aku sedang memujimu.”

“Kalau gitu, jangan di depan orangnya. Nanti dia merasa bangga.”

“Berarti kamu sekarang bangga?”

“Menurutmu?”

“Aku bangga memilikimu.”

Si perempuan tersenyum, entah untuk keberapa kalinya. “Tapi hatiku masih disegel,” ucapnya setelah itu.

“Sampai kapan?”

“Sampai kamu yakin kalau aku bukan alien.”

“Aku menyukaimu gak peduli kamu manusia atau alien,” ucap si lelaki beriringan dengan tatap matanya yang berbinar.

“Benarkah?” jawab si perempuan tersenyum.

“Eh, tapi kalau ternyata kamu alien, aku pikir-pikir lagi deh.”

“Itu nggak mungkin. Aku ini manusia.”

“Benarkah? Coba kulihat wajahmu.” Si lelaki mendekat ke wajah si perempuan. Nyaris lekat. Disusurinya dengan tatap setiap bagian wajah si perempuan.

“Ah, sudah kelihatan juga.” Si perempuan agak berpaling karena malu ditatap seperti itu.

“Nggak, itu ada antenanya. Pasti kamu alien.”

“Ini kuncir dua tahu.”

“Ah, sial. Aku nggak nyadar.”

“Ih,”

Ada jeda sedikit saat sebelum akhirnya mereka melemparkan senyum satu sama lain. Awan-awan bergelayut melintasi mereka yang diam di satu titik dari luasnya rerumputan.

“Eh, tapi kamu cantik juga kalau dikuncir.” Ucap si lelaki yakin.

“Serius?”

“Aku bercanda.” Kemudian si lelaki tertawa.

“Beraninya kamu.”

“Maksudku aku ini bercanda kalau aku sedang bercanda.”

“Hahaha... permainan kata lagi.”

Si lelaki mengusap pipi kanan si perempuan dengan lembut, sebelum akhirnya berkata, “Hey, dengar kalau aku sedang memujimu.”

“Kalau gitu, jangan di depan orangnya. Nanti dia merasa bangga.”

“Berarti kamu sekarang bangga?”

“Menurutmu?”

“Aku bangga memilikimu.”

Si perempuan tersenyum, entah untuk keberapa kalinya. “Tapi hatiku masih disegel,” ucapnya setelah itu.

“Sampai kapan?”

“Sampai kamu yak—“

“Sebentar...” si lelaki mendaratkan telunjuknya ke bibir si perempuan, membuat percakapan mereka terhenti otomatis. “Aku tau apa yang akan kamu katakan. Kalau kamu mengatakannya, maka percakapan ini terus terulang dan tak kunjung berakhir.”

Hening.

“Sampai kamu yakin kalau aku bukan alien.”

--------

Langit dan awan yang bergelayut sudah hampir punah. Bertepi pada gelap yang menggantikan mereka. Pelarian sore sudah sampai pada keinginannya. Dan begitulah kisah mereka berdua. Percakapan terus berlanjut, waktu berjalan, dan hari berlalu. Keabadian adalah mereka berdua.

--------

“Aku sengaja terus menggiringmu ke percakapan yang tak berujung ini. Aku hanya tak ingin berakhir seperti yang kamu katakan. Aku ingin bersamamu gak peduli kamu manusia atau alien.”
 

Wednesday, 2 August 2017

Pakanira



Adalah aku yang ingin mengubah sesuatu yang orang selalu katakan
Yakni mengganti kata-kata klise yang tak punya padanan
Penyebab orang-orang mundur sebelum melakukan

Ketika bola mata memindai panorama, aku tamasya di beranda ragamu
Meretas paras dengan telusur jariku, menyapu lembut di sepanjang raut
Menyusuri telapak lengan serta merta menjangkau jemari
Tetiba aku berhenti saat kepalamu menelisik pundakku
Dan bibirku yang dibisiki keningmu hendak jatuh jua pada pangkuannya
Sehingga kita lupa dari mana ini bermula

Aku mau semua yang diragukan segera ditanggalkan
Seperti matahari yang menjadi bulan ketika ia menelanjangi tubuhnya
Seperti merah padam di pipi ketika wajah membedah ronanya
Demi apa pun, kebebasan pun akan menopang hal-hal yang menjadi batas
Selayak awan berkelana tanpa jatuh pada daratan
Berporos tanpa mengingkari lintasannya

Seandainya semua sebatas umpama, biar pernyataan nyaris hilang hakikatnya
Merangkum ucapan-ucapan sepanjang hikayat yang belakangan tak lagi tajam
Memenjarakan huruf-huruf yang semestinya hilang dari peradaban
Tetapi terlepas dari terjadi atau tidak, teguhlah pada apa yang kau minta: kecupan


Wednesday, 28 June 2017

Baris Kontemplasi (Bagian I)

Jangan berhenti di satu.
Sebab kita bukan diciptakan untuk merasa puas.
Jangan mengharap tak terhingga.
Sebab kita memang diciptakan untuk bersyukur.

Tuesday, 13 June 2017

Daksa Renjana



Masih seputar tentangmu, yang selalu menghujani mimpiku di atas tempat tidur yang kering. Dan lihat bagaimana aku tersungkur kembali pada kesadaranku karena hentakan mimpi jauh lebih ekstrim dari yang kita kira. Kemudian kulihat tubuhku nyata pada dimensi ini. Aku melihat kenyataan terasa berkali-lipat sejak kau ada di dalamnya.

Dua empat lima dini hari. Memikirkanmu telah menjadi prosedur wajib. Aku tak pernah lagi memikirkan hal yang tak perlu. Karena di luar itu, urusan selain dirimu, biarlah orang lain yang urus. Maka, sementara orang lain mengurusi hal yang tak perlu, aku sampaikan padamu warta mengenai keberanian yang aku kumpulkan sedari pertemuan kita di antahberantah.

Apa kau sempat mengamati, kesendirian membuatmu mati. Bersama orang-orang dan berkas-berkas yang kaubuang dari masa lampau. Namun abunya kau simpan juga dalam pikiranmu yang majemuk, mengakar, dan terbakar. Lalu aku tiba sendirian; di hatimu yang telah lama ditinggalkan pemiliknya. Membawa buah tangan; serupa niskala absah yang pernah terkikis dengan sendirinya.

Aku datang dan menyentuh hidupmu. Kugapai kau pada porosnya utopis. Seumpama kau masih samar untuk memahami, lihatlah pada semua hal yang pernah terjadi. Ada semesta membantu meraih jarak, yang sulit kita lalui jika dengan ekspedisi disengaja. Ada waktu yang mau bersekutu, merundingkan urusan yang bersangkut-paut atas kau dan aku. Dan latar kita berada, melengkapi balada cerita kita. Tanpa jeda. Tanpa drama yang menyakitkan mata.

Aku ingin kau mengerti kelak apa yang kusampaikan bukanlah soal bualan. Aku tak ingin ini menjadi sebagai sebuah kemungkinan dan berhenti begitu saja dengan setumpuk pertanyaan. Dalam sebuah logika, kemungkinan hanya akan menjadi cabang dari berbagai ketidakpastian. Cabang-cabang itu yang hanya akan mengundang keraguan, yang justru seharusnya tak perlu dibangunkan. Jika sumpah adalah hal lumrah, maka akan kulakukan berkali-kali setiap kali kecemasanmu datang menyergah.

Masih ada banyak sekali yang ingin kusampaikan, khususnya yang berkaitan dengan dirimu. Tentang bagaimana akhirnya kita beradu pandang. Di malam yang berlalu dan pada waktu yang memburu. Tentang hal yang tak sempat kuceritakan, pada baris kata dan bahasa yang melarut. Namun pijak kata telah pudar sedari tadi. Pondasi sebagai jantung rapsodi mendadak layu saat keinginanku kumat lagi. Aku butuh ruang pertemuan untuk mewakili semua kata-kata yang tak mampu lagi disematkan. Tanpa pertemuan, rindu akan selalu seperti dendam: jika tak terbalaskan ia akan terus bersemayam.

Kini sadarilah bahwa kita terangkai nyata. Selagi daksa dibuai renjana, tanyakan pada hari-hari yang menunggu di depan, sudikah ia kulewati bersamamu?

Sunday, 4 June 2017

Imperfeksi Nalar



 

Lalu dari mana sinyal ini berasal?

Tetiba sinyal memancar tanpa permisi ketika sore sedang mendung-mendungnya. Masuk ke ruanganku melalui celah yang tidak kuperhatikan. Bergerak menyelinap ke dalam hati dan terkoneksi otomatis. Lalu dari mana sinyal ini berasal?

Aku merasakan sesuatu yang asing masuk bergerak, mengendalikan keinginanku untuk berpikir dalam. Mengubah atmosfer sama sekali, seratus delapan puluh derajat berbeda. Aku menelusuri asal-muasal pancaran ini lewat instingku yang tak berdasar. Lalu dari mana sinyal ini berasal?

Dari lorong benak, kupintaskan destinasiku lewat sebuah pertanyaan. Itukah kau? Dan kau tidak berkata ya maupun bukan. Lalu darimana sinyal ini berasal?

Anganku melambung seketika tentang muram durja yang pernah kuduga—hanya dugaan. Aku tak dapat menerjemahkan bahasamu; tentang simbol yang membiru, tentang seruan makna ambigu, tentang karam dalam diam yang membuatku mendadak gagu. Itukah kau?

Aku mendengar vokalis The Brandals meneriakkan lirik “Berkali-kali kau buat tidurku tak nyenyak” dalam speaker ber-volume sedang. Kemudian ingin kubesarkan sampai memenuhi ruangan. Aku melihat gambar tanda tanya pada baju ‘Guess’ yang dipakai seseorang. Rentetan pertanyaanku serta belagak mencari tahu penyebab telah membuatku merasa konyol. Tetapi dari mana sinyal ini berasal? Itukah kau?

Menjadi peduli seperti ini sangat bukan gayaku. Telah berlangsung lama aku tak pernah menunjukannya pada siapa pun. Tetapi kepadamu aku sangat tak bisa menahan diri, bahkan hal kecil, remeh-temeh, atau apa pun kau sebut itu. Meski yang kulakukan saat ini adalah memaksakan kehendakku untuk menggali apa pun tentangmu. Pada akhirnya aku membenarkanmu; hanya karena terbiasa mendengarkanmu, bukan berarti aku selalu merasa berhak untuk tahu.

Sekiranya kau tahu mengapa aku merasa begitu. Mengapa aku melakukan ini. Tapi aku pun tak tahu. Mengapa aku merasa begitu. Hanya bisa melakukan ini. Entah berasal darimu atau bukan datangnya sinyal ini, yang pasti ia telah membawaku sampai ke sini.

Lekas Bangun. Ayo kita pergi dari hal-hal yang membuat kita begini.